Comscore Tracker

Peristiwa Cendrawasih, Percobaan Pembunuhan Soekarno di Makassar

Wali Kota Daeng Patompo sempat menyamar sebagai Bung Besar

Makassar, IDN Times - Tokoh proklamator Ir Soekarno kembali ramai dikenang jelang hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus. Tak hanya berjasa mengantar Indonesia ke gerbang kemerdekaan, Bung Besar juga dikenal sebagai pemimpin terkemuka gerakan nasionalis selama periode kolonial Belanda.

Soekarno menjabat presiden pertama Indonesia setelah Belanda mengakui kedaulatan sebagai negara pada akhir Desember 1949. Setelah turun takhta pada 1967, Bapak Bangsa meninggal tiga tahun berselang.

Di balik kiprah Soekarno, tahukah kamu bahwa dia pernah menghadapi beberapa kali percobaan pembunuhan?

Salah satu upaya pembunuhan terjadi di Jalan Cendrawasih Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu malam, 7 Januari 1962. Saat itu, Bung Karno yang sedang dalam iring-iringan kendaraan menuju Gelanggang Olahraga Mattoanging, dilempari granat. Bung Karno beruntung, karena ledakan granat meleset dari mobil yang dia ditumpangi. Namun tidak demikian dengan puluhan orang di tepi jalan yang dikabarkan terluka akibat kejadian itu.

Peristiwa pelemparan granat diceritakan mantan pengawal Bung Karno, Bambang Widjanarko dalam buku Sewindu Dekat Bung Karno (1988). Bambang menulis, saat kejadian waktu menunjukkan pukul 18.55 Wita dan matahari sudah satu jam lalu terbenam.

"Penerangan jalan saat itu memang masih kurang, kegelapan malam menutup remang kanan kiri jalan. Dengan sangat tiba-tiba terlihat cahaya berkilat bersamaan dengan terdengarnya ledakan dahsyat dekat di depan mobil yang kami naiki. Langsung saya mengerti bahwa itu adalah ledakan sebuah granat," kata Bambang. (hal. 92).

Baca Juga: 6 Potret Makam Pangeran Diponegoro, Menengok Sejarah Perjuangan Bangsa

1. Pelemparan terjadi dalam perjalanan dari gubernuran

Peristiwa Cendrawasih, Percobaan Pembunuhan Soekarno di MakassarRepro Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat

Bambang  mengisahkan, pada malam kejadian Bung Karno sedang dalam perjalanan dari rumah jabatan gubernur untuk berpidato di depan ribuan massa di GOR Mattoanging (kini Stadion Andi Mattalatta). Lokasinya ratusan meter dari ledakan di Jalan Cendrawasih.

Bung Karno menumpang mobil didampingi Gubernur Sulsel AA Rivai. Urutan iring-iringan terdiri dari sepeda motor sebagai voor rijders, sebuah jip Dewan Kawal Pribadi (DKP), mobil Indonesia 1, sebuah jip lagi diisi DKP, dan ditutup sepeda motor. Di dalam mobil, Bung Karno duduk di kursi kanan belakang dan Gubernur di kirinya. Pengemudi di depan kanan, sedangkan Bambang di sebelah kirinya.

Jarak dari gubernuran ke GOR Mattoanging tidak jauh, namun rombongan mengambil jalur memutar. Dari gubernuran, mobil menembus sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, lalu belok menuju gedung RRI di tepi pantai, lalu melintasi Jalan Cendrawasih menuju GOR.

2. Ledakan tidak disadari orang-orang di GOR

Peristiwa Cendrawasih, Percobaan Pembunuhan Soekarno di Makassarpersgroep.net

Saat terjadi ledakan, Bambang Widjanarko seketika meminta Bung Karno untuk merebahkan badan. Semua kendaraan di depan berhenti. Dengan membungkukkan badan dan memegang pistol kecil, Bambang membuka pintu dan keluar dari mobil.

Semua anggota DKP sudah meloncar dari kendaraan dan siap siaga melindungi Presiden. Tapi tidak ada serangan susulan, suasana hening. Bambang memerintahkan rombongan konvoi untuk jalan terus menuju tempat tujuan.

“Rupanya di gedung olahraga itu tak seorang pun mengetahui kejadian yang baru lewat beberapa menit lalu, tak ada yang mendengar ledakan granat dan tentu saja suasana genting mencekam tidak mereka rasakan,” tulis Bambang.

“BK (Bung Karno) turun dari mobil dengan muka cerah melempar senyum, berjabatan tangan dengan para pejabat tinggi setempat dan terus berjalan gagah menuju ruangan. Menggelegar menggemuruh massa menyambut kedatangan BK, dengan teriakan serempak, hidup Bung Karno, Hidup Bung Karno, tiada henti-hentinya.”

3. Wali Kota Makassar menyamar jadi Bung Karno

Peristiwa Cendrawasih, Percobaan Pembunuhan Soekarno di MakassarWikipedia

Usai acara di GOR Mattoanging berlangsung aman, operasi tahap selanjutnya segera dilaksanakan: memastikan Bung Karno pulang dengan selamat. Saat pembawa acara mengumumkan sang presiden akan meninggalkan ruangan, semua hadirin diminta tetap berada di tempat dan tidak bergerak sebelum konvoi kendaraan rombongan berangkat.

Konvoi resmi  disiapkan menurut kebiasaan, lengkap dengan voor rijders dan jip pengawal. Bedanya, dalam mobil Indonesia 1 duduk Wali Kota Makassar Muhammad Daeng Patompo. Dia yang berbadan gagah lengkap dengan peci hitam menyamat sebagai Bung Karno, didampingi dua pejabat lain yang menyamar sebagai gubernur dan ajudan.

Dengan suara sirine mengaung konvoi resmi ini berangkat melalui rute yang direncanakan, yakni kembali melalui Jalan Cendrawasih menuju ke gubernuran. Kali ini Bung Karno, Gubernur, dan Bambang naik di mobil biasa yang berjalan di belakang jip kawal pribadi.

“Sekali lagi dalam usaha melindungi dan membawa BK dengan selamat kembali ke gubernuran tersebut, BK menyerahkan 100 persen pelaksanaan taktis dan teknisnya kepada para pembantunya. Ia percaya penuh bahwa semua aparat keamanan akan melindungi dan membawanya ke tempat yang aman sehingga ia dapat terus melaksanakan tugasnya,” Bambang menceritakan.

4. Dua pelaku dihukum mati

Peristiwa Cendrawasih, Percobaan Pembunuhan Soekarno di MakassarBung Karno Penyambung Lidah Rakyat

Peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno di Jalan Cendrawasih Makassar bukan yang pertama atau terakhir. Dia beberapa kali merasakan hal serupa. Termasuk dua tahun sebelumnya, saat dia dilempari mortir dalam perjalanan antara lapangan terbang Mandai ke Makassar.

Untuk kasus Peristiwa Cendrawasih, dua orang pelaku dinyatakan bersalah atas rencana pembunuhan dan pelemparan granat terhadap Presiden Soekarno. Mereka dijatuhi hukuman mati. Masing-masing Ida Bagus Surya Tenaya, dan Sersim Mayor Marcus Octavianus Latuperisa.

Wartawan senior Rosihan Anwar, dalam catatan yang dikutip dari buku Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965, mengatakan bahwa sidang vonis Ida Bagus digelar Mahkamah Angkatan Darat Dalam Keadaan Perang (Mahadper) untuk Indonesia Bagian Timur, pada 22 November 1962.

“Si terhukum Ida Bagus Surya Tenaya dalam komplotan itu berkedudukan sebagai Koordinator RPI (Republik Persatuan Indonesia) sebagai lanjutan dari PRRI/Permesta dengan pangkat Kolonel. Ia dilahirkan di Singaraja dan beragama Hindu-Bali."

Baca Juga: 6 Rencana Pembunuhan yang Bayangi Soekarno

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Just For You