Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Potensi Industri Farmasi Besar, BPOM Dorong Pengembangan Obat Herbal

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar diwawancarai di sela Rakernas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia di Hotel Claro, Makassar, Rabu (27/8/2025). (IDN Times/Asrhawi Muin)
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar diwawancarai di sela Rakernas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia di Hotel Claro, Makassar, Rabu (27/8/2025). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Makassar, IDN Times - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyoroti besarnya potensi industri farmasi Indonesia, yang mencakup kapasitas produksi obat modern di seluruh negeri. Selain itu, dia menekankan peluang besar dari pengembangan obat herbal berbasis kekayaan sumber daya alam Indonesia.

Data dari BPOM menunjukkan Indonesia memiliki 272 pabrik industri obat yang aktif memproduksi berbagai jenis farmasi. Selain itu, terdapat 3.009 perusahaan farmasi besar dan lebih dari puluhan ribu apotek serta toko obat yang tersebar di seluruh wilayah negeri.

"Apotek-apotek dan toko obat terhadap instalasi kefarmasian kita, itu 60.000-an lebih se-Indonesia," kata Taruna saat memberikan keterangan usai menghadiri Rakernas Ikatan Apoteker Indonesia di Hotel Claro, Makassar, Kamis (28/8/2025).

1. Indonesia miliki potensi Rp350 triliun dari obat herbal

ilustrasi obat herbal (unsplash.com/Katherine Hanlon)
ilustrasi obat herbal (unsplash.com/Katherine Hanlon)

Selain sektor industri farmasi modern, Taruna juga menegaskan bahwa Indonesia kaya akan sumber daya alam yang berpotensi dijadikan bahan obat herbal. Kekayaan ini menjadi dasar pengembangan obat tradisional dan fitofarmaka yang bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.

"Kita lihat potensi negara kita juga luar biasa besarnya untuk pengembangan ekstrak obat dari Sumber Daya Alam, contohnya jamu," kata Taruna. 

Dari sekitar 30.000 jenis tumbuhan berpotensi obat, 17.200 di antaranya telah diakui sebagai obat asli Indonesia. Dari jumlah tersebut, 78 sudah terstandar sebagai obat herbal, sementara 21 berhasil dikembangkan menjadi fitofarmaka dengan kualitas yang memenuhi standar farmasi.

"Sangat besar dengan dia punya revenue-nya. Kita pikirkan dari obat herbal terstandar ini saja. Itu ada Rp350 triliun. Besar sekali potensi pasar ini. Tapi ini belum digarap," kata Taruna.

2. BPOM dorong riset farmasi untuk kuasai pasar domestik dan global

Ilustrasi farmasi (freepik.com/aleksandarlittlewolf)
Ilustrasi farmasi (freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Taruna menekankan pentingnya penguatan riset dan pengembangan di industri farmasi nasional. Dia juga mendorong peningkatan kualitas produk agar sektor ini mampu mendominasi pasar domestik sekaligus bersaing di kancah internasional.

Ilmu kefarmasian, kata dia, diharapkan berkembang ke arah penelitian ekstrak dan produk berbasis sumber daya alam untuk memanfaatkan potensi pasar yang besar. Namun, pengembangan ini harus seiring dengan kemajuan teknologi terbaru agar tidak tertinggal dari perkembangan global.

"Misalnya ilmu-ilmu tentang terapi genetik atau pengobatan genetik, manipulasi rekayasa sel genetik, sel kultur, transplantasi termasuk terapi-terapi berbasis sel. Itu menjadi potensi besar pasar yang dibutuhkan rakyat kita dan ini perlu diayomi oleh ilmuwan," katanya.

3. Industri farmasi Indonesia masih bergantung impor

Ilustrasi Farmasi (pexels.com/MART  PRODUCTION)
Ilustrasi Farmasi (pexels.com/MART PRODUCTION)

Hanya saja, dari 272 industri farmasi yang memiliki pabrik di Indonesia, hanya 194 yang efektif memproduksi dengan baik. Sisanya, sebanyak 78 pabrik, masih memerlukan pengembangan dan dukungan agar kapasitas produksinya optimal.

"Kenapa? Karena pada umumnya produk kita seperti yang dipaparkan tadi, 90 persen obat kita, bahkan bahan bakunya masih impor. Itulah yang membuat impor kita sangat besar 3 kali lipat dibanding ekspor kita," kata Taruna. 

Jumlah ekspor obat Indonesia tercatat sebesar Rp67 triliun, sementara impor mencapai Rp176 triliun, jauh melebihi nilai ekspor. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk memperbaiki sistem industri farmasi agar lebih sehat dan mandiri.

"Oleh karena itu, saya sebagai kepala BPOM memberikan sertifikasi yang kita sebut Cara Pembuatan Obat yang Baik. Kemudian, monitoring dan evaluasinya kami rajin datang ke industri-industri farmasi untuk pendampingan dan men-support mereka," katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us