Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Simpati Lombok Kuning, Sambal Khas Makassar yang Menembus Pasar Global

Kota Makassar
6 min read
Simpati Lombok Kuning, Sambal Khas Makassar yang Menembus Pasar Global
Melyana Khohari menunjukkan sambal kemasan Simpati Lombok Kuning di Jalan Sulawesi, Kota Makassar, Kamis (22/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Simpati Lombok Kuning berawal pada 2017 sebagai pelengkap mi bermodal blender Rp300-400 ribu, lalu berkembang menjadi fokus usaha sambal khas Makassar.
  • Pembinaan Bank Indonesia sejak 2024 mendorong pengelolaan bisnis lebih terstruktur, termasuk pemisahan keuangan, perencanaan strategi, pemasaran digital, dan pembagian kerja kepada karyawan.
  • Bantuan mesin pengisian otomatis meningkatkan produksi hingga sekitar 1.800 botol per hari; produk telah dikirim ke Jepang dan Selandia Baru serta memperoleh pesanan dari Singapura.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Berawal dari sambal pelengkap mi yang dijual kepada pelanggan, Simpati Lombok Kuning kini menjelma menjadi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Makassar yang menembus pasar internasional. Di balik perkembangannya, ada perjalanan panjang pasangan suami istri Ridwan Wahyudi Candra (45) dan Melyana Khohari (45) dalam membangun bisnis dari peralatan sederhana hingga menjangkau pasar ekspor.

Ketika memulai usaha pada 2017, keduanya belum memiliki mesin produksi seperti sekarang. Modal awal mereka hanya sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu untuk membeli blender. Dengan peralatan sederhana itu, mereka mulai membuat sambal dalam jumlah terbatas.

Kala itu, sambal tersebut belum dipasarkan sebagai produk utama. Usaha keluarga mereka masih berfokus pada penjualan mi. Sambal dibuat sebagai pelengkap hidangan bagi pelanggan yang datang.

Namun, respons pelanggan perlahan membuka peluang baru. Sambal yang awalnya hanya menemani mi mulai diminati untuk dibawa pulang. Sebagian pelanggan bahkan ingin membeli sambalnya saja.

"Jadi mereka makan bakmi, suka cabainya, ya kita jual, gitu aja sih. Terus beralih ke sambalnya aja. Jadi ada orang mau sambalnya aja, kita nawarin," katanya saat ditemui di tempat produksi Simpati Lombok Kuning, Jalan Sulawesi Nomor 204, Kelurahan Melayu Baru, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Kamis (22/10/2026).

Dari kebiasaan pelanggan itulah, Ridwan dan Melyana melihat peluang untuk mengembangkan usaha. Mereka kemudian mulai menjual sambal secara terpisah hingga akhirnya menjadikan produk tersebut sebagai fokus bisnis.

Nama Simpati Lombok Kuning pun memiliki cerita tersendiri. Nama Simpati diambil dari nama kios yang sebelumnya digunakan keluarga mereka. Nama itu kemudian dipertahankan ketika usaha sambal mulai berkembang, dengan tambahan Lombok Kuning sebagai identitas produk. 

Lombok kuning merupakan sambal khas Makassar, yang memiliki warna kuning oranye alami, rasa pedas yang tajam, serta sensasi asam segar. Dalam bahasa sehari-hari masyarakat Makassar, cabai disebut lombok.

  1. 1. Berawal dari dapur sederhana menuju jaringan ritel

    Kemasan produk sambal Simpati Lombok Kuning dipajang di Makassar dengan label merek berwarna kuning cerah.
    Produk sambal Simpati Lombok Kuning di Makassar. IDN Times/Asrhawi Muin

    Perjalanan Simpati Lombok Kuning tidak langsung melesat. Pada masa awal, jangkauan penjualannya masih terbatas. Produk tersebut terutama dikenal oleh pelanggan usaha mi milik keluarga.

    Perubahan mulai terasa ketika produk mereka masuk ke jaringan supermarket. Pandemik COVID-19 turut membuka peluang baru ketika masyarakat semakin banyak berbelanja kebutuhan melalui layanan daring dan supermarket.

    Melyana mengingat, saat pandemik, pemasaran melalui media sosial menjadi salah satu cara untuk mempertahankan sekaligus memperluas pasar. Dari sana, produk mereka mulai mendapat perhatian konsumen yang lebih luas.

    "Kami juga orang yang cukup belajar, ya. Jadi memang dibantu sama media sosial sih. Waktu COVID-19 enggak ada yang lain selain media sosial, itu aja," kata Melyana.

    Kini, Simpati Lombok Kuning telah tersedia di berbagai jaringan ritel, termasuk Alfamart, Alfamidi, Indomaret, serta sejumlah supermarket. Jangkauan pemasarannya juga meluas hingga ke luar Sulawesi Selatan.

    Produk sambal tersebut tersedia dalam tiga ukuran kemasan, yakni 140 mililiter, 330 mililiter, dan 600 mililiter. Kemasan kecil banyak dipasarkan melalui toko kelontong, sementara jaringan ritel membantu memperluas jangkauan produk kepada konsumen.

    Di balik perkembangan tersebut, pasangan ini menyadari bahwa memperbesar usaha tidak cukup hanya dengan meningkatkan penjualan. Mereka perlu memperbaiki cara mengelola bisnis agar mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

  2. 2. Pembinaan BI mengubah cara pandang berbisnis

    Melyana Khohari berbicara mengenai manfaat pembinaan Bank Indonesia bagi usaha Simpati Lombok Kuning di Makassar.
    Melyana Khohari menceritakan manfaat pembinaan Bank Indonesia (BI) terhadap perkembangan usaha Simpati Lombok Kuning di Makassar, Kamis (22/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Salah satu titik penting dalam perjalanan Simpati Lombok Kuning terjadi pada 2024, ketika mereka bergabung sebagai UMKM binaan Bank Indonesia (BI). Sejak saat itu, usaha pasangan suami istri ini mendapat pembinaan untuk memperkuat pengelolaan bisnis dan memperluas pasar.

    Melyana mengaku sebelum mengikuti pembinaan, dirinya lebih banyak berfokus pada kegiatan produksi dan penjualan. Selama produk laku dan menghasilkan keuntungan, usaha dianggap berjalan dengan baik.

    Namun, pembinaan BI memperkenalkannya pada cara pandang yang berbeda tentang mengelola bisnis. Pengusaha tidak cukup hanya memikirkan produk yang laku dijual, tetapi juga perlu menyiapkan strategi, membangun tim, dan merencanakan perkembangan usaha.

    "Banyak banget. Yang pertama pasti mindset," kata Melyana.

    Menurut dia, pembinaan tersebut membantunya memahami perbedaan antara sekadar berdagang dan membangun perusahaan. Dia juga belajar mengelola usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

    Dia pun mulai belajar memisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha, menyusun perencanaan bisnis, serta memanfaatkan pemasaran digital. Pembinaan itu juga mendorongnya untuk mulai memikirkan strategi pengembangan usaha dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    "Ayo kita berbagi berkat sama yang lain. Ayo nambah karyawan," kata Melyana, mengingat materi pembinaan yang mengubah cara pandangnya terhadap pengelolaan usaha.

    Dari situ, dia mulai menyadari bahwa pemilik usaha tidak harus mengerjakan seluruh proses bisnis sendiri. Sebagian pekerjaan operasional perlu dipercayakan kepada karyawan agar dirinya dapat lebih berfokus pada strategi pengembangan usaha.

    Bagi Melyana, pembinaan tersebut bukan sekadar memberikan pengetahuan baru, tetapi juga mengubah cara mereka menjalankan bisnis. Perubahan itu terlihat dari pengelolaan keuangan hingga perencanaan ekspansi pasar.

    "Sudah bikin sendiri, jual sendiri, cuannya diambil sendiri. Dibagilah sama teman-teman, ambil karyawan, jadi operasionalnya dimanfaatkan, diserahkan ke orang lain. Ibu mikir nih, ke depannya mau seperti apa? Strateginya apa yang dijalankan," tuturnya.

  3. 3. Mesin produksi bantu tingkatkan kapasitas

    IMG_20261022_124054.jpg
    Proses produksi Simpati Lombok Kuning di Makassar, Kamis (22/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Perkembangan bisnis juga mendorong Simpati Lombok Kuning memperbaiki proses produksinya. Pada 2025, mereka menerima bantuan mesin pengisian sambal otomatis atau filling machine dari BI.

    Sebelum menggunakan mesin tersebut, pengisian sambal ke dalam botol masih mengandalkan cara manual. Proses itu membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak, sekaligus menjadi tantangan dalam menjaga konsistensi produksi.

    Dengan bantuan mesin pengisian otomatis, proses tersebut menjadi lebih efisien. Penggunaan peralatan produksi juga mendukung upaya mereka menjaga kebersihan dan meningkatkan kapasitas pengolahan.

    Berdasarkan catatan produksi, Simpati Lombok Kuning mengolah sekitar 150 kilogram cabai per hari untuk menghasilkan sekitar 1.800 botol sambal. Kegiatan produksi berlangsung hingga sore hari dengan dukungan para pekerja. Ada 10 orang yang bekerja dalam proses ini termasuk Ridwan dan Melyana. 

    Meski demikian, pengembangan peralatan belum sepenuhnya selesai. Melyana menyebut mereka masih membutuhkan mesin penutup botol otomatis atau capping machine untuk melengkapi proses pengemasan.

    "Jadi sekarang sih kendalanya itu karena untuk tempat produksi sudah kami perbaiki. Kalau untuk mesin, kami sisa capping aja sih kurangnya," tuturnya.

    Bagi mereka, peningkatan kapasitas produksi harus diiringi dengan perbaikan fasilitas. Mereka juga perlu memenuhi berbagai persyaratan agar produk dapat diterima di pasar yang lebih luas.

  4. 4. Menjajaki pasar Jepang hingga Singapura

    IMG_20261022_124216.jpg
    Owner Ridwan Wahyudi Candra menunjukkan proses produksi Simpati Lombok Kuning di Jalan Sulawesi, Makassar, Kamis (22/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Setelah memperluas pasar domestik, Simpati Lombok Kuning mulai menjajaki peluang di luar negeri. Fasilitasi BI menjadi salah satu jalan yang membantu mereka mempertemukan produk dengan calon pembeli internasional.

    Melyana mengungkapkan produk mereka pernah dikirim ke Jepang dan Selandia Baru dalam jumlah beberapa karton untuk setiap pengiriman. Akses ke pasar Jepang diperoleh melalui fasilitasi program AMBF dari BI. Selain itu, BI juga memfasilitasi pertemuan dengan calon pembeli di Singapura.

    Menurut Melyana, pertemuan dengan calon pembeli di Singapura menghasilkan pesanan pembelian atau purchase order (PO). Saat wawancara berlangsung, mereka merencanakan pengiriman perdana ke negara tersebut dalam sekitar dua minggu berikutnya.

    Jumlah pengiriman ke luar negeri memang belum sebesar distribusi di pasar domestik. Meski demikian, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan usaha mereka.

    Ekspansi ke pasar internasional juga membuka tantangan baru, terutama terkait persyaratan dan sertifikasi produk pangan. Melyana menyebut sertifikasi HACCP menjadi salah satu target yang perlu dipenuhi agar mereka dapat memperluas jangkauan ekspor.

    Dia berharap tempat produksi dapat dibenahi dan kelengkapan legalitas segera terpenuhi. Dengan begitu, Simpati Lombok Kuning bisa memenuhi persyaratan untuk menembus pasar internasional.

    "Kami berharap mungkin bulan depan, paling lama dua bulan lagi, V-form-nya sudah keluar. Dan harapan kami segera HACCP, karena kami mau ekspor ke negara lain," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More