4.280 Petani-Peternak Sulselrabar Pangkas Biaya Berkat Electrifying Agriculture PLN

- Program Electrifying Agriculture PLN di Sulselrabar telah menjangkau 4.280 pelanggan dengan total daya 206.312 kVA, mendorong efisiensi dan modernisasi sektor pertanian serta peternakan.
- Petani di Sidrap berhasil menekan biaya operasional pompa irigasi dari sekitar Rp2,25 juta menjadi Rp270 ribu per bulan berkat penggunaan listrik yang lebih hemat dan ramah lingkungan.
- Peternakan ayam CV Cahaya Tiga Putri menghemat hingga Rp180 juta per bulan setelah beralih ke listrik PLN, meningkatkan efisiensi produksi dan otomatisasi sistem kandang.
Makassar, IDN Times – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) terus memperluas Program Electrifying Agriculture (EA) untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Program ini mendorong pemanfaatan energi listrik pada sektor pertanian dan peternakan guna meningkatkan efisiensi operasional serta produktivitas masyarakat.
Hingga Mei 2026, jumlah pelanggan Program Electrifying Agriculture di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat tercatat mencapai 4.280 pelanggan. Total daya terpasang yang digunakan mencapai 206.312 kiloVolt Ampere (kVA), menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan listrik dalam modernisasi sektor agrikultur.
Salah satu implementasi program tersebut berada di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Pemanfaatan listrik di daerah ini mendukung Program Optimalisasi Lahan dan Listrik Masuk Sawah yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Sidrap.
1. Petani Sidrap hemat hingga jutaan rupiah per bulan

Di kawasan persawahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Duampanua, Desa Baranti, petani mulai memanfaatkan listrik untuk mengoperasikan pompa irigasi. Kawasan persawahan seluas kurang lebih 1.750 hektare tersebut kini memiliki 11 titik pompa listrik yang telah beroperasi sejak April 2026.
Sebelumnya, pompa air menggunakan bahan bakar gas dan diesel dengan biaya operasional yang relatif tinggi. Dalam sehari, petani membutuhkan sekitar tiga tabung LPG 3 kilogram dengan total biaya mencapai Rp75 ribu atau sekitar Rp2,25 juta per bulan.
Setelah beralih menggunakan listrik, rata-rata konsumsi energi pompa hanya sekitar 250 kWh per bulan dengan biaya sekitar Rp270 ribu. Artinya, biaya operasional dapat ditekan hingga lebih dari delapan kali lipat dibanding sebelumnya.
Ketua Gapoktan Duampanua, Ruslan, mengatakan penggunaan listrik membawa perubahan besar bagi aktivitas pertanian masyarakat.
"Kami merasa sangat terbantu sejak menggunakan listrik untuk pompa air. Sebelumnya kami harus membeli dan mengangkut gas setiap hari. Sekarang jauh lebih mudah dan biaya produksi bisa ditekan hingga tiga sampai empat kali lebih hemat dibanding sebelumnya," ujarnya.
"Selain itu, dengan menggunakan listrik pengoperasional juga lebih nyaman digunakan karena tidak bising dan lebih ramah lingkungan," tambah Ruslan.
2. Peternakan ayam hemat Rp180 juta per bulan

Program Electrifying Agriculture juga mendorong modernisasi sektor peternakan di Sidrap. Salah satunya diterapkan di peternakan ayam petelur CV Cahaya Tiga Putri yang kini menggunakan daya listrik sebesar 555 kVA dengan tambahan daya 197 kVA untuk pengembangan kandang modern.
Sebelum menggunakan listrik PLN, kebutuhan energi peternakan dipenuhi melalui pembangkit diesel dengan biaya produksi sekitar Rp4.500 per kWh. Setelah beralih ke listrik PLN, biaya energi turun menjadi sekitar Rp1.100 per kWh.
Jika sebelumnya biaya operasional energi mencapai Rp240 juta per bulan, kini hanya sekitar Rp60 juta per bulan. Dengan demikian, peternakan mampu menghemat biaya hingga Rp180 juta setiap bulannya.
Direktur CV Cahaya Tiga Putri, Usman Appas, menyebut kehadiran listrik PLN mendukung pengelolaan usaha yang lebih efisien.
"Dengan listrik PLN, kegiatan operasional peternakan menjadi jauh lebih hemat, mudah, dan efisien. Seluruh sistem kandang dapat berjalan secara otomatis sehingga pengelolaan ternak menjadi lebih optimal," katanya.
"Kami juga tidak lagi harus menyediakan dan mengelola stok bahan bakar diesel dalam jumlah besar untuk kebutuhan harian. Hal ini tentu sangat membantu peningkatan produktivitas sekaligus pengembangan usaha kami," lanjut Usman.
3. PLN dorong modernisasi agrikultur

Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, mengapresiasi dukungan PLN terhadap petani yang mulai beralih menggunakan pompanisasi listrik. Ia juga optimistis pemanfaatan listrik pada sistem pompanisasi dapat mendukung peningkatan frekuensi panen hingga tiga kali dalam setahun.
"Kami sebagai perwakilan warga serta petani mengucapkan terima kasih atas upaya PLN dalam menghadirkan pompanisasi listrik. Kami optimis dengan adanya listrik, bisa meningkatkan produktivitas hasil panen petani di sini," ujarnya.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mengatakan Program Electrifying Agriculture merupakan salah satu langkah strategis PLN untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
"PLN tidak hanya menghadirkan listrik sebagai kebutuhan dasar saja, tetapi juga sebagai energi penggerak produktivitas. Melalui Program Electrifying Agriculture, kami ingin membantu petani dan peternak meningkatkan hasil produksi dengan menghemat biaya operasional," katanya.
"Program ini juga menjadi bentuk dukungan PLN terhadap kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional," ucap Edyansyah.

















