Unhas Bakal Punya Dapur MBG, Disiapkan Jadi Laboratorium Hidup

- Universitas Hasanuddin menyiapkan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang mengintegrasikan riset, keahlian, dan implementasi untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat.
- Dapur MBG dikembangkan melalui Yayasan Metavisi Akademika Nusantara dengan melibatkan sumber daya internal kampus, termasuk para ahli gizi, agar produk yang dihasilkan berkualitas dan bergizi seimbang.
- SPPG Unhas diarahkan menjadi laboratorium hidup tempat mahasiswa dan dosen berkolaborasi dalam produksi serta inovasi pangan berkelanjutan, menghubungkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat secara nyata.
Makassar, IDN Times - Universitas Hasanuddin (Unhas) mulai menyiapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini tidak hanya ditujukan untuk memasok makanan bagi siswa, tetapi juga diharapkan terhubung dengan riset dan pengembangan di lingkungan kampus.
Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, menekankan bahwa dapur MBG tersebut tidak boleh berhenti pada fungsi produksi. Kampus ingin menjadikannya sebagai bagian dari ekosistem keilmuan yang berdampak langsung ke masyarakat.
1. Dapur MBG tak sekadar produksi makanan

SPPG Unhas dirancang sebagai simpul integrasi antara riset, keahlian, dan implementasi. Seluruh proses, mulai dari bahan baku hingga distribusi, diupayakan melibatkan sumber daya internal kampus.
Pengembangan dapur ini dilakukan melalui Yayasan Metavisi Akademika Nusantara (MAN). Targetnya adalah menyiapkan produksi makanan bergizi yang nantinya disalurkan ke sekolah-sekolah.
“SPPG ini kita dorong agar seluruh prosesnya berbasis pada kekuatan internal Unhas, termasuk pelibatan para ahli gizi. Kita ingin memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan jaminan pemenuhan gizi bagi masyarakat,” kata Jamaluddin, dalam keterangan yang dikutip, Jumat (27/3/2026).
2. Dapur MBG berjalan seiring dengan pengembangan riset

Awalnya, dapur MBG direncanakan berada di bekas kantin area asrama mahasiswa (Ramsis) Unhas. Namun, karena pertimbangan teknis, lokasi dipindahkan ke area baru di samping Masjid Kampus Unhas.
Keberadaan SPPG ini disebut menjadi bagian dari pendekatan hulu ke hilir yang ingin dikembangkan kampus. Tidak hanya menghasilkan riset, Unhas juga ingin memastikan hasilnya bisa diterapkan dalam bentuk produk nyata.
“Ini adalah bagian dari kontribusi Unhas dalam mendukung program pemerintah, sekaligus memastikan bahwa keilmuan yang kita miliki benar-benar hadir untuk masyarakat,” lanjutnya.
3. Disiapkan jadi “laboratorium hidup”

Selain sebagai dapur produksi, SPPG Unhas juga diarahkan menjadi pusat inovasi pangan berbasis gizi berkelanjutan. Konsep yang diusung adalah “living lab” atau laboratorium hidup.
Dalam skema ini, mahasiswa, dosen, dan tenaga ahli dapat terlibat langsung dalam proses produksi hingga pengembangan produk. Harapannya, kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat bisa terhubung secara nyata.
“Kita ingin menjadikan SPPG ini berbasis riset, data, dan inovasi. Dengan begitu, dampaknya bisa berkelanjutan dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Jamaluddin.
Unhas menargetkan operasional dapur MBG bisa segera berjalan setelah berbagai fasilitas dan sistem pendukung dimatangkan. Jika terealisasi, model ini diharapkan bisa menjadi percontohan layanan pemenuhan gizi berbasis perguruan tinggi.


















