Maleppe hingga Maburasa, Ini 4 Tradisi Lebaran Masyarakat di Sulsel

- Lebaran di Sulawesi Selatan dirayakan dengan perpaduan ritual keagamaan dan tradisi lokal yang menonjolkan nilai kekeluargaan serta rasa syukur.
- Tradisi khas seperti mabbaca-baca, memasak buras, dan ziarah kubur menjadi bagian penting dalam mempererat hubungan keluarga dan mengenang leluhur.
- Ritual maleppe dilakukan setelah salat Id sebagai simbol saling memaafkan dan melepas beban batin, disertai suasana kebersamaan menikmati hidangan khas.
Makassar, IDN Times - Lebaran di Sulawesi Selatan (Sulsel) selalu memiliki warna tersendiri. Campuran antara ritual agama yang khusyuk dengan kearifan lokal menciptakan atmosfer nan kental dengan kekeluargaan.
Ada beberapa tradisi yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Sulsel ketika merayakan hari kemenangan. Mulai dari mendoakan anggota keluarga, membuat buras, hingga saling memaafkan. Berikut ini hasil rangkuman IDN Times dari berbagai sumber.
1. Mabbaca-baca, doa bersama para anggota keluarga

Sebelum atau sesudah salat id, keluarga besar biasanya berkumpul untuk ritual mabbaca-baca. Seorang tokoh agama atau tetua adat akan memimpin doa keselamatan dan syukur di depan hamparan hidangan khas lebaran.
Tradisi ini merupakan tradisi mengirim doa kepada anggota keluarga yang sudah berpulang lebih dulu. Selain itu, mabbaca-baca juga bertindak sebagai bentuk syukur atas berkah ramadan yang telah dilewati.
2. Memasak buras, hidangan utama di hari lebaran
Bagi warga Sulsel, lebaran belum sah tanpa membuat buras (maburasa). Penganan berbahan dasar beras dan santan yang dibungkus daun pisang ini adalah "pengganti" ketupat sehingga menjadi sajian utama. Dan biasanya dibuat sekitar dua hari hingga sehari sebelum lebaran tiba.
Biasanya, burasa disandingkan dengan lekko' (nasu likku/ayam lengkuas), coto makassar, atau konro. Selain itu, ada juga tumbu yang secara bentuk juga mirip lontong tapi mirip dengan burasa yang sering hadir di meja makan masyarakat Bugis.
3. Mendoakan anggota keluarga yang sudah pergi lebih dulu dengan ziarah kubur

Setelah bersilaturahmi dengan tetangga atau bahkan setelah salat id, mayarakat Sulsel biasanya berbondong-bondong menuju pemakaman untuk melakukan ziarah kubur. Selain membersihkan makam dan berdoa, tradisi ini juga menjadi momen berkumpulnya kerabat yang jarang bertemu karena merantau.
Seperti kebiasaan pada umumnya, peziarah membawa air dalam wadah atau botol untuk disiram ke atas pusara. Turut pula menaburkan bunga, lalu diakhiri dengan doa bersama para anggota keluarga dan sanak saudara.
4. Saling memaafkan dengan tradisi maleppe

Bagi masyarakat Bugis, setelah salat id identik dengan ritual maleppe. Secara harfiah, maleppe berarti "melepas". Tapi dalam konteks lebaran atau setelah melaksanakan ibadah puasa, maknanya adalah membebaskan diri setelah sebulan penuh mengekang nafsu.
Di zaman dulu, ritual ini dilakukan dengan sangat khidmat. Warga saling mengunjungi rumah tetangga, kerabat, dan handai taulan setelah salat id untuk bermaaf-maafan. Tradisi maleppe juga seringkali disertai dengan menikmati hidangan tradisional bersama.
Nah, itu tadi 4 tradisi lebaran masyarakat Sulsel. Kamu sering melakukan yang mana nih?


















