904 Bencana Terjadi di Sulsel Sepanjang 2025, Kerugian Capai Rp35,6 M

- Sebanyak 11.676 rumah dan 11.878 sarana umum rusak, dengan total kerugian materiil mencapai Rp35.622.424.000.
- Angin kencang menjadi bencana paling sering terjadi sebanyak 277 kejadian, diikuti oleh kebakaran, tanah longsor, dan banjir.
- Respons tim BPBD di lapangan sudah berjalan cukup optimal meski masih menghadapi kendala jumlah personel yang terbatas serta sarana-prasarana yang belum memadai.
Makassar, IDN Times - Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat 904 kejadian bencana sepanjang Januari hingga Desember 2025. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel menunjukkan intensitas bencana tergolong tinggi dan terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota.
Dari ratusan kejadian tersebut, 15 orang meninggal dunia dan 42 orang mengalami luka-luka. Dampak korban jiwa tercatat lebih rendah dibandingkan jumlah kejadian yang terjadi selama setahun penuh.
Kejadian kebakaran menimbulkan korban jiwa terbanyak, yakni 9 meninggal dan 16 luka-luka, serta kerugian materiil Rp23,6 miliar. Lalu, banjir berdampak luas pada rumah dan pertanian, dengan 8.565 rumah dan 4.508,55 hektar sawah terdampak, menimbulkan kerugian mencapai Rp6,1 miliar.
1. Sebanyak 11.676 rumah dan 11.878 sarana umum rusak

Selain korban jiwa, bencana sepanjang 2025 juga berdampak besar pada kerusakan fisik. BPBD mencatat 11.676 rumah dan 11.878 sarana umum mengalami kerusakan, mulai dari fasilitas pendidikan (91 unit), tempat ibadah (51 unit), fasilitas kesehatan (24 unit), perkantoran (36 unit) hingga infrastruktur jalan sepanjang 4.969,5 meter dan 40 jembatan rusak.
Total kerugian materiil ditaksir mencapai Rp35.622.424.000. Nilai tersebut berasal dari akumulasi kerusakan permukiman warga, fasilitas publik, serta lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi dan nonhidrometeorologi.
2. Kejadian angin kencang jadi yang terbanyak

Bencana yang paling sering terjadi adalah angin kencang, disusul kebakaran, tanah longsor, dan banjir. Angin kencang tercatat sebanyak 277 kejadian, merusak 1.369 rumah, dan menimbulkan kerugian Rp4,25 miliar.
Kepala BPBD Sulsel, Amson Padolo, menyebut angin kencang mendominasi bencana selama musim hidrometeorologi. Fenomena ini terjadi hampir merata di seluruh wilayah Sulawesi Selatan, memengaruhi banyak kabupaten dan kota.
"Angin kencang ini kan yang di musim hidrometerologi ini kan memang angin kencang yang sangat dominan. Banyak kejadian dan ini memang merata di semua kabupaten kota," kata Amson saat diwawancarai IDN Times via telepon, Kamis (8/1/2026).
Selain angin kencang, ada pula kejadian kebakaran 253 kali, tanah longsor 192 kali, dan banjir 101 kali. Bencana lain yang tercatat meliputi angin puting beliung, abrasi, cuaca ekstrem, tanah bergerak, banjir bandang, karhutla, gempa bumi, dan kekeringan, sehingga total kejadian mencapai 904 kali.
3. Respons tim BPBD optimal meski masih ada kendala

Amson menilai upaya penanganan di lapangan sudah berjalan cukup optimal. Upaya tersebut berhasil meminimalisir kerugian, baik dari sisi harta maupun korban jiwa saat bencana terjadi.
Meski respons tim sudah maksimal, mereka tetap menghadapi sejumlah keterbatasan. Beberapa kendala utama meliputi jumlah personel yang terbatas serta sarana-prasarana yang belum sepenuhnya memadai.
"Jumlah personil setiap kabupaten kota yang masih belum cukup untuk meng-cover wilayah, sarana dan prasarana yang belum cukup dan dukungan anggaran operasional yang mungkin belum optimal sehingga memberi dampak dalam mobilitas," kata Amson.


















