Rute Awal Pete-pete Laut Makassar, Warga Pulau Wajib Tahu!

- Pemerintah Kota Makassar segera mengoperasikan pete-pete laut sebagai transportasi reguler yang menghubungkan daratan dengan pulau-pulau strategis, termasuk Barrang Lompo hingga pulau terluar seperti Lumu-Lumu dan Lanjukang.
- Rute awal telah melalui survei untuk menghitung kebutuhan operasional seperti waktu tempuh dan bahan bakar, namun masih menunggu penyesuaian sesuai kondisi cuaca dan lapangan.
- Pemkot berencana memperluas layanan ke pulau lain seperti Kodingareng jika jumlah armada bertambah, sementara saat ini hanya tersedia satu kapal kayu berkapasitas sekitar 25–30 penumpang.
Makassar, IDN Times - Pemerintah Kota Makassar segera mengoperasikan layanan transportasi laut pete-pete laut untuk memudahkan mobilitas warga kepulauan. Pada tahap awal, rute yang disiapkan mencakup sejumlah pulau strategis hingga wilayah terluar.
Kapal tersebut nantinya akan difungsikan sebagai moda transportasi reguler yang menghubungkan pulau satu dengan pulau lainnya. Layanan ini akan beroperasi dengan trayek tetap.
Buat kamu yang tinggal di pulau atau berencana bepergian antarpulau, berikut gambaran rute awal pete-pete laut yang perlu diketahui.
1. Rute dimulai dari daratan ke Pulau Barrang Lompo

Perjalanan akan dimulai dari daratan Makassar menuju Pulau Barrang Lompo. Pulau ini menjadi salah satu titik utama karena memiliki aktivitas penduduk yang cukup padat dan akses dermaga yang tersedia.
Dari Pulau Barrang Lompo, rute berlanjut ke pulau-pulau terluar, yakni Pulau Lumu-Lumu, Pulau Langkai, dan Pulau Lanjukang. Pulau-pulau ini selama ini dikenal memiliki akses transportasi terbatas, sehingga kehadiran pete-pete laut diharapkan dapat membuka konektivitas lebih luas.
Setelah menjangkau pulau terluar, kapal akan kembali melalui jalur yang sama menuju Barrang Lompo sebelum kembali ke daratan Makassar. Sistem ini membuat layanan berjalan seperti angkutan umum dengan trayek tetap.
2. Rute masih dalam tahap penyesuaian operasional

Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar, Muhammad Rheza, mengatakan rute tersebut telah melalui tahap survei awal. Tahapan ini digunakan untuk menghitung kebutuhan operasional.
Rute ini masih menunggu penyesuaian dengan kondisi di lapangan. Cuaca, waktu tempuh, hingga kebutuhan bahan bakar menjadi faktor yang ikut menentukan jalur pelayaran.
"Jadi, kami mulai dari daratan menuju Barrang Lompo, kemudian kami hitung kebutuhan BBM dan waktu tempuhnya," kata Rheza.
3. Berpotensi berkembang jika armada bertambah

Meski saat ini Pemkot telah memiliki satu unit kapal untuk operasional, peluang penambahan rute baru tetap terbuka. Pemkot juga mempertimbangkan perluasan layanan ke pulau lain seperti Pulau Kodingareng jika jumlah kapal sudah mencukupi.
"Kalau Kodingareng memang masih kami pikirkan, karena posisinya lebih keluar. Tapi kalau nanti ada tambahan kapal, bisa saja dibuat rute khusus Barrang Lompo ke Kodingareng," katanya.
Saat ini, armada yang disiapkan berupa kapal kayu dengan kecepatan maksimal sekitar 7 knot dalam kondisi laut normal. Kapal ini mampu mengangkut sekitar 25 hingga 30 penumpang, dengan kapasitas yang dapat menyesuaikan tergantung muatan barang.
















