Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Derita Warga Tallo Makassar: Harus Beli Air Bersih tiap Kemarau

Kota Makassar
Derita Warga Tallo Makassar: Harus Beli Air Bersih tiap Kemarau
Jeriken dan galon yang dibawa warga untuk mendapatkan bantuan air bersih di Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Makassar, Rabu (2/9/2026). (Dok. Pemkot Makassar)
  • Warga Rappokalling, Tallo, mengalami krisis air bertahun-tahun; aliran PDAM sempat hidup sekitar seminggu setelah Iduladha lalu sebelum kembali berhenti saat kemarau.
  • Saat PDAM mati, Sukmawati membeli 20 jeriken seharga Rp20 ribu per hari. Bantuan tangki hanya lima hingga tujuh jeriken, sementara air sumur bor hitam dan berbau.
  • Warga Buloa juga membeli air dari lokasi jauh dan berharap layanan PDAM pulih. Pemkot Makassar mendistribusikan air di sekitar 50 titik serta merencanakan pembangunan 18 SPAM.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Puluhan jeriken dan galon berjejer di pinggir jalan Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Kamis (3/9/2026). Warga berdatangan membawa wadah kosong untuk mendapatkan air bersih dari distribusi pemerintah.

Namun, bagi sebagian warga, bantuan air bersih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka mengaku sudah bertahun-tahun menghadapi persoalan sulitnya air, terutama saat musim kemarau.

Sukmawati, warga Rappokalling, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung sejak lama. Bahkan, setelah Lebaran Iduladha lalu, aliran air PDAM hanya sempat mengalir sekitar satu minggu sebelum kembali berhenti.

"Sudah lama. Sudah Lebaran. Pernah mengalir tapi satu minggu mengalir, satu minggu tidak," kata Sukmawati.

  1. 1. Sehari beli air Rp20 ribu

    Sejumlah jeriken dan galon dibawa warga Kelurahan Rappokalling untuk menerima bantuan air bersih di Makassar.
    Jeriken dan galon yang dibawa warga untuk mendapatkan bantuan air bersih di Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Makassar, Rabu (2/9/2026). (Dok. Pemkot Makassar)

    Saat air PDAM tidak mengalir, Sukmawati terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dia harus mengeluarkan sekitar Rp20 ribu setiap hari untuk membeli 20 jeriken air.

    "Satu hari Rp20 ribu, 20 jeriken," katanya.

    Air tersebut tidak hanya digunakan untuk memasak. Kebutuhan mandi dan mencuci juga membuat persediaan air cepat habis.

    Jika mendapatkan bantuan dari mobil tangki pemerintah, maka Sukmawati biasanya hanya memperoleh lima hingga tujuh jeriken karena air harus dibagi dengan warga lainnya.

    "Kadang lima, kadang tujuh. Karena kita bagi-bagi. Tapi biasa juga tidak dapat," katanya.

    Lima jeriken air bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan satu hari. Persediaan tersebut biasanya sudah habis dalam hitungan jam.

    "Tidak sampai satu hari, lima jerigen itu kita pakai masak, mandi habis," tuturnya.

  2. 2. Sumur bor warga tidak bisa jadi solusi

    Ilustrasi air bersih  (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
    Ilustrasi air bersih (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

    Sukmawati mengatakan warga Rappokalling tidak dapat mengandalkan sumur bor sebagai sumber air alternatif. Air dari sejumlah sumur bor disebut berwarna hitam dan berbau sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

    "Kita betul-betul mengandalkan PDAM karena orang bikin sumur bor, airnya busuk, hitam dan bau," katanya.

    Karena itu, ketika air PDAM berhenti mengalir, warga tidak memiliki banyak pilihan selain membeli air. Lokasi pengambilan air pun cukup jauh sehingga warga harus mengangkut sendiri jeriken menggunakan tenaga mereka.

    "Kalau air kosong, kita beli air, jauh lagi diangkat," katanya.

  3. 3. Harus berjalan jauh untuk beli air

    Petugas mendistribusikan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Jalan Dg Tantu, Rappokalling, Makassar.
    Distribusi air bersih untuk warga terdampak kekeringan di Jalan Dg Tantu, Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Rabu (2/9/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

    Persoalan serupa dialami warga Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo. Kartini, warga setempat, mengatakan kesulitan mendapatkan air bersih telah dirasakan selama bertahun-tahun.

    "Iya, bertahun-tahun. Selama ada di sini, air pasti sulit," kata Kartini.

    Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kartini harus mengambil air dari lokasi yang cukup jauh di seberang permukiman. Air tersebut dibeli dengan harga sekitar Rp1.000 per jeriken dan rata-rata menghabiskan Rp10 ribu setiap hari.

    "Belinya jauh di seberang sana. Ambil sendiri," katanya.

    Air yang dibeli digunakan untuk minum dan memasak. Sementara kebutuhan mandi dan mencuci piring menggunakan air dari sumur bor yang berada di sekitar jembatan tempat dia tinggal.

  4. 4. Warga berharap aliran PDAM kembali

    Ilustrasi air bersih. (Dok.IDNTimes/Istimewa)
    Ilustrasi air bersih. (Dok.IDNTimes/Istimewa)

    Kartini mengatakan warga sebenarnya pernah mendapatkan layanan air PDAM. Namun, aliran kembali terhenti ketika musim kemarau. Dia mengaku sudah beberapa kali melaporkan persoalan tersebut kepada PDAM, tetapi hingga kini belum mendapatkan solusi yang diharapkan.

    "Pernah dulu ada ledeng tapi tidak tahu kenapa tidak mengalir lagi. Kalau kemarau tidak mengalir. Sudah dilaporkan berapa kali tapi tidak ada respons PDAM," katanya.

    Kartini berharap pemerintah segera memperbaiki pelayanan air bersih di wilayahnya. Dengan begitu, warga tidak terus bergantung pada pembelian air.

    "Semoga lekas dikasih air ledeng, air bersih bisa dibantu, kasihan," katanya.

  5. 5. Munafri janjikan distribusi air terus berjalan

    Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau distribusi air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Rappokalling.
    Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau langsung distribusi air bersih untuk warga terdampak kekeringan di Jalan Dg Tantu, Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Rabu (2/9/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

    Sementara it, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin sebelumnya turun langsung memantau distribusi air bersih di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Tallo dan Tamalanrea. Pemkot tidak hanya mengandalkan distribusi air melalui mobil tangki, tetapi juga menyiapkan infrastruktur SPAM dan sumur bor sebagai solusi jangka menengah.

    Munafri mengatakan kebutuhan air bersih terus meningkat. Berdasarkan permintaan yang masuk melalui BPBD, jumlah titik yang membutuhkan distribusi air telah mencapai sekitar 50 lokasi.

    "Kebutuhan air terus difasilitasi BPBD sudah turun dan setiap hari ada peningkatan jumlah permintaan. Hari ini sudah menuju ke angka 50-an titik yang membutuhkan air bersih," kata Munafri, Rabu (2/9/2026).

    Menurutnya, PDAM tetap melayani pelanggan maupun warga yang membutuhkan melalui mobil tangki. Layanan ini terutama diberikan di wilayah yang mengalami penurunan tekanan air selama musim kemarau.

    Pemkot juga mengoptimalkan fasilitas SPAM yang telah tersedia dan membangun titik-titik baru. Sebanyak 18 SPAM direncanakan dibangun tahun ini, dengan sebagian masih dalam proses pengerjaan dan pengeboran.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More