Pelaku Tawuran di Makassar akan Dibina di SPN Batua-Dicarikan Pekerjaan

Kapolda Sulsel menyiapkan Diklat Sadar Diri bagi 16 remaja yang ditangkap dalam kasus kriminalitas jalanan di Makassar.
Pembinaan selama tujuh hari di SPN Batua akan melibatkan orang tua, ketua RT/RW, lurah, serta lingkungan tempat tinggal peserta.
Peserta juga berpeluang memperoleh sertifikat dan pekerjaan, sementara organisasi pemuda Makassar mendukung program tersebut.
Makassar, IDN Times - Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Kapolda Sulsel) Inspektur Jenderal Polisi Awal Chairuddin menyiapkan program pembinaan khusus bagi remaja yang terlibat aksi kriminalitas, termasuk geng motor dan perang antarkelompok. Sebanyak 16 orang yang telah ditangkap direncanakan mengikuti pembinaan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua, Makassar, selama tujuh hari.
Program yang diberi nama Diklat Sadar Diri ini digagas menyusul maraknya aksi kekerasan jalanan di Kota Makassar yang turut melibatkan anak di bawah umur. Melalui pembinaan tersebut, Awal berharap para peserta dapat mengubah perilaku dan memiliki pandangan yang lebih positif untuk masa depan mereka.
"Kita akan latih mereka di SPN Batua, tujuan agar mereka bisa menjadi pribadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat setelah mengikuti pembinaan di SPN," kata Awal kepada wartawan di Mapolda Sulsel, Rabu (21/10/2026).
1. Libatkan Orang Tua hingga Aparat Wilayah

Tawuran kembali terjadi di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Senin (5/10/2026). Dok. Istimewa Awal mengatakan, program pembinaan ini akan melibatkan lingkungan tempat tinggal masing-masing peserta, mulai dari orang tua, ketua RT/RW hingga lurah. Keterlibatan keluarga dan perangkat wilayah dinilai penting untuk memastikan perubahan perilaku para pemuda tetap terjaga setelah mereka kembali ke lingkungan masing-masing.
"Kita harapkan agar mereka bisa lebih baik, minimal tidak mengulangi perbuatannya, setelah dari diklat dia bisa menjadi agen di kelompoknya agar tidak mengulangi perbuatannya," ucapnya.
2. Pelaku Tawuran Bakal Diberi Peluang Kerja

Aparat kepolisian membubarkan tawuran di Jl Abu Bakar Lambogo (Ablam) Makassar, Jumat (16/10/2026). Dok. Istimewa Selain mendapatkan pembinaan, para pelaku tawuran juga akan diberi peluang untuk memperoleh pekerjaan. Langkah ini diharapkan membuat mereka lebih fokus mencari penghasilan dan meninggalkan aksi kriminalitas jalanan.
"Sehingga mereka bisa melupakan perselisihan antarkelompok. Mereka juga bakal diberi sertifikat setelah mengikuti diklat. Jadi jangan merasa takut karena kita ingin memperbaiki dan mengubah mindset-nya yang selama ini terprovokasi ajakan berbuat onar," tandasnya.
Program pembinaan di SPN Batua ini memiliki kemiripan dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menerapkan pembinaan remaja bermasalah melalui barak militer. Keduanya sama-sama mengedepankan pembinaan sebagai salah satu upaya mengubah perilaku remaja yang terlibat dalam berbagai persoalan sosial.
3. Organisasi Pemuda Dukung Diklat Sadar Diri

Sekretaris Umum Organisasi Kepemudaan Makassar Tidak Kendor (Matador), Rian Saputra, Kamis (22/10/2026). IDN Times/Darsil Yahya Sekretaris Umum Organisasi Kepemudaan Makassar Tidak Kendor (Matador), Rian Saputra, mengaku mendukung gagasan Kapolda Sulsel untuk membina para pelaku tawuran di SPN Batua.
"Makassar adalah kota damai, beradab dan berintelektual, program seperti inilah yang dibutuhkan karena pemicu perang kelompok di Makassar kadang hanya sepele, seperti geber-geber motor dan mengakibatkan ketersinggungan," kata Rian kepada IDN Times di Mapolda Sulsel.
Ia berpesan kepada para pemuda di Makassar agar menjaga ketenteraman dan menghentikan aksi tawuran yang hanya merugikan orang lain maupun diri sendiri.
"Perang kelompok itu tidak berguna, sebab jika ada korban jiwa maka bukan lagi perang kelompok tapi akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar lagi," tandasnya.



















