Dugaan Keracunan Massal MBG di Makale: Siswa Diare-Muntah Sejak Subuh

- Puluhan siswa SMPN 1 Makale, Tana Toraja, mengalami diare dan muntah sejak dini hari pada Kamis, lalu dilarikan ke puskesmas serta rumah sakit.
- Pihak sekolah memperkirakan jumlah siswa terdampak hampir 90 orang; sekitar 42 siswa dirawat di satu lokasi, sementara beberapa lainnya sempat pingsan.
- Sekolah berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan dan memulangkan siswa tanpa gejala, tetapi belum memastikan penyebab keluhan meski ada dugaan terkait makanan bergizi gratis.
Makassar, IDN Times - Puluhan SMPN 1 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dilarikan Puskems dan Rumah Sakit setelah mengalami gejala yang diduga keracunan makanan bergisi gratis (MBG), Kamis (3/9/2026).
Kepala SMPN 1 Makale, Yohanis Pakiding, mengatakan informasi yang diterima pihak sekolah, sejumlah siswa mengaku sudah merasakan keluhan sejak dini hari sebelum berangkat ke sekolah.
"Kami tahu pagi-pagi pada saat kami jemput sudah ada yang mengeluh. Karena sudah gejala massal, sudah antre di WC, maka kami ambil tindakan secepatnya," kata Yohanis.
Diduga telah mencapai 90 siswa

Siswa SMPN Makale, Toraja, dirawat di Rumah Sakit Lakipadada, Kamis (3/92026) usai diduga keracunan MBG. Dok. Kareba Toraja Usai menerima informasi dugaan keracunan, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan puskesmas setelah mengetahui banyak siswa mengalami keluhan. Sejumlah siswa kemudian dirujuk ke rumah sakit, bahkan ada yang sempat pingsan.
"Karena kami komunikasi dengan puskesmas dan langsung ditindak. Kemudian ada yang langsung dibawa ke rumah sakit karena sudah pingsan," ujarnya.
Yohanis menyebut puluhan siswa mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.
"Sekitar 42 siswa berada di satu lokasi perawatan, sementara jumlah lainnya hampir mencapai 90 orang," ungkapnya.
Pihak sekolah belum berani menyimpulkan siswa keracunan MBG

Ilustrasi, Makanan MBG di SMP Negeri 8 Makassar, Jumat (10/10/2025). IDN Times/Ashrawi Muin Penanganan juga dilakukan di tiga rumah sakit serta puskesmas. Siswa yang tidak mengalami gejala kemudian dipulangkan untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan.
Meski demikian, pihak sekolah belum dapat memastikan apakah seluruh siswa yang mengalami keluhan sudah merasakan gejala sejak di rumah atau baru muncul setelah berada di sekolah.
"Untuk penyebabnya kami belum berani menyampaikan bahwa apa yang benar-benar yang menjadi penyebabnya karena itu bukan kewenangan kami," ujarnya.
Tapi diduga karena ini massal, ada juga sekolah yang sama menerima MBG, kemungkinan itu (gegera MBG), tapi secara pribadi saya belum berani mengatakan bahwa (penyebabnya) itu," pungkasnya.
.png)

















