Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Belajar Otodidak, Santri Makassar Temukan Celah Keamanan NASA

Kota Makassar
3 min read
Belajar Otodidak, Santri Makassar Temukan Celah Keamanan NASA
Muhammad Al Hindawi, santri kelas 12 Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, menemukan celah keamanan pada sistem milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) serta University of Melbourne, Australia. (Dok. Istimewa)
  • Santri kelas 12 asal Makassar, Muhammad Al Hindawi, menemukan kerentanan SQL Injection pada sistem NASA dan University of Melbourne setelah belajar keamanan siber secara otodidak selama sekitar empat hingga lima bulan.
  • Al Hindawi melaporkan dua celah kritis di sistem NASA dan satu di University of Melbourne melalui Vulnerability Disclosure Program Bugcrowd; seluruh laporan divalidasi tim keamanan masing-masing institusi.
  • NASA memberi Letter of Recognition atas pelaporannya yang bertanggung jawab, sementara University of Melbourne mengonfirmasi validasi temuan; sebelumnya ia juga menemukan celah pada sistem pesantrennya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Muhammad Al Hindawi, santri kelas 12 Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, menemukan celah keamanan pada sistem milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) serta University of Melbourne, Australia. Temuan tersebut dilaporkan melalui program resmi Vulnerability Disclosure Program (VDP) pada platform Bugcrowd.

Al Hindawi baru sekitar empat hingga lima bulan mempelajari keamanan siber (cybersecurity) secara otodidak. Kerentanan yang ditemukannya berjenis SQL Injection, yakni celah yang dapat memungkinkan manipulasi perintah pada basis data sebuah sistem.

  1. 1. Belajar cybersecurity secara otodidak

    ilustrasi pemrograman komputer
    ilustrasi pemrograman komputer (unsplash.com/Mohammad Rahmani)

    Kemampuan tersebut tidak diperoleh Al Hindawi melalui pendidikan formal di bidang teknologi informasi. Ia mengaku baru mulai serius mempelajari cybersecurity sekitar empat hingga lima bulan terakhir.

    Al Hindawi belajar secara mandiri melalui berbagai tutorial di YouTube. Ia juga rutin membaca laporan penelitian keamanan siber yang dipublikasikan peneliti lain melalui platform Bugcrowd.

    Dalam mencari celah keamanan, ia terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap sistem yang menjadi target penelitiannya. Proses tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi sistem yang berpotensi memiliki kerentanan.

    "Saat melakukan pemetaan (recon), awal mulanya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code-nya menggunakan httpx. Dari sana, baru saya cari sistem yang rentan terkena SQL injection," ujar Al Hindawi dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).

  2. 2. Temukan tiga celah kritis di sistem NASA dan Melbourne

    ilustrasi NASA Amerika Serikat (pixabay.com/ahundt)
    ilustrasi NASA Amerika Serikat (pixabay.com/ahundt)

    Al Hindawi tercatat menemukan dua celah keamanan kritis pada sistem NASA. Sementara satu celah kritis lainnya ditemukan pada sistem University of Melbourne.

    Temuan tersebut kemudian dilaporkan melalui program VDP di Bugcrowd. Laporan Al Hindawi selanjutnya divalidasi oleh tim keamanan siber dari masing-masing institusi.

    Atas kontribusinya dalam menemukan dan melaporkan kerentanan secara bertanggung jawab, NASA memberikan Letter of Recognition (LOR) kepada Al Hindawi. Surat tertanggal 20 Mei 2026 itu ditandatangani Pelaksana Tugas Pejabat Keamanan Informasi Senior NASA, Tamiko Fletcher.

    Dalam surat tersebut, NASA menyampaikan apresiasi atas laporan Al Hindawi. NASA menyebut laporan itu membantu mengidentifikasi kerentanan yang sebelumnya belum diketahui dan mendukung upaya melindungi integritas serta ketersediaan informasi milik lembaga tersebut.

    Al Hindawi juga mendapat konfirmasi validasi dari tim Cyber Operations University of Melbourne atas laporan kerentanan yang ditemukannya.

  3. 3. Sebelumnya temukan celah sistem pesantren

    Muhammad Al Hindawi, santri kelas 12 Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, menemukan celah keamanan pada sistem milik Badan Penerbangan d
    Muhammad Al Hindawi, santri kelas 12 Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, menemukan celah keamanan pada sistem milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) serta University of Melbourne, Australia. (Dok. Istimewa)

    Sebelum menemukan kerentanan pada sistem milik institusi berskala global, Al Hindawi lebih dulu menguji kemampuannya pada sistem Pondok Pesantren Al Imam Ashim, tempatnya menimba ilmu.

    Dari proses tersebut, ia menemukan celah keamanan pada sistem pesantren dan kemudian melaporkannya. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses Al Hindawi mengembangkan kemampuannya di bidang keamanan siber.

    Dari lingkungan pesantren di Makassar, Al Hindawi kini telah berkontribusi menemukan dan melaporkan kerentanan pada sistem NASA dan University of Melbourne melalui jalur pelaporan keamanan yang tersedia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More