Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Atasi Antrean BBM, Wali Kota Makassar Usul Truk Antre Malam

Kota Makassar
Atasi Antrean BBM, Wali Kota Makassar Usul Truk Antre Malam
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin berdiskusi dengan pihak Pertamina Regional Sulawesi terkait antrean BBM di sejumlah SPBU, Jumat (11/9/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)
  • Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengusulkan truk dan bus mengisi BBM pukul 21.00-05.00 WITA, sementara pagi hingga sore diprioritaskan bagi kendaraan pribadi.
  • Munafri meminta Pertamina mengklaster SPBU berdasarkan kapasitas dan akses jalan, serta mengaktifkan seluruh nozzle beserta petugas untuk mempercepat pengisian dan mengurangi dampak antrean.
  • Pertamina Patra Niaga Sulawesi membuka 25 SPBU selama 24 jam, memetakan titik padat, dan menambah penyaluran Solar sekitar 15 persen serta Pertalite 8-10 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengusulkan pengaturan waktu khusus bagi kendaraan besar seperti truk dan bus untuk mengantre BBM di SPBU. Usulan ini disampaikan sebagai upaya mengurai antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU di Kota Makassar.

Munafri mengusulkan kendaraan truk dan bus diarahkan mengantre pada malam hingga dini hari. Sementara pada siang hari, SPBU diprioritaskan bagi kendaraan pribadi masyarakat.

"Saya juga usulkan agar kendaraan besar seperti truk dan bus tidak lagi bebas mengantre sepanjang waktu, melainkan diberikan jadwal khusus pada malam hingga dini hari," kata Munafri, dikutip Sabtu (12/9/2026).

  1. 1. Truk dan bus diusulkan antre pukul 21.00-05.00 WITA

    IMG_20260717_175341.jpg
    Truk dan bus mengantre di SPBU Pintu 1 Universitas Hasanuddin (Unhas), Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Jumat (17/7/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Menurut Munafri, antrean kendaraan besar yang bercampur dengan sepeda motor dan mobil pribadi berpotensi memperparah kepadatan lalu lintas. Kondisi tersebut dinilai semakin berdampak pada SPBU yang berada di ruas jalan dengan akses terbatas.

    "Sehingga saya meminta kepada pihak Pertamina wilayah Sulawesi untuk mengatur waktu sebagai solusi. Tidak ada lagi antrean truk dan bus yang panjang, semau-maunya mau antre. Harus ditentukan jam antreannya," jelasnya.

    Dia mengusulkan kendaraan besar mendapat waktu pengisian mulai pukul 21.00 hingga 05.00 WITA. Setelah itu, pelayanan pada pagi hingga sore hari dapat lebih diprioritaskan untuk kendaraan pribadi.

    "Anggaplah dari malam jam 9 sampai jam 5 pagi itu, truk dan bus saja bisa antre. Jam 6 hingga sore jangan lagi, giliran kendaraan pribadi," katanya.

    Munafri juga meminta pengaturan tersebut tidak diterapkan secara seragam di seluruh SPBU. Menurutnya, perlu ada pengelompokan berdasarkan kondisi dan kapasitas masing-masing SPBU.

    "Tidak boleh bersamaan semuanya. Semua SPBU, semua bus dan truk bisa masuk, tidak boleh. Harus ada yang khusus untuk kendaraan pribadi yang tidak boleh diganggu sama bus," imbuhnya.

  2. 2. SPBU diminta diklaster

    IMG-20260314-WA0121.jpg
    Ilustrasi SPBU. (Dok. Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi)

    Munafri mengatakan setiap SPBU di Makassar memiliki karakteristik berbeda. Sebagian berada di ruas jalan yang luas, sementara lainnya berada di jalan dengan akses terbatas.

    "Kan, tidak semua SPBU ini bentuknya sama di Makassar. Ada area yang jalannya kecil. Kalau jalannya kecil terus di situ antre bus, ya macet semua," jelasnya.

    Karena itu, dia meminta Pertamina memetakan dan mengelompokkan SPBU sesuai fungsi dan kondisi lapangan. Sebagian SPBU dapat diprioritaskan untuk kendaraan besar, sedangkan lokasi lainnya melayani kendaraan pribadi.

    "Kami minta setelah satu minggu ini menyusun rencana strategis untuk memastikan SPBU mana yang sudah diklaster, yang tidak boleh bercampur, dan mana khusus untuk bus dan sebagainya," katanya.

    Munaffri berharap rencana strategis tersebut segera disusun. Skema pengaturan itu diharapkan mulai diuji di sejumlah SPBU pada awal pekan depan.

  3. 3. Semua nozzle SPBU diminta diaktifkan

    IMG-20260911-WA0286.jpg
    Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau kondisi antrean BBM dan pelayanan SPBU di Makassar, Jumat (11/9/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

    Selain mengatur kendaraan berdasarkan waktu dan lokasi, Munafri meminta Pertamina dan pengelola SPBU mengoptimalkan seluruh nozzle yang tersedia. Setiap nozzle juga harus memiliki petugas agar proses pengisian dapat berlangsung lebih cepat.

    "Saya minta pihak Pertamina dan Pengelola aktifkan semua Nozzle SPBU dioptimalkan, juga penanganan  petugas setiap mesin Nozzle, jangan dibiarkan kosong," saran Munafri.

    Dia mengatakan antrean BBM saat ini sudah berdampak pada aktivitas masyarakat dan pelayanan publik. Bahkan, kendaraan pengangkut sampah milik Pemkot Makassar turut terdampak karena harus mengantre BBM.

    "Kalau coba kita lihat, truk-truk pengangkut sampah ini terlambat semuanya. Orang-orang yang mau pergi sekolah, mau ke mana terlambat semuanya," ungkapnya.

    Menurut Munaffri, kondisi tersebut membutuhkan penanganan bersama. Upaya itu diperlukan agar kebutuhan BBM masyarakat tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kelompok pengguna lainnya.

    "Masyarakat itu tidak boleh dikorbankan, sehingga butuh kolaborasi agar penanganan ini masalah cepat dapat jalan keluar," tegasnya.

  4. 4. Pertamina tambah jam operasional SPBU

    IMG_20260217_123222.jpg
    Ilustrasi SPBU. (IDN Times/Ashrawi Muin)

    Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyatakan telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurai antrean BBM di Makassar. Salah satunya dengan menambah jam operasional SPBU dan membuka layanan 24 jam di sejumlah lokasi.

    Salah satunya dengan memperpanjang waktu operasional SPBU. Sejumlah SPBU di Makassar kini telah beroperasi selama 24 jam.

    "Sejauh ini sudah ada 25 SPBU yang buka 24 jam. Nanti kita lihat kondisinya. Apabila memang diperlukan, tentu akan kita tambah," kata Deny.

    Menurutnya, jumlah SPBU yang beroperasi 24 jam dapat berubah menyesuaikan kondisi antrean di lapangan. Pertamina juga telah memetakan SPBU yang mengalami kepadatan untuk kemudian mendapat penguatan pasokan.

    "Intinya adalah bagaimana kita bisa mengurai antrean ini. Jadi jumlah SPBU nanti mungkin akan sangat dinamis, menyesuaikan kondisi antrean," jelasnya.

    Deny mengatakan penyaluran BBM juga telah ditambah untuk memenuhi peningkatan kebutuhan. Penyaluran Solar berada sekitar 15 persen di atas kondisi normal, sedangkan Pertalite meningkat sekitar 8 persen dan pada kondisi tertentu mencapai 10 persen.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More