Dimulai Hari Ini, Festival Budaya Kaluppini Rayakan Warisan Leluhur

- Festival Budaya Kaluppini edisi ketiga berlangsung 3-9 Agustus 2026 di Lapangan Puang Pina, Enrekang, sebagai ruang merawat tradisi, seni, dan identitas budaya lokal.
- Festival dua tahunan sejak 2022 ini menghormati nilai adat leluhur melalui ritual Mettoto, permainan tradisional, kelas kuliner, susur kampung, pawai adat, pameran, dan pertunjukan seni.
- Acara ini menjadi wadah edukasi budaya sekaligus ungkapan syukur atas keberkahan alam dan harmoni sosial, dengan melibatkan masyarakat dalam pewarisan cerita, makanan, bahasa, serta kebiasaan.
Makassar, IDN Times - Kabupaten Enrekang di Sulawesi Selatan tidak hanya dikenal dengan lansakp alamnya yang memukau. Daerah ini juga dikenal dengan kekayaan tradisi dan adat istiadat yang sangat kuat. Salah satu bentuk pelestarian kebudayaan masyarakat setempat adalah perhelatan Festival Budaya Kaluppini.
Festival Budaya Kaluppini edisi ketiga ini digelar selama satu pekan penuh, mulai dari Senin (3/8/2026) hari ini hingga Minggu (9/8/2026) mendatang di Lapangan Puang Pina, Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang. Festival tahunan ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi leluhur, seni, serta semangat kebersamaan masyarakat lokal dalam merawat identitas budayanya.
1. Wujud nyata dari komitmen menjaga dan melestarikan warisan leluhur

Festival Budaya Kaluppini diselenggarakan bukan sekadar sebagai panggung hiburan semata. Acara yang dihelat dua tahun sekali sejak tahun 2022 ini menjadi wadah refleksi dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat diajak untuk kembali mengingat akar sejarah sembari memperkuat tali silaturahmi.
"Festival Budaya Kaluppini lahir dari semangat untuk merawat semua itu. Selama beberapa hari, Kaluppini menjadi ruang belajar, ruang berbagi, dan ruang perjumpaan bagi masyarakat untuk kembali menghidupkan pengetahuan yang telah tumbuh dan dijaga oleh leluhur," demikian pernyataan pihak penyelenggara di akun media sosial Instagram resmi mereka, @festbudayakaluppini.
2. Kegiatan selama sepekan diisi dengan sajian ritual adat hingga petunjukan seni tradisional
Selama festival berlangsung, para pengunjung disuguhkan beragam prosesi adat khas masyarakat Kaluppini yang sarat akan makna filosofis. Mulai dari tradisi Mettoto yang merupakan tradisi syukuran atas limpahan berkah dan hasil panen, lomba permainan tradisional (jengka, cukke, gasing, dan lain-lain), serta kelas memasak kuliner khas Kaluppini yang diajarkan langsung oleh ibu-ibu setempat.
Turut pula susur kampung yang diawali dengan mengunjungi Sapo (rumah adat Kaluppini) dan diakhiri dengan membuat aren, lalu juga pawai adat yang melibatkan sejumlah kelompok masyarakat. Dua kegiatan lainnya yakni pameran budaya di mana pengunjung diajak memahami kehidupan masyarakat Kaluppini, serta pertunjukan seni untuk merayakan identitas dan menyampaikan cerita leluhur.
3. Acara ini juga menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Kaluppini

Selain menjadi ajang edukasi budaya, festival ini juga menjadi wujud rasa syukur atas keberkahan alam dan harmoni sosial yang terjaga di tanah Kaluppini. Kebersamaan yang terjalin selama acara menjadi bukti bahwa kebudayaan mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat.
"Setiap masyarakat memiliki warisan yang membentuk cara mereka mengenal dunia. Warisan itu hadir dalam cerita yang dituturkan, permainan yang dimainkan, makanan yang diolah, bahasa yang diucapkan, hingga kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," jelas pihak penyelenggara melalui akun Instagram resmi.



















