Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Simulasi SPMB Makassar 2026, Alur Pendaftaran Masih Dianggap Rumit

Simulasi SPMB Makassar 2026, Alur Pendaftaran Masih Dianggap Rumit
Fitur SPMB Makassar 2026 lewat aplikasi LONTARA+. IDN Times/Asrhawi Muin
Intinya Sih
  • Simulasi SPMB 2026 di Makassar diperpanjang hingga 21 Mei 2025 karena antusiasme tinggi dan banyaknya masukan pengguna terkait alur pendaftaran yang masih membingungkan.
  • Kendala utama muncul pada proses login berbasis NISN dan pengisian data zonasi yang dinilai kompleks, sehingga tim teknis melakukan perbaikan langsung selama simulasi.
  • Evaluasi sistem dilakukan berulang dengan pendekatan human-sentris, melibatkan umpan balik masyarakat melalui grup daring serta pengujian server untuk tiap jenjang pendidikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Uji coba Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kota Makassar masih menemukan sejumlah kendala pada alur pendaftaran yang dinilai membingungkan sebagian pengguna. Hal ini muncul dalam tahap simulasi sistem berbasis aplikasi LONTARA+ yang saat ini diuji sebelum peluncuran resmi.

Tim Ahli Pemkot Makassar Bidang Percepatan Digitalisasi, Andi Gita Namira Patigana, menyebut simulasi awal SPMB 2026 yang dijadwalkan hanya dua hari justru diperpanjang hingga 21 Mei 2025. Perpanjangan ini ditetapkan karena tingginya antusiasme masyarakat sekaligus banyaknya masukan dari pengguna.

"Kita lihat ternyata orang sangat antusias dan banyak sekali yang bertanya sehingga kita menyadari kalau memang ada beberapa flow yang perlu diperbaiki, sehingga kita memperpanjang durasi simulasinya," kata Andi Gita, Jumat (15/5/2025).

1. Kendala di alur login berbasis NISN

Ilustrasi PPDB. IDN Times/Fariz Fardianto
Ilustrasi PPDB. IDN Times/Fariz Fardianto

Gita menjelaskan sejumlah kendala muncul pada alur pendaftaran yang belum sepenuhnya mudah dipahami. Kendala tersebut terutama terkait perbedaan skema login bagi pengguna yang sudah memiliki NISN dan yang belum.

"Misalkan orang-orang yang memiliki NISN, mereka bisa mengecek langsung apakah memang NISN-nya sudah terdaftar atau tidak. Kalau memang sudah terdaftar NISN-nya, nanti mereka akan dapat username dan password langsung dan bisa langsung login," katanya.

Namun, untuk pengguna yang belum memiliki NISN, proses pendaftaran dinilai masih membingungkan. Kondisi ini menjadi salah satu bagian yang masih perlu penyederhanaan dalam alur sistem pendaftaran.

"Tapi kalau belum ada NISN-nya, itu harus mendaftar terlebih dahulu. Di situ kendalanya, masih banyak yang bingung begitu,"  lanjutnya.

2. Pengisian zonasi dinilai kompleks

Ilustrasi PPDB. ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Ilustrasi PPDB. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Selain itu, proses pengisian data zonasi juga menjadi bagian dari alur yang dinilai kompleks oleh sebagian pengguna. Pengguna diminta mencantumkan lokasi rumah sejak awal pendaftaran, sehingga menambah tingkat kesulitan pada tahapan tersebut.

Menanggapi hal tersebut, tim teknis menjalankan perbaikan secara langsung selama masa simulasi berlangsung. Upaya ini dimaksudkan agar sistem lebih mudah dipahami masyarakat.

"Kalau misalkan ada banyak aspirasi dari masyarakat, misalkan flow dari pendaftarannya itu membingungkan, kita akan memperbaiki pada saat itu juga," kata Gita.

3. Evaluasi berbasis masukan pengguna

Ilustrasi PPDB. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Ilustrasi PPDB. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Gita juga menyampaikan evaluasi dijalankan secara berulang dengan pendekatan yang lebih berpusat pada pengguna. Proses tersebut diarahkan untuk memastikan sistem lebih mudah digunakan oleh masyarakat.

"Antisipasinya itu kita membuat sistem yang lebih human-sentris. Jadi kita melakukan beberapa iterasi flow dan kita tanyakan lagi kepada masyarakat apakah masih bingung atau tidak begitu," katanya.

Simulasi SPMB ini juga diperluas untuk jenjang TK, SD, dan SMP. Kegiatan tersebut menjadi ruang uji coba terbuka bagi masyarakat sebelum sistem diterapkan penuh.

"Kita akan bikinkan grup WhatsApp atau Telegram di mana kalau masyarakat mau memberikan feedback itu bisa langsung di sana," katanya.

Dari sisi teknis, tim juga menyiapkan pemisahan server untuk setiap jenjang pendidikan serta pengujian beban sistem. Hal tersebut ditujukan untuk mengantisipasi lonjakan akses saat pendaftaran resmi dibuka.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More