Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

DP3A Ungkap 5 Anak di Makassar Terpapar Paham Radikal

DP3A Ungkap 5 Anak di Makassar Terpapar Paham Radikal
Kepala DPPPA Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar. (Dok. Pemkot Makassar)
Intinya Sih
  • DP3A Makassar bekerja sama dengan Densus 88 mendeteksi lima anak SMP terpapar paham radikal sejak tahun lalu, mayoritas berasal dari keluarga menengah ke atas dan aktif di dunia digital.
  • Anak-anak tersebut diduga mulai terpengaruh lewat media sosial dan game online hingga tergabung dalam grup WhatsApp berpemahaman ekstrem; DP3A melakukan konseling bersama aparat untuk pemulihan psikologis.
  • DP3A mengimbau orang tua lebih waspada terhadap aktivitas digital anak serta memperhatikan perubahan perilaku, sambil terus melakukan edukasi dan roadshow ke sekolah serta masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar bekerja sama dengan Densus 88 sejak tahun lalu untuk penjangkauan anak yang terpapar paham radikal. Hingga tahun 2026, tercatat lima anak di Makassar terdeteksi masuk dalam kelompok berpemahaman ekstrem dan radikal.

Kepala Dinas DP3A Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar, mengatakan mayoritas anak yang terpapar masih duduk di bangku SMP, rata-rata kelas 2 atau sekitar 14 tahun. Anak-anak tersebut disebut berasal dari keluarga menengah ke atas dan dikenal pendiam serta lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop.

"Jadi sudah lima. Kita lihat rata-rata anak SMP yang pintar, menengah ke atas, kemudian memang pribadinya ini tenang, yang asyik aja di depan laptop, ternyata sudah masuk dalam jaringan ini," kata Ita, Jumat (15/5/2026).

1. Diduga terpapar lewat media sosial dan games online

ilustrasi media sosial X (IDN Times/Novaya)
ilustrasi media sosial X (IDN Times/Novaya)

Menurut Ita, anak-anak tersebut diduga mulai terpapar melalui media sosial dan games online. Dari aktivitas digital itu, mereka diarahkan masuk ke grup WhatsApp yang menyebarkan pemahaman radikal.

"Itu mereka klik dan akhirnya dia masuk dalam grup yang namanya pemahaman teroris atau radikal. Jadi setelah dia masuk itu sudah terbentuk sekitar 28 kelompok WA. Nah dari sekian itu terdeteksi lima anak dari Makassar," katanya.

DP3A bersama Densus 88 kemudian turun langsung ke rumah anak-anak tersebut untuk penjangkauan dan konseling. Ita menyebut banyak orang tua tidak menyadari anak mereka telah masuk dalam kelompok berpemahaman ekstrem.

"Pada saat kita turun, baik si anak maupun orang tuanya tidak tahu kalau sudah masuk dalam pemahaman radikal itu atau pemahaman jaringan itu," katanya.

2. Terdeteksi paham radikal sejak tahun lalu

Ilustrasi radikalisme (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi radikalisme (IDN Times/Mardya Shakti)

Ita mengatakan lima anak tersebut mulai teridentifikasi terpapar paham radikal sejak tahun lalu, sementara sebagian lainnya terdeteksi pada awal 2026. Setelah keberadaan mereka diketahui, DP3A langsung dihubungi untuk ikut dalam proses penjangkauan bersama aparat terkait.

"Kami jalan tidak tahu alamat di mana karena ini memang nggak boleh, jadi kami ikut, ikut kendaraannya atau kami ada di atas, kemudian di titik-titik ada yang arahkan apakah belok kanan belok kiri sampai rumahnya itu. Kan selanjutnya kita konseling," katanya.

Ita menjelaskan pendekatan DP3A lebih berfokus pada pemulihan psikologis dan penguatan pola pikir anak agar tidak kembali terpapar. Pendampingan juga diberikan kepada orang tua.

"Yang pasti adalah orang tuanya tahu bahwa anaknya sudah masuk ke situ dan anaknya sudah berjanji untuk bertahap mereka keluar," kata Ita.

Meski demikian, Ita menyebut lima anak di Makassar tersebut belum sampai tahap tindakan membahayakan. Berbeda dengan sejumlah kasus di Pulau Jawa yang menurutnya sudah mengarah pada perakitan bom.

"Di Makassar belum. Tapi kalau di Jawa sudah banyak," katanya.

3. DP3A minta orang tua lebih awasi aktivitas digital anak

Ilustrasi anak bermain game (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Ilustrasi anak bermain game (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Ita menyatakan pihaknya juga menggencarkan edukasi ke masyarakat melalui roadshow ke kecamatan, sekolah, dan kelompok PKK. Dia pun mengingatkan orang tua untuk lebih memperhatikan perubahan perilaku anak, terutama yang menjadi lebih tertutup dan terlalu lama menghabiskan waktu di dunia digital.

Ita mengaku kembali menerima informasi dari Densus 88 terkait perkembangan kasus anak yang terpapar paham radikal. Densus 88 juga mengajak DP3A turun bersama untuk penjangkauan karena kasus tersebut berada di wilayah Kota Makassar.

"Saya sudah izin, nggak apa-apa kita sampaikan ke masyarakat supaya masyarakat tahu, hati-hati anak-anak kita, lindungi anak-anak kita," ucap Ita.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More