Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Seni Cadas Tertua Dunia Ditemukan di Muna Sulawesi Tenggara

Penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (Dok. BRIN)
Penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (Dok. BRIN)

Makassar, IDN Times – Indonesia kembali mencatatkan namanya dalam sejarah peradaban manusia dunia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan temuan terbaru pertanggalan seni cadas tertua di dunia yang berlokasi di Sulawesi Tenggara. Hasil riset ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat penting kajian prasejarah global.

Temuan tersebut mengungkap seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi riset jangka panjang antara BRIN dan sejumlah perguruan tinggi di Australia, serta melibatkan berbagai institusi nasional.

1. Kolaborasi riset BRIN dan universitas Australia berbuah publikasi Nature

Penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (Dok. BRIN)
Penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (Dok. BRIN)

Kepala Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Marlon Nicolay Ramon Ririmasse, menjelaskan bahwa publikasi di jurnal Nature tersebut merupakan hasil kerja sama riset multi-tahun antara BRIN dan Griffith University, Australia.

“Publikasi berjudul Rock Art From at Least Sixty-Five Thousand Years Ago in Sulawesi di jurnal Nature merupakan hasil kolaborasi riset multi-years antara Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN dengan Griffith University. Kolaborasi ini telah menghasilkan sedikitnya 12 publikasi internasional di berbagai jurnal bereputasi, termasuk jurnal Nature,” kata Marlon dalam konferensi pers di Gedung BJ Habibie, Jakarta.

Selain publikasi ilmiah, kolaborasi ini juga menghasilkan produk diseminasi pengetahuan yang dimanfaatkan secara global. Salah satu hasil riset bahkan digunakan sebagai materi Museum George Lucas di Amerika Serikat melalui kerja sama dengan Google Arts & Culture.

2. Seni cadas tertua ditemukan di Pulau Muna

Penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (Dok. IDN Times/Istimewa)
Penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Penelitian kolaboratif yang juga melibatkan Southern Cross University Australia ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu wilayah kunci dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern. Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menegaskan bahwa capaian ini menunjukkan peran strategis BRIN dalam memperkuat riset ilmu sosial humaniora, khususnya arkeologi.

“Publikasi di jurnal Nature menunjukkan bahwa riset ini telah melalui proses ilmiah yang kuat,” ujar Herry.

Namun, menurutnya, publikasi ini bukanlah akhir. “Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga temuan-temuan ini. BRIN berada di wilayah hulu, yakni riset, sementara pelestarian dan pemanfaatan berada pada Kementerian Kebudayaan. Pembagian peran ini jelas dan harus dijalankan secara kolaboratif,” jelasnya.

3. Daerah harap status cagar budaya nasional hingga UNESCO

Penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (Dok. IDN Times/Istimewa)
Penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Dari daerah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muna, Hadi Wahyudi, menyampaikan apresiasi atas hasil riset tersebut yang dinilai membawa kebanggaan bagi masyarakat setempat.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Muna sangat berbangga dengan hasil penelitian ini, karena memberikan kebanggaan bagi kami sebagai masyarakat Suku Muna. Ini adalah warisan leluhur yang tentu akan terus kita jaga,” ujarnya.

Hadi menjelaskan bahwa lokasi temuan berada di kawasan gua yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi. Ia berharap, ke depan status kawasan tersebut dapat meningkat menjadi cagar budaya nasional, bahkan diusulkan sebagai warisan dunia UNESCO.

“Kawasan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat provinsi. Harapannya, ke depan, statusnya dapat meningkat menjadi cagar budaya nasional, bahkan warisan dunia UNESCO,” katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Seni Cadas Tertua Dunia Ditemukan di Muna Sulawesi Tenggara

23 Jan 2026, 09:15 WIBNews