Antrean BBM di Makassar Merembet ke Pertamini, Stok Bensin Cepat Habis

- Antrean BBM di Makassar pada 11 September 2026 meluas dari SPBU ke sejumlah Pertamini, dengan banyak penjual di beberapa ruas jalan kehabisan bensin atau menutup booth.
- Di Pertamini Jalan Abdullah Daeng Sirua, stok sekitar 30 liter per kiriman habis kurang dari lima menit sejak tersedia, sementara warga umumnya membeli BBM senilai Rp20 ribu.
- Warga beralih ke Pertamini karena antrean SPBU sangat panjang, tetapi tetap gagal mengisi saat stok cepat habis dan berharap gangguan antrean tidak berlangsung lama.
Makassar, IDN Times - Antrean BBM di Kota Makassar tak hanya terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Pada Jumat (11/9/2026), antrean juga terlihat di sejumlah Pertamini yang menjadi pilihan warga untuk mendapatkan bensin tanpa harus mengantre panjang di SPBU.
Pantauan IDN Times di Jalan Pandang Raya, Jalan Adyaksa Baru, Jalan Abdullah Daeng Sirua, Jalan Pettarani, hingga Jalan Prof. Abdurrahman Basalamah, sejumlah Pertamini kehabisan stok bensin. Beberapa penjual memasang tulisan 'bensin habis', sementara lainnya menutup booth menggunakan kain.
Kondisi tersebut membuat warga yang hendak mengisi BBM harus mencari penjual lain. Padahal, Pertamini selama ini menjadi alternatif karena proses pengisian biasanya lebih cepat dibandingkan antre di SPBU.
1. Antrean mengular dan bensin langsung habis

Salah satu booth Pertamini di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (11/9/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Di Pertamini Jalan Abdullah Daeng Sirua, antrean pengendara motor sempat mengular. Namun, bensin yang tersedia sudah habis sehingga satu per satu pengendara membubarkan diri.
Kondisi serupa terlihat di Pertamini Jalan Prof. Abdurrahman Basalamah. Sejumlah pengendara juga terlihat mengantre untuk mendapatkan bensin.
Penjual Pertamini di Jalan Abdullah Daeng Sirua, Aminah, mengatakan antrean mulai terjadi sejak Kamis (10/9/2026) malam. Saat itu, stok bensin yang tersedia langsung diserbu warga.
"Tadi malam sih. Tapi tadi malam tidak ada bensinku," kata Aminah saat ditemui IDN Times, Jumat (11/9/2026).
Aminah mengatakan stok yang masuk ke Pertamini hanya sekitar Rp300 ribu atau sekitar 30 liter dalam satu kali pengiriman. Bensin tersebut bahkan habis dalam waktu kurang dari lima menit setelah tersedia.
"Satu kali masuk ji mobil, Rp300.000. Sebentar ji tadi itu, tidak ada 5 menit habis mi," katanya.
Menurut Aminah, pembelian BBM oleh masyarakat juga dibatasi. Warga rata-rata membeli bensin sekitar Rp20 ribu sekali pengisian.
"Rata-rata mereka beli Rp20.000. jarang ada yang lebih dari itu," katanya.
2. Warga pilih pertamini karena antrean SPBU panjang

Antrean pengendara di salah satu Pertamini di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (11/9/2026), saat stok bensin cepat habis di tengah meningkatnya kebutuhan BBM. IDN Times/Asrhawi Muin Seorang pengendara motor, Naba (52), mengaku baru memilih mengantre di Pertamini pada Jumat siang ini. Sebelumnya, dia masih mengisi BBM di SPBU meski harus menghadapi antrean panjang.
"Saya baru mengantre hari ini. Kemarin-kemarin itu masih di Pertamina tapi panjang sekali antreannya. Apalagi mau dikata. Mau tidak mau ya harus sabar mengantre dari tadi," kata Naba.
Namun, setelah cukup lama menunggu, bensin di Pertamini tersebut justru habis. Naba pun gagal mengisi penuh tangki motornya.
"Pas kita antre, malah bensinnya yang sudah habis. Baru sebentar ji tadi ini Pertamini buka, langsung habis lagi. Padahal baru mau saya isi full motorku," katanya.
3. Warga harap kondisi antrean BBM tak berlangsung lama

Salah satu booth Pertamini di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (11/9/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Bagi Naba, Pertamini sebelumnya menjadi pilihan karena dianggap lebih praktis dibandingkan SPBU. Namun, meningkatnya permintaan membuatnya kini harus menghadapi antrean bahkan di tempat penjualan BBM eceran tersebut.
"Sekarang memang makin susah. Biasanya kan serba cepat kalau di Pertamini, makanya kita milih ke sini daripada ke SPBU yang antreannya panjang sekali," katanya.
Dia berharap kondisi antrean BBM segera teratasi. Dengan begitu, masyarakat tidak harus berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan bensin.
"Tapi kalau begini, ya kita warga juga yang kerepotan" katanya.



















