Percepat Deteksi TBC, Pemprov Sulsel Gencarkan Portable X-Ray

Makassar, IDN Times - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) dengan memperluas skrining menggunakan layanan portable X-Ray di sejumlah daerah. Hal ini untuk mempercepat penemuan kasus secara aktif (Active Case Finding/ACF) sekaligus mendukung target eliminasi TBC nasional pada 2030.
Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, dr. Evi Mustikawati Arifin, mengatakan penggunaan portable X-Ray merupakan bagian dari implementasi Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Hal ini sekaligus mendukung Gerakan Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS TBC).
"Upaya tersebut bertujuan menemukan kasus sedini mungkin agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan rantai penularan dapat ditekan," kata Evi dalam keterangannya dikutip, Jumat (24/7/2026).
1. Skrining portable X-Ray menjangkau lima daerah

Hingga 19 Juli 2026, Dinas Kesehatan Sulsel mencatat sebanyak 14.463 kasus TBC telah ditemukan dari estimasi target 45.556 kasus tahun ini. Pasien yang terdeteksi selanjutnya menjalani pengobatan sesuai standar untuk meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus menekan penularan di masyarakat.
Sejauh ini, skrining menggunakan portable X-Ray telah dilaksanakan di lima daerah di Sulawesi Selatan. Daerah tersebut meliputi Kota Makassar, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Gowa, Kabupaten Soppeng, dan Kota Palopo.
Di Makassar, pemeriksaan menyasar personel Satpol PP Pemprov Sulsel yang memiliki mobilitas tinggi. Sementara di empat daerah lainnya, sasaran difokuskan pada kontak erat dan kontak serumah pasien TBC.
"Sasaran tersebut menjadi prioritas karena memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut sekaligus memastikan penderita mendapatkan pengobatan sedini mungkin," katanya.
2. Warga yang terindikasi TBC menjalani pemeriksaan lanjutan dengan TCM

Evi menjelaskan penggunaan portable X-Ray memungkinkan pemeriksaan berlangsung langsung di lokasi sasaran tanpa masyarakat harus datang ke fasilitas kesehatan. Pendekatan jemput bola ini diharapkan mampu memperluas cakupan penemuan kasus TBC.
Masyarakat yang hasil skriningnya mengarah pada dugaan TBC selanjutnya menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM). Pemeriksaan tersebut menjadi dasar penegakan diagnosis sebelum pasien memulai pengobatan sesuai standar.
"Diharapkan semakin banyak kasus ditemukan pada tahap awal sehingga rantai penularan dapat diputus, angka keberhasilan pengobatan meningkat, dan target Eliminasi TBC Nasional Tahun 2030 dapat tercapai," katanya.
3. Sulsel telah memiliki 2.451 desa dan kelurahan siaga TBC

Dinas Kesehatan Sulsel menyebut keberhasilan eliminasi TBC membutuhkan dukungan berbagai pihak. Pihak tersebut mulai dari pemerintah kabupaten/kota, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, kader, hingga partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pencegahan, deteksi dini, dan pendampingan pengobatan pasien.
Saat ini, Sulawesi Selatan telah memiliki 2.451 desa dan kelurahan siaga TBC yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Keberadaan desa dan kelurahan siaga tersebut diharapkan menjadi garda terdepan dalam deteksi dini, pendampingan pasien, serta pengendalian TBC di tingkat komunitas.



















