Mengintip Dapur Simpati Lombok Kuning Makassar, Olah 150 Kg Cabai Sehari

Simpati Lombok Kuning di Makassar mengolah sekitar 150 kilogram cabai rawit per hari menjadi kurang lebih 1.800 botol sambal, dengan pasokan dari Enrekang, Pangkep, dan Takalar.
Usaha pasangan Ridwan Wahyudi Candra dan Melyana Khohari beralih dari pengisian manual ke filling machine otomatis bantuan Bank Indonesia pada 2025, sementara mesin penutup botol masih dibutuhkan.
Lonjakan harga cabai hingga Rp75 ribu per kilogram membuat produksi dan pesanan baru dibatasi; sambal dalam tiga ukuran telah masuk ritel nasional serta dikirim ke Jepang dan Selandia Baru.
Makassar, IDN Times - Aroma cabai yang menusuk hidung langsung menyambut area luar tempat produksi Simpati Lombok Kuning di Jalan Sulawesi Nomor 204, Kelurahan Melayu Baru, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Kamis (22/10/2026). Di tempat inilah cabai rawit diolah menjadi sambal kemasan yang dipasarkan ke berbagai daerah, bahkan mulai menjangkau pasar luar negeri.
Di balik botol-botol sambal berwarna kuning oranye yang tersusun untuk dipasarkan, ada proses produksi yang melibatkan pasokan bahan baku dari sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Dalam sehari, usaha yang dikelola pasangan suami istri Ridwan Wahyudi Candra (45) dan Melyana Khohari (45) ini mengolah sekitar 150 kilogram cabai untuk menghasilkan kurang lebih 1.800 botol sambal.
Produksi berlangsung sejak pagi hingga sekitar pukul 18.00 WITA. Sejumlah pekerja terlibat dalam kegiatan pengolahan, pengemasan, hingga penyiapan produk sebelum didistribusikan kepada pelanggan.
Saat memasuki area produksi, kami harus memperhatikan kebersihan. Kami diminta mengenakan alat pelindung diri berupa apron, penutup kepala, dan masker. Ketentuan tersebut diterapkan untuk menjaga kebersihan selama berada di ruang pengolahan sambal.
Melyana menjelaskan ruang produksi mereka memiliki area yang terbatas. Karena itu, kami harus bergantian saat mengenakan perlengkapan pelindung diri sebelum melihat langsung proses pembuatan sambal.
"Bisa masuk berdua, bergantian karena tempatnya cukup sempit," kata Melyana saat ditemui di lokasi produksi.
Aroma cabai yang tajam langsung menyeruak begitu pintu ruang produksi dibuka. Aromanya tercium tajam terlebih ruangannya yang tidak terlalu luas itu. Bagi yang tidak terbiasa, aroma tersebut bisa membuat siapa pun yang berada di sana terbatuk-batuk.
Di dalam ruang produksi, cabai rawit tampak memenuhi sejumlah ember besar yang disiapkan untuk diolah. Sebagian cabai lainnya telah dimasak dan siap melanjutkan ke tahap produksi berikutnya.
Sementara itu, sebagian cabai lainnya dimasukkan ke mesin penggilingan. Proses ini menjadi salah satu tahapan dalam pengolahan cabai sebelum menjadi sambal siap dikemas.
1. Cabai didatangkan dari sejumlah daerah

Proses produksi sambal botol Simpati Lombok Kuning di Jalan Sulawesi, Kota Makassar, Kamis (22/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Bahan baku menjadi bagian penting dalam proses produksi Simpati Lombok Kuning. Cabai rawit yang digunakan dipasok setiap hari dari sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, di antaranya Enrekang, Pangkep, dan Takalar.
Ridwan mengatakan pasokan dari daerah tersebut dibutuhkan karena lahan budidaya cabai di Kota Makassar terbatas. Mereka memperoleh cabai melalui pengepul yang memasok bahan baku dalam kondisi sudah terlepas dari tangkainya.
"Kami kerja sama sama pengepul. Karena dari tingkat petani itu datang masih ada tangkainya, sedangkan yang kami gunakan sudah lepas tangkai," kata Ridwan saat menunjukkan proses di dalam ruang produksi.
Penggunaan cabai yang sudah dibersihkan dari tangkainya membantu mempercepat proses pengolahan. Menurut Ridwan, jika harus memisahkan tangkai cabai sendiri, maka mereka membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga kerja.
Selain cabai rawit, bahan yang digunakan untuk membuat sambal antara lain bawang putih. Perpaduan jenis cabai menghasilkan warna kuning yang menjadi ciri khas produk tersebut.
Melyana menegaskan warna sambal tidak berasal dari pewarna tambahan, melainkan dari perpaduan cabai yang digunakan dalam proses pembuatan. Ada cabai berwarna rawit merah, oranye, kuning dan hijau.
Jika semua warna ini dicampur maka akan menghasilkan sambal oranye yang khas. Beda lagi jika hanya mencampur cabai rawit merah saja.
"Jadi kami tanpa pewarna. Cabai merah, kuning, hijau, diblender. Bukan cabai merah seutuhnya. Kalau cabai merah semua, jadinya seperti sambal merah biasanya," katanya.
Simpati Lombok Kuning memiliki cita rasa pedas yang cenderung asam. Rasa tersebut berasal dari campuran cuka dalam proses pembuatannya.
2. Dari pengisian manual ke mesin otomatis

Proses produksi sambal botol Simpati Lombok Kuning di Jalan Sulawesi, Kota Makassar, Kamis (22/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Perkembangan kapasitas produksi turut mendorong Simpati Lombok Kuning memperbaiki peralatan yang digunakan. Pada awal usaha, sambal dibuat menggunakan blender dengan modal yang relatif kecil.
Seiring meningkatnya permintaan, proses produksi pun berkembang. Salah satu perubahan penting terjadi ketika mereka memperoleh bantuan mesin pengisian sambal otomatis atau filling machine dari Bank Indonesia pada 2025.
Sebelumnya, pengisian sambal ke dalam botol masih menggunakan cara manual. Penggunaan mesin membantu mempercepat proses tersebut sekaligus mendukung upaya menjaga kebersihan produksi.
Melyana mengatakan usaha mereka mulai mengikuti pembinaan BI sejak 2024. Bantuan mesin kemudian menjadi salah satu bentuk dukungan yang diberikan BI untuk menunjang proses produksi.
Meski demikian, proses pengemasan masih membutuhkan pengembangan. Mereka masih mengincar mesin penutup botol otomatis atau capping machine untuk melengkapi peralatan yang sudah dimiliki.
"Kalau untuk mesin, kami sisa capping aja sih kurangnya," kata Melyana.
Menurutnya, mesin tersebut dibutuhkan agar proses pengemasan dapat berjalan lebih efisien. Namun, pengadaan peralatan baru memerlukan biaya yang cukup besar sehingga mereka berupaya mengembangkan usaha secara bertahap.
3. Produksi menyesuaikan harga cabai

Proses produksi sambal botol Simpati Lombok Kuning di Jalan Sulawesi, Kota Makassar, Kamis (22/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Besarnya produksi harian tidak membuat Simpati Lombok Kuning selalu mengolah cabai dalam jumlah yang sama. Fluktuasi harga bahan baku menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan volume produksi.
Saat harga cabai rawit berada dalam kondisi normal, Melyana menyebut harganya berkisar Rp30 ribu hingga Rp32 ribu per kilogram. Namun, ketika ditemui pada Kamis (22/10/2026), harga bahan baku yang masuk ke tempat produksi mencapai Rp75 ribu per kilogram.
Kenaikan tersebut membuat biaya produksi meningkat dan menekan keuntungan usaha. Untuk menyiasatinya, mereka mengurangi intensitas produksi dan memprioritaskan pelanggan tetap.
"Ketika cabai rawit turun, kami produksinya lebih banyak. Tapi ketika cabai rawitnya naik seperti ini, kami juga merem," kata Melyana.
Ketika harga bahan baku turun, mereka justru meningkatkan produksi untuk menyiapkan stok. Dalam kondisi tertentu, pekerja bahkan dapat menjalani jam kerja tambahan demi memenuhi kebutuhan persediaan.
Sebaliknya, saat harga cabai melonjak, mereka lebih selektif menerima pesanan baru, terutama dari pelanggan yang belum memiliki hubungan kerja sama sebelumnya. Strategi tersebut diterapkan agar usaha tetap berjalan tanpa harus terburu-buru menaikkan harga jual sambal.
4. Tiga ukuran kemasan untuk pasar yang lebih luas

Produk sambal Simpati Lombok Kuning di Makassar. IDN Times/Asrhawi Muin Simpati Lombok Kuning menyediakan tiga ukuran kemasan, yakni 140 mililiter, 330 mililiter, dan 600 mililiter. Ukuran 140 mililiter menjadi salah satu produk yang banyak dipasarkan melalui toko kelontong.
Produk mereka juga telah menjangkau berbagai jaringan ritel, seperti Alfamart, Alfamidi, Indomaret, dan sejumlah supermarket. Distribusi tersebut membuat sambal asal Makassar ini dapat ditemukan di luar wilayah Sulawesi Selatan.
Selain pasar domestik, Simpati Lombok Kuning telah mengirim produk ke Jepang dan Selandia Baru dalam jumlah beberapa karton untuk setiap pengiriman. Mereka juga tengah mengembangkan peluang pasar Singapura melalui fasilitasi Bank Indonesia.
Meski pasar terus berkembang, konsistensi rasa tetap menjadi perhatian utama. Melyana mengatakan menjaga kualitas produk merupakan bagian penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan.
"Pasti dari cita rasa harus konsisten. Rasanya enggak boleh berubah, kualitasnya juga," katanya.




















