Rasa Malu Masih Jadi Kendala Deteksi Kanker Serviks pada Perempuan

- Rasa malu masih menjadi kendala utama perempuan dalam deteksi dini kanker serviks, hal ini membuat banyak perempuan enggan melakukan pemeriksaan genital.
- Puskesmas telah menyediakan layanan deteksi kanker serviks dengan screening IVA, namun hanya 0,7% perempuan yang terdeteksi melakukan pemeriksaan.
- Makassar masuk dalam pilot project imunisasi HPV untuk anak perempuan usia 11 dan 12 tahun sebagai upaya pencegahan kanker serviks sejak dini.
Makassar, IDN Times - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Makassar, Dokter Andi Mariani, mengungkapkan kendala yang dihadapi dalam deteksi kanker serviks pada perempuan. Rupanya rasa malu masih kerap menghalangi perempuan menjalani pemeriksaan genital untuk mendeteksi kanker serviks.
Hal itu diungkapkannya di sela kegiatan pelatihan keterampilan tenaga kesehatan dan guru untuk imunisasi HPV di Hotel Santika, Makassar, Kamis (3/10/2024).
"Pertama mungkin malu ya karena kan kalau pemeriksaan pasti ada masih tabu, masih enggan atau barangkali mereka menganggap ini sesuatu yang biasa-biasa saja, tidak menganggap seberbahaya itu," kata Mariani.
1. Pemerintah harus menguatkan edukasi mengenai bahaya kanker serviks

Mariani mengatakan kendala ini menjadi PR bagi semua pihak termasuk pemerintah. Pemerintah harus menguatkan edukasi masyarakat mengenai bahaya kanker serviks.
"Karena tidak tahu bahwa sebagaimana berbahayanya itu tidak melakukan pemeriksaan. Padahal ini semua tersedia di Puskesmas," kata Mariani.
2. Masih kurang perempuan yang deteksi dini

Mariani mengatakan Puskesmas sudah menyediakan layanan deteksi kanker serviks yaitu screening IVA (Inpeksi Visual Asam Asetat). Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengoleskan asam asetat atau cuka dapur encer pada leher rahim.
Hanya saja, belum banyak perempuan yang memeriksakan dirinya untuk deteksi kanker serviks. Kalaupun ada, jumlah yang terdeteksi diperkirakan hanya 0,7 persen.
"Memang belum cukup banyak perempuan yang dilakukan pemeriksaan sehingga datanya juga masih agak bias," kata Mariani.
3. Fokus pencegahan melalui imunisasi

Fokus utama saat ini yaitu pencegahan. Terlebih lagi, Makassar masuk dalam pilot project untuk imunisasi HPV sebagai program pencegahan kanker serviks oleh Kementerian Kesehatan.
Imunisasi HPV ini menyasar anak sekolah perempuan usia 11 dan 12 tahun. Anak perempuan disasar karena umumnya mereka belum memasuki fase menstruasi dan belum aktif secara seksual.
Imunisasi HPV diharapkan bisa membentuk sistem kekebalan tubuh anak sehingga mencegah human papilloma virus penyebab kanker serviks. Imunisasi diyakini sebagai salah satu upaya pencegahan paling awal.
"Karena memang kalau misalnya kita lihat ada kan lebih baik mencegah daripada mengobati ya," kata Mariani.


















