Siswa SMPN di Toraja Diduga Keracunan MBG, KPPG Periksa Sampel Makanan

- Siswa SMPN 1 Makale, Tana Toraja, diduga mengalami keracunan setelah menerima Makan Bergizi Gratis; KPPG telah melaporkan kejadian ini kepada pimpinan BGN pusat.
- KPPG berkoordinasi dengan Satgas Kabupaten, Dinas Kesehatan, dan rumah sakit untuk menangani korban, memeriksa sampel makanan, serta menelusuri kronologi dan faktor pemicu.
- Penyebab kejadian belum dipastikan. Kewenangan penghentian distribusi MBG berada pada Kedeputian BGN, sementara KPPG memperketat SOP, termasuk pelabelan batas waktu konsumsi makanan.
Makassar, IDN Times - Dugaan keracunan yang dialami siswa SMPN 1 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, setelah menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian publik. Pemeriksaan sampel makanan dan investigasi untuk mengungkap penyebab kejadian kini tengah berlangsung.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kendari, Mulyadi, mengatakan pihaknya telah menerima laporan terkait kejadian tersebut. Laporan disampaikan melalui Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), koordinator wilayah, hingga koordinator regional Sulawesi Selatan kepada pimpinan BGN pusat.
"KPPG melalui Ka SPPG, Korwil dan Kareg Sulsel sudah menyampaikan laporan kejadian kepada pimpinan BGN Pusat tentang kejadian," kata Mulyadi dalam wawancara dengan IDN Times via WhatsApp, Kamis (3/9/2026).
1. Sampel makanan diperiksa

Ilustrasi makan bergizi gratis. (IDN Times/Aditya Pratama) Menurut Mulyadi, penanganan kasus tidak hanya berfokus pada siswa yang mengalami gejala. Koordinasi juga dijalin dengan Satgas Kabupaten, Dinas Kesehatan, dan rumah sakit terkait penanganan korban serta pemeriksaan sampel makanan.
KPPG juga menelusuri kronologi kejadian tersebut. Penelusuran turut mencakup faktor-faktor yang kemungkinan menjadi pemicu.
"Investigasi penyebab dan kronologi kejadian untuk menjadi pembelajaran dalam mitigasi kejadian yang sama," kata Mulyadi.
2. KPPG belum pastikan MBG jadi penyebab

mbg Kejadian tersebut diduga berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi siswa. Namun, Mulyadi menegaskan penyebab maupun faktor pemicunya belum dapat dipastikan.
"Persoalan penyebab dan faktor pemicu masih dalam pendalaman ya, termasuk pemeriksaan sampel makanan oleh Dinkes," katanya.
3. Distribusi MBG bisa dihentikan sementara

mbg Terkait kemungkinan penghentian sementara distribusi MBG dari dapur penyedia yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut, Mulyadi menyebut keputusan itu bukan berada di pihaknya. Kewenangan penghentian sementara berada pada Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan BGN.
"Pemberhentian sementara oleh kedeputian pemantauan dan pengawasan BGN," katanya.
Di sisi lain, KPPG menyatakan akan memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam distribusi MBG. Salah satu upaya yang disebut Mulyadi adalah penerapan pelabelan pada ompreng untuk mencantumkan batas waktu konsumsi serta larangan membawa pulang makanan.
"BGN terus berikhtiar untuk memberikan layanan terbaik dengan penerapan SOP ketat termasuk labelling ompreng terkait batas waktu konsumsi dan larangan bawa pulang menu MBG," katanya.



.png)












