Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dimulai Hari Ini, MIWF 2026 Jadi Festival Literasi Sekaligus Ruang Kritis

 Dimulai Hari Ini, MIWF 2026 Jadi Festival Literasi Sekaligus Ruang Kritis
Suasana press conference Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026 yang berlangsung di Gedung I Benteng Fort Rotterdam pada Rabu 13 Mei 2026. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)
Intinya Sih
  • Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026 digelar di Benteng Fort Rotterdam dengan tema besar 'Re-co-ordinate' yang mencakup 144 program selama empat hari.
  • Festival ini menegaskan komitmen terhadap isu sosial dan lingkungan melalui audit transparansi, perhitungan emisi karbon, serta peningkatan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dengan juru bahasa isyarat dan relawan pendamping.
  • MIWF kembali bermitra dengan Pemkot Makassar untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif lokal, menghadirkan dampak positif bagi UMKM, kuliner, serta citra kota yang inklusif dan kreatif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Ajang literasi terbesar di Indonesia Timur, Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026, kembali diadakan pada akhir pekan ini. Berlangsung di Benteng Fort Rotterdam dari Kamis (14/5/2026) hingga Minggu (17/5/2026) mendatang, helatan yang sudah memasuki edisi ke-15 ini tetap mempertahankan identitasnya sebagai ruang dialog kritis yang tidak hanya berfokus pada dunia sastra, tetapi juga isu-isu sosial krusial.

Untuk tahun 2026, MIWF mengusung tema "Re-co-ordinate" sebagai tema besar untuk 144 program yang berlangsung selama 4 hari. Mereka ingin mengajak pengunjung untuk memetakan kembali posisi dan peran masing-masing di bidang masing-masing saat menghadapi banyak krisis yang terjadi secara sekaligus seperti sekarang.

1. Total 144 program menjadi turunan dari tema besar "Re-co-ordinate"

Kegiatan panel tentang bissu di MIWF 2025.
Suasana panel "Menerjang Modernisasi, Daya Lenting Bissu di Tengah Masyarakat" yang menjadi bagian dari Makassar International Writers Festival (MIWF) 2024. (dok. Ofisial MIWF/Fauziah Nurinayah)

"Mulai dari personal, keluarga, negara, iklim, perang, genosida, ekonomi hingga mental. Masing-masing dari kita harus berjuang dengan permasalahan sehari-hari. Banyak sekali, seolah-olah kita setiap hari digempur dengan masalah di segala bidang. Dan ini yang kita inginkan dalam MIWF 2026, yaitu bagaimana mempercakapkan itu," ungkap salah satu kurator MIWF, Titah AW, dalam sesi konferensi pers di Gedung I Fort Rotterdam, Rabu (13/5/2026).

Secara garis besar, Titah menyebut bahwa "Re-Coordinate" kemudian dipisah menjadi 4 subtema yang berbeda selama empat hari. Hari pertama mengangkat Home & Belonging (Rumah dan Keterikatan), lalu Nourishment & Care (Pangan dan Perawatan) di hari kedua. Learning & Liberation (Pembelajaran dan Pembebasan) menjadi topik pada hari ketiga, kemudian Justice & Collective Power (Keadilan dan Kekuatan Kolektif) sebagai penggerak seluruh program di hari keempat sekaligus penutup.

2. MIWF masih mempertahankan komitmen pada sejumlah isu sosial, seperti lingkungan dan inklusivitas

Suasana A Cup of Poetry di MIWF 2025.
Suasana kegiatan "A Cup of Poetry" dalam helatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 yang berlangsung di Benteng Rotterdam. (dok. Ofisial MIWF/Fauziah Nurinayah)

Dalam pelaksanaannya tahun ini, MIWF masih menjaga komitmen untuk isu sosial. Dalam aspek sikap antikorupsi, mereka audit internal yang ketat dan menyeluruh terhadap seluruh transaksi dan aktivitas festival. Selain aspek transparansi, festival ini juga konsisten menghitung emisi karbon yang dihasilkan setiap tahunnya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.

Lebih jauh, salah satu fokus utama MIWF 2026 adalah aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Direktur MIWF yakni Aan Mansyur menjelaskan bahwa festival tahun ini melibatkan 12 juru bahasa isyarat untuk membantu teman tuli, serta menyediakan relawan khusus sebagai "pembisik" yang menjelaskan langsung situasi festival kepada teman netra.

"Seluruh latar belakang karena inklusif berarti juga mengusahakan supaya teman-teman disabilitas juga bisa mengakses festival ini. Jadi tahun ini kami bekerja dengan komunitas-komunitas, lembaga-lembaga yang memang concern di isu disabilitas untuk juga melakukan pendampingan. Selain itu, kami juga berkolaborasi dengan banyak pihak, tahun ini kami berkolaborasi dengan tiga kementerian dengan sejumlah program," jelas Aan di hadapan awak media.

3. Kemitraan dengan Pemkot Makassar kembali dijalin untuk memaksimalkan dampak MIWF ke sektor pariwisata lokal

Suasana projection night di MIWF 2025.
Suasana projection night "WANUA: Beyond Home" yang menjadi bagian dari helatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025. (dok. Ofisial MIWF/Muh. Trian Rezki)

Yang unik, MIWF dan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar melalui Dinas Pariwisata kembali menjalin kemitraan di tahun ini setelah terakhir melakukannya pada tahun 2013. Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Zulkifli Salam, menyatakan bahwa festival ini tak hanya menjadi tempat bertukar gagasan, tapi juga memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan berdampak ke berbagai lini.

"Efek-efeknya pada kuliner kita, transportasi,dan UMKM, itu yang kami harapkan sehingga kami mendukung penuh MIWF ini dilaksanakan karena multiplier effect-nya yang terjadi dari kegiatan ini pasti akan besar untuk Pemerintah Kota Makassar sendiri," papar Zulkifli.

"Karena dengan adanya event seperti ini, citra Kota Makassar yang terbuka, inklusif, dan kreatif itu akan terbawa sampai ke luar. Karena peserta dari MIWF ini bukan cuma orang Makassar saja, ada juga orang-orang luar Makassar dan bahkan dari mancanegara," lanjutnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More