Tumbuh bersama Rumah BUMN BRI, Kacang Mete Bunly Tembus Ekspor

Makassar, IDN Times – Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 menjadi pukulan telak bagi pelaku usaha. Termasuk Lily Nuryah, ibu rumah tangga di Makassar yang saat itu tengah merintis industri rumahan produk camilan kacang mete bernama Bunly.
Terbatasnya aktivitas masyarakat pada masa pandemi sempat membuat Lily terpuruk, sebab usahanya terasa berjalan landai dan cenderung tak berkembang. Namun itu tidak jadi alasan baginya untuk menyerah.
Titik balik Lily adalah bergabung dengan Rumah BUMN BRI. Ini merupakan wadah yang diinisiasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bagi pelaku usaha atau kreatif untuk berkumpul, belajar, dan dibina menjadi usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) yang berkualitas. Di Makassar, Rumah BUMN di bawah naungan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Di sana, Lily mendapat banyak bekal untuk mengembangkan produknya.
“Saya dapat ilmu tentang mindset dan manajemen usaha yang baik, bagaimana mengelola, seperti apa caranya agar bisa sustain,” kata Lily saat berbincang dengan IDN Times di Makassar, Rabu (20/11/2024).
Singkat cerita, Lily merancang ulang pemasaran produk camilannya. Kacang mete Bunly dikemas sebagai produk bundling, yaitu dikaitkan dengan nilai-nilai kesehatan. Maklum, di masa pandemi, orang-orang punya kesadaran lebih tinggi untuk hidup sehat. Kemasan produk juga didesain lebih menarik.
“Di situ saya edukasi lewat online, dengan mengonsumsi kacang mete daya tahan tubuh meningkat, nutrisi tubuh kita lebih terpenuhi, untuk diet juga bisa dengan pengolahan yang tepat. Saya edukasi bahwa kacang mete saya melalui berbagai proses untuk sampai ke tangan konsumen, dengan dikemas menarik dan higienis sehingga aman dikonsumsi,” Lily mengenang.
Inovasi itu juga yang mengantarkan Lily dan Bunly-nya terpilih mengikuti BRI Inkubator. Sebuah program tahunan BRI yang menawarkan pelatihan dan pendampingan dari pakar untuk membantu UMKM bersiap memasuki pasar global. Para pelaku UMKM terpilih dari berbagai daerah dilatih jadi pebisnis andal, dan disaring hingga 10 besar tingkat nasional.
“Alhamdulillah sekarang saya sudah punya manajemen usaha dan keuangan, dengan melibatkan empat tenaga kerja,” katanya.
Tak sebatas bekal ilmu, Lily juga dapat akses bantuan pendanaan. Usaha Bunly, hingga 2024, sudah tiga kali mendapat bantuan modal Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Lily juga bisa memanfaatkan beragam layanan dan produk BRI untuk memperlancar usahanya, dari QRIS, kartu kredit, hingga rekening usaha. “Ekosistem produk BRI saya pakai sampai sekarang.”
1. Komoditas Sulsel jadi produk premium bernilai ekspor
Bunly merupakan camilan kacang mete premium. Ditujukan untuk pasar menengah ke atas, produk ini dirancang dari mete asli Sulawesi Selatan. Bahan baku antara lain didapatkan dari petani di Kabupaten Pangkep dan Sidrap.
“Dari berbagai daerah, ternyata kualitas kacang mete Sulsel tidak kalah. Kadar airnya bagus, sekitar 4-5 persen, biji metenya tidak terlalu besar, tapi taste-nya gurih, dan sangat layak untuk dipasarkan,” ucapnya.
Kacang mete diolah pada skala rumah tangga, namun sangat detail. Perebusan dengan Teknik tertentu memastikan getah-getah pemicu penyakit terlepas, sehingga aman dikonsumsi semua kalangan. Produk juga tidak menggunakan bahan tambahan seperti essence, melainkan bumbu-bumbu alami yang diolah sendiri.
Kacang mete Bunly terdiri dari lima varian rasa: original, gula aren, rumput laut, pedas, dan bawang putih. Produk dikemas dengan beragam ukuran, tergantung pasar. Untuk segmen hotel, restoran, dan kafe (horeka), ada ukuran 20 gram dan 50 gram. Sedangkan untuk segmen display toko oleh-oleh, tersedia ukurang 100, 150, dan 200 gram.
Lily mengakui usahanya lebih banyak menyasar segmen business to business (B2B). Saat ini, Bunly sudah memasok produknya untuk setidaknya 20 jaringan hotel di Sulawesi dan Jawa. Kacang mete jadi camilan yang disajikan di mini bar kamar-kamar.
Teranyar, Bunly juga sudah masuk ke Kereta Api Indonesia (KAI) jarak jauh di Jawa-Sumatera, dengan mengirimkan delapan ribu bungkus per tiga bulan. Artinya, penumpang kereta bisa menemukan kemasan saset Bunly sebgai sajian camilan di perjalanan.
“Saya lebih suka suka bisnis B2B. Karena kalau produknya disimpan (di toko), tidak jalan, paling tidak untuk branding,” kata Lily.
Lily termasuk orang yang tak cepat berpuas diri. Selain menimba ilmu di Rumah BUMN BRI, dia juga aktif ikut berbagai pelatihan dan menjajakan produknya di berbagai pameran. Dengan biaya sendiri, dia rela terbang dari Makassar untuk ikut pameran di Jakarta, dengan harapan bisa memperluas jaringan. Artinya jemput bola, bukan menunggu difasilitasi.
“Bagi saya, pameran bukan untuk penjualan. Tapi dari sana aya dapat networking, dapat B2B. Akhirnya dari situ juga saya bisa dapat kerja sama dengan beberapa hotel, baik di dalam maupun luar negeri,” ucapnya.
Lambat laun, Lily mampu memperluas jangkauan pasar ekspor untuk Bunly. Secara rutin, dia mengirimkan produk ke tiga negara, yaitu Singapura, Hongkong, dan Mesir. “Kalau untuk pameran, ada Korea, Jepang, Australia, dan Belanda yang sudah tembus sejak 2021,” dia menyebutkan.
Kerja sama ekspor terbaru Bunly didapatkan Lily pada ajang Anging Mammiri Business Fair (AMBF) x South Sulawesi Invesment Forum (SSIF) 2024 di Makassar, November 2024. Pada kesempatan itu, dia menjalin kerja sama dengan sebuah korporasi di Malaysia dengan nilai 20 ribu dolar AS.
“Nilai yang mungkin tidak terlalu besar, tapi itu sustain. Setiap tiga bulan sekali mereka akan minta dikirimkan,” kata Lily.
2. Rumah BUMN BRI Makassar ajak pelaku UMKM naik kelas

UMKM merupakan salah satu penopang ekonomi nasional, sebab mencakup sekitar 99% dari total unit usaha di Indonesia, menurut data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada tahun 2023. UMKM berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga 60,51%, serta menyerap hampir 97% dari total tenaga kerja di Indonesia.
Di sisi lain, kontribusi UMKM kepada ekspor nasional saat ini baru mencapai 15,7% dari total ekspor nasional. Angka yang masih di bawah Singapura (41%) dan Thailand (29%).
“Presiden Joko Widodo pernah berpesan agar UMKM kita tidak hanya harus terus naik kelas, go digital, menguasai pasar lokal, namun juga harus mampu go international untuk menembus pasar ekspor dan pasar global,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, saat membuka Pesta Rakyat UMKM untuk Indonesia di Jakarta, 22 Juli 2024.
UMKM mesti terus didorong untuk naik kelas hingga go global dengan program pemberdayaan berkelanjutan. Hal itu pula yang jadi komitmen BRI melalui berbagai macam program pemberdayaan dan permodalan UMKM, salah satunya melalui Rumah BUMN.
Koordinator Rumah BUMN BRI Makassar, Didi Muhammad menjelaskan, secara sederhana Rumah BUMN adalah wadah bagi UMKM untuk belajar dan mengenalkan produknya ke masyarakat. "Rumah BUMN adalah wadah untuk UMKM untuk naik kelas. Dari yang tidak tahu apa-apa sampai ke jenjang selanjutnya," katanya.
Kegiatan di Rumah BUMN meliputi berbagai pelatihan. Pelaku usaha, antara lain, diajak mengembangkan cara pembuatan produk, pengemasan, hingga pemasaran digital. Salah satu goal-nya, bisa menampilkan produk di electronic commerce atau e-commerce.
Sejak berdiri pada tahun 2017 hingga 2024, Rumah BUMN BRI Makassar telah membantu sekitar 1.200 UMKM dari berbagai daerah, umumnya Sulsel, bahkan hingga Papua. Mereka yang bergabung di sini rata-rata pelaku usaha kuliner, kriya, dan fashion.
Tidak ada seleksi atau kurasi untuk mendaftar di Rumah BUMN BRI Makassar. Kata Didi, paling tidak pelaku usaha memilik produk yang dijual. Syarat daftar wajib punya rekening BRI, karena peserta akan dibantu untuk pembuatan QRIS. Mereka kemudian diikutkan berbagai pelatihan sesuai dengan bidang dan arah usahanya, gratis alias tanpa biaya. Dalam sebulan digelar belasan hingga puluhan pelatihan.
“Kegiatannya pelatihan, peserta didik sampai bisa mengenalkan produknya ke masyarakat luas, itu goals-nya. Misalnya tentang cara mengemas produk, menampilkannya di media sosial, sampai promosi di e-commerce,” Didi menjelaskan.
“Kalau bidang kuliner, kita datangkan chef-nya ke sini, bawakan soal pengolahan. Untuk kemasan dan pemasaran lain juga pematerinya, termasuk untuk urusan digitalnya,” dia menambahkan.
Salah satu bentuk dukungan Rumah BUMN BRI adalah akses permodalan bagi peserta. Pelaku usaha yang dianggap sudah layak melalui sistem scoring, dianjurkan untuk mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) agar bisnisnya semakin berkembang. Tentu setelah mereka melengkapi syarat-syarat khusus seperti izin usaha dan mutasi rekening yang mendukung.
“Ketika sudah gol, kami yang rekomendasikan (KUR), kami yang tanggung jawab. Tapi yang penting mereka bayar angsurannya saja,” kata Didi.
Di sisi lain, Rumah BUMN BRI Makassar mendorong pelaku UMKM binaannya untuk berpartisipasi di BRIncubator. Ini ajang pelatihan inkubasi bagi pelaku UMKM unggulan dari berbagai daerah. Peserta terpilih hasil seleksi mengikuti pelatihan dan pendampingan intensif untuk mengembangkan bisnisnya.
“Diperlombakan di tingkat daerah, lalu siapa yang juara kita kirim ke tingkat nasional dan dipamerkan di Jakarta. “
3. Sebanyak 418 ribu UMKM terdaftar, 12 ribu pelatihan dalam setahun

Saat ini Rumah BUMN milik BRI tersebar di 54 lokasi di seluruh Indonesia. Pada Desember 2023, tercatat lebih dari 418 ribu UMKM terdaftar, dengan jumlah 12 ribu pelatihan. Jumlah yang naik tiga kali lipat dibandingkan 2019.
Direktur Bisnis Mikro BRI Supari menerangkan bahwa program Rumah BUMN sangat efektif memberdayakan pengusaha di segmen mikro bahkan lebih kecil, untuk tumbuh dan berkembang. Apalagi saat ini, BRI telah memiliki Holding Ultra Mikro (UMi) dengan mengintegrasikan proses bisnis Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM), sehingga dapat mempercepat tujuan UMKM naik kelas.
Melalui Rumah BUMN, UMKM diberdayakan untuk melek teknologi melalui digitalisasi hingga mampu ekspor. Tercatat, dari total UMKM yang terdaftar, sudah 49.148 UMKM Go Digital, yang 22.648 di antaranya Go Online, serta 872 UMKM di antaranya sudah Go Global.
Adapun sektor yang dibina oleh Rumah BUMN BRI adalah industri kreatif seperti fashion, food and beverages, accessories & beauty, home décor & craft sebanyak 89.629 UMKM. Sisanya sebanyak 328.959 UMKM berasal dari sektor industri lainnya seperti jasa perdagangan, layanan, pertanian, peternakan, Perkebunan, perikanan, dan lainnya.
“Program seperti ini kami akan perkuat di program yang menjangkau segmen mikro yang lebih bawah lagi, atau yang disebut ultra mikro. Kami bekerja sama dengan PNM dan Pegadaian yang sudah menjadi bagian dari Holding Ultra Mikro. Kita akan persolid dan permudah serta percepat UMKM mulai dari ultra mikro ke mikro hingga menjadi pelaku usaha yang difasilitasi pinjaman komersial,” ucap Supari dalam siaran persnya.
Supari menambahkan, program Rumah BUMN sejalan dengan upaya menaikkelaskan (graduasi) UMKM demi mencapai 90% inklusi keuangan di Indonesia di masa depan. Sebab program ini menekankan pada kualitas pelaku usaha melalui literasi.
“Kami pastikan inisiatif pemerintah yang menargetkan 90% inklusi harus terjadi di tahun 2024 ini pasti terjadi, karena tahun 2023 lalu inklusi keuangan Indonesia sudah mencapai 87%. Maka dengan keberadaan BRI yang sudah menjadi holding ultra mikro dan memiliki Rumah BUMN akan mempercepat, serta meningkatkan literasi yang pada akhirnya akan mempercepat inklusi,” tambahnya.






.png)














