Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bulog Sulselbar Waspadai Dampak Geopolitik Global pada Minyak Goreng

Kota Makassar
Bulog Sulselbar Waspadai Dampak Geopolitik Global pada Minyak Goreng
ilustrasi minyak goreng (IDN Times/Debbie Sutrisno)
Share Article

Makassar, IDN Times - Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) menilai fluktuasi harga pangan, khususnya minyak goreng, masih berpotensi terjadi hingga akhir 2026. Salah satu faktor yang diwaspadai adalah kondisi geopolitik global yang dinilai belum sepenuhnya stabil.

Kepala Wilayah Perum Bulog Kanwil Sulselbar, Fahrurozi, mengatakan kondisi geopolitik global masih menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi harga pangan. Menurut dia, konflik yang terjadi di sejumlah negara dapat berdampak pada stabilitas harga berbagai komoditas, termasuk minyak goreng.

"Kemungkinan itu tetap ada karena suasana geopolitik belum saat ini belum normal betul-betul 100 persen. Ancaman geopolitik terkait adanya war Iran dan Amerika yang saat ini boleh dikatakan mereda, tapi itu bukan berarti nanti ke depan tidak ada," kata Fahrurozi, Sabtu (25/7/2026).

1. Bulog pastikan harga minyak goreng tetap dijaga

ilustrasi minyak goreng (dok. IDN Times)
ilustrasi minyak goreng (dok. IDN Times)

Meski masih ada potensi gejolak global, Fahrurozi menegaskan Bulog akan terus menjaga stabilitas harga minyak goreng. Salah satu upayanya melalui intervensi pasar agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat.

"Kalaupun itu tetap ada, tapi yang jelas komitmen dari pemerintah melalui Bulog tetap akan berusaha untuk memastikan bahwa harga minyak itu bisa stabil dan eh bisa terjangkau oleh masyarakat," katanya.

Bulog juga terus bekerja sama dengan produsen minyak goreng dalam penyaluran minyak goreng skema Domestic Market Obligation (DMO). Penyaluran tersebut berlangsung secara berkala ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

2. Bulog gelontorkan 1,5 juta liter minyak goreng setiap dua pekan

ilustrasi minyak goreng kemasan (IDN Times/Sunariyah)
ilustrasi minyak goreng kemasan (IDN Times/Sunariyah)

Untuk menjaga pasokan di pasar, Bulog secara rutin menyalurkan sekitar 1,5 juta liter minyak goreng setiap dua minggu. Saat ini, stok minyak goreng yang tersedia di gudang Bulog mencapai sekitar 1,4 juta liter.

Menurut Fahrurozi, langkah tersebut bertujuan menjaga ketersediaan pasokan minyak goreng di pasar. Dengan begitu, lonjakan harga di tingkat konsumen dapat diantisipasi.

"Setiap bulan hampir terus kami pantau pergerakannya dan kami terus salurkan, sekitar1,5 juta liter terus kami gelontorkan setiap 2 minggu sekali untuk mengantisipasi kenaikan harga," katanya.

3. Intervensi pasar difokuskan pada semester kedua

Ilustrasi minyak goreng. (IDN Times/Rohmah Mustaurida).
Ilustrasi minyak goreng. (IDN Times/Rohmah Mustaurida).

Fahrurozi mengatakan pada semester kedua 2026, Bulog akan lebih memfokuskan distribusi minyak goreng ke pasar-pasar dibandingkan menjadikannya bagian dari paket bantuan pangan. Hal itu berdasarkan evaluasi semester pertama, ketika minyak goreng lebih banyak disalurkan melalui bantuan pangan sehingga pasokan di pasar dinilai berkurang.

"Kemarin kan minyak kami fokuskan untuk bantuan pangan, ternyata di pasarnya yang kurang. Nah, kami sekarang bantuan pangannya tidak, tapi pasarnya yang akan kami intervensi," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More