Kelangkaan Solar Picu Antrean Panjang di Sejumlah SPBU Makassar

- Kelangkaan solar di Makassar menyebabkan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU, membuat sopir truk dan bus harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.
- Sopir mengaku kesulitan memperoleh solar tidak hanya di Makassar, tetapi juga di daerah lain seperti Maros dan Luwu Timur, sehingga mereka harus datang lebih awal ke SPBU.
- Keterbatasan pasokan solar berdampak pada keterlambatan jadwal keberangkatan bus dan truk, memicu keluhan penumpang serta mengganggu aktivitas operasional para sopir.
Makassar, IDN Times – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (10/6/2026). Puluhan truk dan bus terlihat mengular sejak pagi hari untuk mendapatkan pasokan solar.
Sejumlah sopir mengaku harus menunggu berjam-jam demi bisa mengisi bahan bakar. Kondisi tersebut dinilai mengganggu aktivitas operasional mereka karena banyak waktu kerja yang terbuang hanya untuk mengantre di SPBU.
1. Antrean panjang hingga meluber ke badan jalan

Antrean panjang tidak hanya terjadi di SPBU Pertamina 74.902.88 yang berada di depan Pintu II Universitas Hasanuddin (Unhas), Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea. Kondisi serupa juga terpantau di SPBU Pertamina 74.902.31 di Jalan AP Pettarani, Kecamatan Rappocini.
Di SPBU lainnya di kawasan Jalan AP Pettarani, Kecamatan Panakkukang, deretan kendaraan berat memenuhi area pengisian hingga meluber ke badan jalan. Antrean didominasi bus antarkota dan truk angkutan barang yang menunggu giliran mengisi solar.
Sejumlah sopir mengaku kesulitan memperoleh solar dalam beberapa hari terakhir. Keterbatasan pasokan membuat mereka harus datang sejak pagi dan kehilangan banyak waktu untuk bekerja.
Salah seorang sopir bus, Undi (35), mengaku sudah berada di lokasi antrean sejak pukul 06.30 Wita. Namun hingga beberapa jam kemudian, ia belum juga mendapatkan giliran mengisi bahan bakar.
"Saya antre di sini jam setengah tujuh pagi. Sudah lebih dari tiga jam, belum dapat giliran juga," kata Undi.
2. Sopir sebut kelangkaan solar juga terjadi di daerah

Undi mengatakan dirinya baru tiba di Makassar dari Kabupaten Luwu Timur dan harus segera kembali ke Malili setelah mengisi solar untuk melanjutkan perjalanan. "Hampir setiap malam susah dapat solar," ujarnya.
Menurutnya, kelangkaan solar tidak hanya terjadi di Makassar, tetapi juga dirasakan di sejumlah daerah lain, termasuk Kabupaten Maros. Kondisi itu membuat para sopir harus berupaya lebih keras untuk mendapatkan BBM.
"Di daerah juga sama, banyak yang kosong. Jadi sopir memang susah dapat solar sekarang," ungkapnya.
Meski demikian, Undi menilai distribusi solar di Makassar masih relatif lebih tertib karena pengisian lebih diprioritaskan untuk kendaraan operasional seperti bus dan truk. "Kalau di sini lebih banyak untuk truk dan bus. Tapi kalau di beberapa tempat lain masih banyak pelansir," ucapnya.
3. Sopir harus keliling mencari solar

Kelangkaan solar berdampak langsung terhadap layanan transportasi yang diberikan kepada penumpang. Menurut Undi, jadwal keberangkatan kerap tertunda karena kendaraan harus lebih dulu mengantre untuk mendapatkan bahan bakar.
"Penumpang jadi menunggu lama. Kadang mereka marah karena perjalanan terhambat. Kita juga bingung karena pekerjaan ikut terganggu," ungkapnya.
Ia menyebut bus yang dikemudikannya membutuhkan sekitar 100 hingga 200 liter solar untuk satu kali perjalanan pulang-pergi. Karena itu, ketersediaan BBM menjadi hal yang sangat penting agar operasional tetap berjalan.
Keluhan serupa disampaikan sopir truk, Daeng Rate (50), yang mengaku telah berkeliling ke beberapa SPBU sebelum akhirnya ikut mengantre. Namun, sejumlah SPBU yang didatanginya disebut tidak memiliki stok solar.
"Sudah lama menunggu. Tadi saya parkir sampai dekat BTP karena antreannya panjang sekali," ujar Daeng Rate.
Menurutnya, kondisi serupa terjadi di hampir seluruh SPBU yang ia datangi. Ia pun terpaksa bertahan dalam antrean agar bisa melanjutkan perjalanan menuju Parangloe, Kabupaten Gowa, untuk mengangkut barang.
"Tidak ada juga di tempat lain, banyak yang kosong. Padahal saya mau ke Parangloe untuk muat barang, tapi harus isi solar dulu," tandasnya.
















