- Rumah hilang: 30 unit
- Rumah rusak berat: 52 unit
- Rumah rusak sedang: 29 unit
- Rumah rusak ringan: 89 unit
- Kantor pemerintahan: 1 unit
- Kios: 1 unit
- Bengkel: 1 unit
- Sekolah: 3 unit
206 Bangunan Terdampak Banjir Bandang Pulau Siau Sulawesi Utara

- Sebanyak 206 bangunan terdampak, termasuk 30 rumah hilang dan 3 sekolah rusak.
- Banjir bandang di Pulau Siau disebabkan oleh gunung api aktif, yang membuatnya rawan banjir dan tanah longsor.
- Gubernur Sulut imbau warga direlokasi.
Manado, IDNTimes - Satu dari tiga korban banjir bandang yang hilang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, akhirnya ditemukan, Rabu (7/1/2026). Ia adalah seorang balita bernama Clayton Azriel Tatambihe (2).
Korban ditemukan tewas oleh Tim SAR Gabungan di Kampung Sanumpito, Desa Laghaeng, Kecamatan Siau Barat Selatan sekitar pukul 11.00 WITA. "Berdasarkan ciri fisik dan keterangan keluarga, benar bahwa korban adalah Clayton Azriel Tatambihe," jelas Kapolres Sitaro, AKBP Iwan Permadi.
Total ada 17 korban jiwa dalam peristiwa ini. Selain itu 18 orang terluka dan 2 masih belum ditemukan.
1. Sebanyak 206 bangunan terdampak

Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sitaro, ada 206 bangunan yang terdampak. Satu di antaranya adalah Mapolres Sitaro.
"Tiga sekolah juga dinyatakan rusak, yaitu TK Jiwa Bahu, TK Batusenggo, dan SDN Batusenggo," kata Kepala BPBD Sitaro, Joickson Sagune.
Berikut data lengkapnya:
2. Terbentuk dari gunung api aktif

Dosen Geologi Universitas Prisma Manado sekaligus Ahli Geomorfologi, Agus Santoso Budiharso, mengatakan bahwa banjir bandang di Pulau Siau berbeda dengan Sumatera. Pasalnya Pulau Siau masih memiliki hutan dan tidak ada tambang maupun perkebunan monokultur.
Namun karena Pulau Siau tersusun dari material Gunung Api Karangetang yang aktif, maka kondisinya rawan mengalami banjir dan tanah longsor. Topografinya terjal, memiliki relief yang kasar, dan ada perbedaan ketinggian yang tajam antara puncak dan pesisir.
"Kemudian jika hujan berintensitas tinggi dan durasinya panjang, tanah vulkanik cepat mencapai kejenuhan sehingga kekuatannya menurun dan akar vegetasi kehilangan daya ikatnya dan bisa menjadi material banjir bersama sedimen vulkanik," tuturnya.
3. Gubernur berencana relokasi warga terdampak

Gubernur Sulut, Yulius Selvanus, mengunjungi Pulau Siau pada Selasa, 6 Januari 2026. Di sana ia memastikan kebutuhan para pengungsi.
Bagi warga yang rumahnya hilang, maka akan direlokasi. Namun, Yulius tak menutup kemungkinan bahwa warga Pulau Siau akan direlokasi seluruhnya mengingat potensi bencana serupa bisa terjadi lagi.
"Saya sudah sarankan agar warga direlokasi dari sini karena saya lihat potensi bencana seperti ini bisa datang lagi," ujar Yulius.


















