Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Maleppe hingga Maburasa, Ini 4 Tradisi Lebaran Masyarakat di Sulsel

Maleppe hingga Maburasa, Ini 4 Tradisi Lebaran Masyarakat di Sulsel
Umat Islam melaksanakan Shalat Tarawih pertama di Masjid Raya Al-Munawar di Ternate, Maluku Utara, Rabu (18/2/2026). ANTARA FOTO/Andri Saputra/tom.
Intinya Sih
Gini Kak
  • Lebaran di Sulawesi Selatan dirayakan dengan perpaduan ritual keagamaan dan tradisi lokal yang menonjolkan nilai kekeluargaan serta rasa syukur.
  • Tradisi khas seperti mabbaca-baca, memasak buras, dan ziarah kubur menjadi bagian penting dalam mempererat hubungan keluarga dan mengenang leluhur.
  • Ritual maleppe dilakukan setelah salat Id sebagai simbol saling memaafkan dan melepas beban batin, disertai suasana kebersamaan menikmati hidangan khas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Lebaran di Sulawesi Selatan (Sulsel) selalu memiliki warna tersendiri. Campuran antara ritual agama yang khusyuk dengan kearifan lokal menciptakan atmosfer nan kental dengan kekeluargaan.

Ada beberapa tradisi yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Sulsel ketika merayakan hari kemenangan. Mulai dari mendoakan anggota keluarga, membuat buras, hingga saling memaafkan. Berikut ini hasil rangkuman IDN Times dari berbagai sumber.

1. Mabbaca-baca, doa bersama para anggota keluarga

Ilustrasi berdoa, beribadah.
Ilustrasi berdoa, beribadah. (Freepik.com/jcomp)

Sebelum atau sesudah salat id, keluarga besar biasanya berkumpul untuk ritual mabbaca-baca. Seorang tokoh agama atau tetua adat akan memimpin doa keselamatan dan syukur di depan hamparan hidangan khas lebaran.

Tradisi ini merupakan tradisi mengirim doa kepada anggota keluarga yang sudah berpulang lebih dulu. Selain itu, mabbaca-baca juga bertindak sebagai bentuk syukur atas berkah ramadan yang telah dilewati.

2. Memasak buras, hidangan utama di hari lebaran

Ilustrasi buras.
Ilustrasi buras, salah satu makanan tradisional di Sulawesi Selatan. (Midori, Kue buras, CC BY-SA 3.0)

Bagi warga Sulsel, lebaran belum sah tanpa membuat buras (maburasa). Penganan berbahan dasar beras dan santan yang dibungkus daun pisang ini adalah "pengganti" ketupat sehingga menjadi sajian utama. Dan biasanya dibuat sekitar dua hari hingga sehari sebelum lebaran tiba.

Biasanya, burasa disandingkan dengan lekko' (nasu likku/ayam lengkuas), coto makassar, atau konro. Selain itu, ada juga tumbu yang secara bentuk juga mirip lontong tapi mirip dengan burasa yang sering hadir di meja makan masyarakat Bugis.

3. Mendoakan anggota keluarga yang sudah pergi lebih dulu dengan ziarah kubur

Tradisi ziarah makan di Kendari jelang ramadan.
Umat Islam menyirami makam saat berziarah di areal Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pungolaka, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (17/2/2026). ANTARA FOTO/Andry Denisah/bar

Setelah bersilaturahmi dengan tetangga atau bahkan setelah salat id, mayarakat Sulsel biasanya berbondong-bondong menuju pemakaman untuk melakukan ziarah kubur. Selain membersihkan makam dan berdoa, tradisi ini juga menjadi momen berkumpulnya kerabat yang jarang bertemu karena merantau.

Seperti kebiasaan pada umumnya, peziarah membawa air dalam wadah atau botol untuk disiram ke atas pusara. Turut pula menaburkan bunga, lalu diakhiri dengan doa bersama para anggota keluarga dan sanak saudara.

4. Saling memaafkan dengan tradisi maleppe

Ilustrasi merayakan lebaran.
Ilustrasi lebaran, merayakan lebaran. (Unsplash.com/sam sul)

Bagi masyarakat Bugis, setelah salat id identik dengan ritual maleppe. Secara harfiah, maleppe berarti "melepas". Tapi dalam konteks lebaran atau setelah melaksanakan ibadah puasa, maknanya adalah membebaskan diri setelah sebulan penuh mengekang nafsu.

Di zaman dulu, ritual ini dilakukan dengan sangat khidmat. Warga saling mengunjungi rumah tetangga, kerabat, dan handai taulan setelah salat id untuk bermaaf-maafan. Tradisi maleppe juga seringkali disertai dengan menikmati hidangan tradisional bersama.

Nah, itu tadi 4 tradisi lebaran masyarakat Sulsel. Kamu sering melakukan yang mana nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More