Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, saat bersilaturahmi bersama jajaran PWNU dan PCNU dari tiga wilayah di kawasan Sulawesi, di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (8/8/2026). (Dok. Istimewa)
Gus Zaki mengatakan pencalonan Gus Rozin sebaiknya dilihat dari proses organisasi dan rekam jejaknya, bukan dari label dukungan yang dilekatkan kepadanya. Ia menyebut perjalanan Gus Rozin ke berbagai daerah merupakan bagian dari proses silaturahmi dan dialog dengan struktur NU di tingkat wilayah maupun cabang.
“Gus Rozin lahir dari proses organisasi. Ia datang ke berbagai daerah, bertemu para kiai dan pengurus, mendengarkan aspirasi PWNU dan PCNU, kemudian menawarkan gagasan berdasarkan apa yang ditemukan dalam perjalanan tersebut,” ujarnya.
Ia juga meminta pencalonan Gus Rozin dikembalikan kepada proses Muktamar apabila muncul pertanyaan mengenai dukungan pihak tertentu di luar organisasi. Menurutnya, keputusan mengenai kepemimpinan NU tetap berada di tangan peserta Muktamar.
“Gus Rozin adalah kader NU yang mencalonkan diri melalui proses organisasi. Yang menentukan adalah Muktamar, bukan label dukungan dari luar,” katanya.
Gus Zaki menambahkan bahwa hubungan NU dengan pemerintah juga harus ditempatkan dalam kerangka kemitraan strategis. Namun, kerja sama tersebut tidak berarti pemerintah menentukan kepemimpinan internal NU.
“Pemerintah adalah mitra strategis NU dalam kehidupan kebangsaan. Tetapi pilihan kepemimpinan NU adalah urusan internal organisasi. Karena itu, kita harus bisa membedakan antara kemitraan NU dengan pemerintah dan kedaulatan organisasi dalam menentukan kepemimpinannya,” jelasnya.
Ia berharap seluruh dinamika menjelang Muktamar ke-35 tidak berkembang menjadi pertarungan antarlabel, figur, maupun kelompok. Menurutnya, forum Muktamar harus menjadi ruang untuk mempertemukan aspirasi berbagai daerah dan menentukan masa depan NU secara bersama-sama.
“Kita ingin Muktamar menjadi forum yang berdaulat, bermartabat, dan benar-benar menjadi ruang bagi peserta Muktamar untuk menentukan masa depan NU. Bukan ditentukan oleh paket yang sudah jadi sebelumnya,” ujarnya.
Gus Zaki mengajak seluruh pihak mengutamakan gagasan, rekam jejak, aspirasi daerah, dan masa depan organisasi menjelang Muktamar. Ia berharap NU ke depan semakin mandiri, kuat, bermartabat, dekat dengan jamaah, serta mampu menjalankan khidmahnya bagi umat dan bangsa.