Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sampah Organik Dominasi 54 Persen Timbulan Sampah di Makassar

Sampah Organik Dominasi 54 Persen Timbulan Sampah di Makassar
TPA Tamangapa, Antang, Makassar. IDN Times/Sahrul Ramadan.
Intinya Sih
  • Sampah organik mendominasi 54 persen timbulan sampah di Makassar dan menjadi sumber utama bau, air lindi, serta gas metana di TPA Tamangapa.
  • Pemerintah mendorong warga mengolah sampah organik dari rumah menggunakan komposter, metode Teba, atau budidaya maggot agar bernilai ekonomi dan mengurangi beban TPA.
  • Mulai 1 Agustus 2026, TPA Tamangapa hanya menerima sampah residu seiring kebijakan pemilahan sampah dari sumber untuk mendukung sistem pengelolaan yang lebih ramah lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mengungkapkan sampah organik masih mendominasi timbulan sampah di Kota Makassar. Jenis sampah ini mencapai sekitar 54 persen dari total sampah harian dan menjadi penyebab utama munculnya bau menyengat, air lindi, serta gas metana di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa.

Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan dominasi sampah organik menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di Makassar. Karena itu, pemerintah kota mulai mendorong pemilahan sampah sejak dari sumber untuk mengurangi beban yang masuk ke TPA.

"Selama ini persoalan utama di TPA Tamangapa berasal dari dominasi sampah organik yang mencapai sekitar 54 persen dari total sampah yang masuk setiap hari, " kata Helmy, Rabu (22/7/2026).

1. Sampah organik jadi penyebab bau, lindi, dan gas metana

TPA Tamangapa, Antang, Makassar. IDN Times/Sahrul Ramadan
TPA Tamangapa, Antang, Makassar. IDN Times/Sahrul Ramadan

Helmy menjelaskan sampah organik yang tercampur dengan jenis sampah lain akan cepat membusuk. Proses pembusukan tersebut menghasilkan air lindi yang berpotensi mencemari lingkungan serta gas metana yang dapat meningkatkan risiko kebakaran dan memperburuk emisi gas rumah kaca.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah menghentikan praktik open dumping. Selanjutnya, sistem pengelolaan sampah akan beralih menuju controlled landfill yang lebih ramah lingkungan.

"Sampah organik menjadi sumber masalah karena sangat cepat membusuk. Bahkan, sampah ini menghasilkan air lindi dan gas metana yang berpotensi mencemari lingkungan," katanya. 

2. Sampah organik didorong diolah dari rumah tangga

TPA Tamangapa, Antang, Makassar. IDN Times/Sahrul Ramadan
TPA Tamangapa, Antang, Makassar. IDN Times/Sahrul Ramadan

Untuk mengurangi timbulan sampah di TPA, DLH mengimbau masyarakat mengolah sampah organik sejak dari rumah. Pengolahan dapat memanfaatkan komposter, ember tumpuk, metode Teba, maupun budidaya maggot.

Helmy mengatakan hasil pengolahan sampah organik tersebut juga memiliki nilai ekonomi. Kompos dapat dimanfaatkan untuk tanaman, sedangkan hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau dijual kembali.

"Dari pengolahan itu bisa menghasilkan kompos maupun pakan ternak yang memiliki nilai ekonomi," katanya.

3. Mulai 1 Agustus TPA hanya menerima sampah residu

TPA Tamangapa, Antang, Makassar. IDN Times/Sahrul Ramadan
TPA Tamangapa, Antang, Makassar. IDN Times/Sahrul Ramadan

Sejalan dengan kebijakan nasional, mulai 1 Agustus 2026 TPA Tamangapa secara bertahap hanya akan menerima sampah residu. Sementara sampah organik dan anorganik diharapkan telah dipilah dan dikelola di tingkat rumah tangga maupun kawasan.

Pemerintah Kota Makassar terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya. Upaya tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan baru sekaligus mendukung transformasi pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

"Karena itu kita harus menghentikan sistem open dumping dan beralih ke sistem yang lebih aman," kata Helmy.

Share Article
Editorial Team

Latest News Sulawesi Selatan

See More