Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Krisis Meluas! BBM Sulit, Gas Melon Kini Menghilang dari Makassar

Kota Makassar
Krisis Meluas! BBM Sulit, Gas Melon Kini Menghilang dari Makassar
Ibu-ibu di Makassar mengantre di pangkalan gas elpiji, Kamis (10/9/2026). IDN Times/Darsil Yahya
  • Warga Makassar kesulitan mendapatkan BBM di SPBU dan elpiji 3 Kg atau gas melon.
  • Eva dan Rahmat mengaku berkeliling mencari gas melon, tetapi warung kosong dan antrean di pangkalan sudah ramai.
  • Setiap pangkalan disebut hanya mendapat jatah 60 tabung gas per hari karena pasokan dibatasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Krisis energi melanda Sulawesi Selatan khususnya Kota Makassar, warga tak hanya kesulitan mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tapi juga kesulitan mendapatkan tabung elpiji 3 Kg atau gas melon.

Banyak emak-emak yang harus keliling dari warung ke warung bahkan langsung ke pangkalan gas untuk mencari tabung melon agar bisa memasak. Salah satunya emak-emak bernama Eva (30). Ia terpaksa keliling naik motor demi mencari tabung gas.

"Susah sekali dapat gas (3 Kg) hampir semua warung kosong semua gasnya," keluh Eva kepada IDN Times, Kamis (10/9/2026).

  1. 1. Pasokan terbatas, banyak warga tak kebagian

    Ibu-ibu di Makassar mengantre di pangkalan gas elpiji, Kamis (10/9/2026). IDN Times/Darsil Yahya
    Ibu-ibu di Makassar mengantre di pangkalan gas elpiji, Kamis (10/9/2026). IDN Times/Darsil Yahya

    Eva mengaku sempat menemukan truk pengangkut gas sedang mendistribusikan gas di salah satu pangkalan di Jalan Suka Maju, Kecamatan Panakkukang, namun kembali harus gigit jari karena sudah banyak warga yang antre.

    Mereka diberikan kupon oleh pemilik pangkalan untuk mendapatkan gas, karena keterbatasan pasokan, Eva tak kebagian kupon sehingga harus pulang dengan tangan kosong.

    "Pas datang sudah banyak yang antre, katanya harus ambil kupon, tapi pas saya masuk mau ambil kupon katanya sudah habis," ucap Eva.

    Warga lainnya, Rahmat (37) juga merasakan hal yang sama, ia mengaku kesulitan mendapatkan gas melon padahal sudah keliling wilayah Panakkukang.

    "Sudah dua hari saya pergi cari tapi kosong, susah sekali dapat gas 3 kg," ujar Rahmat.

  2. 2. Pangkalan hanya dapat 60 buah gas melon

    Ibu-ibu di Makassar mengantre di pangkalan gas elpiji, Kamis (10/9/2026). IDN Times/Darsil Yahya
    Ibu-ibu di Makassar mengantre di pangkalan gas elpiji, Kamis (10/9/2026). IDN Times/Darsil Yahya

    Sementara itu, kernet truk pengangkut gas mengatakan setiap pangkalan hanya mendapatkan jatah 60 tabung gas perhari. Pembatasan itu dilakukan agar semua pangkalan bisa mendapatkan pasokan gas melon.

    "Setiap hari mengantar tapi hanya 60 tabung saja, besok juga kami mengantar lagi tapi saya tidak bisa pastikan datang jam berapa karena kita juga mengantre untuk angkut gas," bebernya.

  3. 3. Pertamina tuding warga panic buying

    Ibu-ibu di Makassar mengantre di pangkalan gas elpiji, Kamis (10/9/2026). IDN Times/Darsil Yahya
    Ibu-ibu di Makassar mengantre di pangkalan gas elpiji, Kamis (10/9/2026). IDN Times/Darsil Yahya

    Sebelumnya, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Deny Sukendar membantah adanya kelangkaan BBM subsidi. Menurutnya, antrean panjang di sejumlah SPBU terjadi karena adanya kepanikan masyarakat atau panic buying.

    "Dari pemantauan di lapangan kami melihat adanya kepanikan dimasyarakat sehingga berbondong-bondong ke SPBU, takut tidak kebagian BBM," kata Deny Sukendar kepada IDN Times.

    Ia memastikan stok dan pasokan BBM di Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar, dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Distribusi BBM ke seluruh SPBU juga terus dipantau dan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing wilayah.

    “Stok BBM kami pastikan aman dan distribusi terus berjalan. Kami juga melakukan penguatan pelayanan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir maupun melakukan panic buying,” ujar Deny.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More