Bawaslu Sulsel Ajak Anak Muda Awasi Pemilu dan Cegah Politik Uang

- Bawaslu Sulsel melalui Saiful Jihad mengajak generasi muda aktif mengawasi pemilu dan mencegah politik uang lewat program Pendidikan Pengawas Partisipatif di Kabupaten Bone.
- Saiful menyoroti kemajuan teknologi yang memunculkan bentuk baru politik uang, sehingga anak muda perlu memahami dunia digital untuk mendeteksi pelanggaran di ruang siber.
- Kegiatan ini diharapkan melahirkan gerakan literasi demokrasi menjelang Pemilu 2029, dengan generasi muda yang kreatif, adaptif, dan berperan dalam pengawasan partisipatif.
Makassar, IDN Times - Anggota Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan, Saiful Jihad, mengajak generasi muda berperan aktif dalam mengawasi jalannya pemilu dan mencegah berbagai bentuk pelanggaran, termasuk praktik politik uang. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan luring Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) yang digelar Bawaslu Kabupaten Bone di Watampone, Senin (8/6/2026).
Saiful menilai menjaga integritas pemilu bukan hanya menjadi tugas penyelenggara pemilu. Menurutnya, keterlibatan masyarakat, khususnya kalangan muda, juga dibutuhkan untuk mengawasi dan mencegah pelanggaran pemilu.
"Jika praktik money politik dan pelanggaran lainnya kita anggap merusak demokrasi lantas kenapa kita tidak berdiri untuk mencegah," kata Saiful.
1. Generasi muda diajak terlibat dalam pengawasan partisipatif

Saiful menjelaskan Bawaslu menghadirkan program Pendidikan Pengawas Partisipatif untuk mendorong kepedulian masyarakat terhadap pengawasan pemilu. Melalui program tersebut, masyarakat diajak terlibat dalam upaya pencegahan dan pengawasan pelanggaran pemilu secara terstruktur.
Menurut Saiful, pengawas partisipatif memiliki peran dalam memperkuat upaya pencegahan pelanggaran pemilu. Peran tersebut dinilai semakin dibutuhkan menjelang Pemilu 2029.
"Maka Bawaslu hadir, adik-adik hadir untuk mengawasi dan mencegah pelanggaran itu agar tidak terjadi," katanya.
2. Teknologi memunculkan bentuk baru politik uang

Saiful juga menyoroti perkembangan teknologi yang memengaruhi pola pelanggaran pemilu. Dia menyebut praktik politik uang kini berkembang dengan berbagai bentuk baru yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri bagi pengawas pemilu. Karena itu, generasi muda dinilai perlu memiliki kemampuan dan pemahaman digital agar dapat mendeteksi potensi pelanggaran yang terjadi di ruang siber.
"Banyak jenis praktik politik uang, kecanggihan teknologi sekarang memperkaya bentuk-bentuk money politik, maka dibutuhkan generasi yang paham dengan kecanggihan itu," katanya.
3. Diharapkan lahir gerakan literasi demokrasi menjelang Pemilu 2029

Dalam kegiatan tersebut, Saiful berharap peserta tidak hanya menerima materi pelatihan. Peserta juga didorong aktif membangun diskusi dan melahirkan gagasan baru terkait pengawasan pemilu.
Menurut Saiful, pendidikan pengawas partisipatif dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan dalam pengawasan pemilu. Forum tersebut juga diharapkan mendorong lahirnya generasi yang kreatif, adaptif, dan mampu menyebarkan literasi demokrasi kepada masyarakat luas.
"Yang kita harapkan dari kegiatan ini adalah bagaimana kita membangun diskusi yang lebih inovatif dan menjadi snow ball nantinya di pemilu 2029," kata Saiful.


















