Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Teknologi untuk Upaya Adaptasi Iklim Petani Kopi Benteng Senggang
Pemberdayaan kemitraan masyarakat dari Universitas Bosowa menghadirkan teknologi pengeringan bagi Kelompok Tani Kopi Benteng Senggang di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, sebagai respons terhadap tantangan pascapanen akibat curah hujan tinggi. Dok. Tim dosen dan mahasiswa Universitas Bosowa Makassar
  • Petani kopi Benteng Senggang menghadapi tantangan pengeringan biji kopi yang bergantung pada cuaca, menyebabkan kualitas tidak konsisten dan risiko kerusakan hasil panen meningkat saat musim hujan.
  • Universitas Bosowa Makassar memperkenalkan teknologi Solar Dryer Dome serta pelatihan pengolahan kopi adaptif iklim untuk meningkatkan efisiensi pengeringan, mutu produk, dan kapasitas produksi petani lokal.
  • Program ini juga memperkuat kelembagaan kelompok tani melalui edukasi iklim reflektif dan tata kelola alat komunal, mendukung adaptasi perubahan iklim serta target pembangunan berkelanjutan di tingkat desa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di kaki pegunungan Lompobattang, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, kopi bukan sekadar tanaman perkebunan. Bagi warga Benteng Senggang, Kelurahan Borong Rappoa, kopi adalah sumber penghidupan, identitas kampung, sekaligus ruang belajar tentang bagaimana masyarakat desa bertahan menghadapi perubahan zaman.

Di atas peta administratif, kampung Benteng Senggang adalah bagian dari Kelurahan Borong Rappoa yang tampak seperti kelurahan kecil. Namun, dari lanskap sosialnya, wilayah ini menyimpan potensi pertanian yang kuat. BPS mencatat penduduk Borong Rappoa pada 2024 sebanyak 3.614 jiwa, dengan kepadatan sekitar 197,59 jiwa per km². Secara kewilayahan, Borong Rappoa memiliki 4 RW dan 11 RT, sebuah skala sosial yang memungkinkan pengelolaan ekonomi berbasis komunitas dijalankan secara lebih dekat dan partisipatif.

Benteng Senggang berada di wilayah kaki pegunungan Lompobattang yang berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng. Kawasan ini berada pada ketinggian sekitar 1.200–1.500 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu ruang hidup yang cocok untuk tanaman perkebunan, termasuk kopi. Di wilayah seperti ini, kopi bukan sekadar komoditas. Ia menjadi bagian dari ritme kerja keluarga, cerita kampung, dan harapan ekonomi masyarakat.

Potensi produksi buah kopi (cherry) dari populasi tersebut diperkirakan mencapai ratusan ton per musim panen. Meski demikian, potensi ekonomi tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan petani. Sejumlah faktor turut memengaruhi kondisi ini, di antaranya fluktuasi harga, posisi tawar petani yang relatif lemah terhadap pedagang perantara, serta dampak perubahan iklim terhadap proses produksi dan pascapanen.

Persoalan Pascapanen: Ketergantungan pada Cuaca Kering

Ala, Anggota Kelompok Tani Kopi Benteng Senggang. Dok. Tim dosen dan mahasiswa Universitas Bosowa Makassar

Salah satu persoalan utama yang dihadapi Kelompok Tani Kopi Benteng Senggang adalah proses pengeringan biji kopi yang selama ini sepenuhnya bergantung pada cuaca kering. Kondisi ini menimbulkan risiko signifikan, mengingat musim panen kopi umumnya berlangsung bersamaan dengan musim hujan di wilayah tersebut. Situasi tersebut menyebabkan kelompok tani sulit memenuhi standar mutu dasar kopi berkualitas. Selain kualitas biji yang tidak konsisten akibat kadar air yang tidak seragam, proses pengeringan terbuka juga meningkatkan risiko kerusakan hasil panen berupa biji kopi yang berjamur hingga gagal olah.

Selain persoalan pada aspek produksi hasil pertanian kopi, masalah lainnya ialah keterbatasan pada aspek manajemen kelembagaan yang berbasis komunitas. Ketersediaan dan pengelolaan alat produksi dan praktik pascapanen belum tertata secara sistematis membuat kelompok tani Benteng Senggang sulit untuk mengembangkan produktivitas serta pengetahuan terkait tata kelola pascapanen yang adaptif terhadap iklim.

Teknologi Pascapanen dan Pengembangan Kapasitas Pengolahan Kopi yang Adaptif Iklim

Menjawab persoalan tersebut, Universitas Bosowa Makassar melaksanakan kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk "Pemberdayaan Kelompok Tani Kopi Benteng Senggang melalui Edukasi Iklim Reflektif dan Pendampingan Praktik Ekologi Berkelanjutan Berbasis Sekolah Alam". Program ini dipimpin oleh Tismi Dipalaya, dosen Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Bosowa, dengan dua anggota tim pelaksana, yaitu Soma Salim S. dari Program Studi Pendidikan Matematika dan Asyari dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional. Dua mahasiswa turut dilibatkan sebagai pendamping teknis lapangan, yaitu Salsabila Syaeful dan Nur Ilham Amir

Teknologi tepat guna yang diserahkan secara komunal kepada Kelompok Tani Kopi Benteng Senggang berupa Solar Dryer Dome sebagai solusi utama untuk persoalan pengeringan. Solar dryer dome merupakan bangunan pengering yang berbentuk kubah dengan rangka besi galvanis dan penutup plastik ultraviolet setebal 200 mikron, dilengkapi sistem ventilasi pasif.

Dengan luas sekitar 24 meter persegi dan kapasitas pengeringan 200-300 kilogram kopi basah per siklus, solar dryer dome memungkinkan proses pengeringan berlangsung tanpa terpapar hujan secara langsung, sekaligus meminimalkan risiko kontaminasi. Jika sebelumnya petani kopi membutuhkan waktu hingga empat hingga lima bulan untuk mengeringkan kopi sebanyak 1-2 ton, maka dengan teknologi ini diharapkan dapat memangkas waktu hingga 2-3 bulan saja. Melalui teknologi ini, proses pengeringan dapat dikendalikan secara lebih konsisten, baik dari segi durasi maupun kadar air biji kopi yang dihasilkan.

Selain keberadaan teknologi ini, program ini juga dilengkapi dengan kegiatan pelatihan pengolahan kopi adaptif iklim yang difasilitasi oleh Haidir selaku Coffee Director dari Kopiapi Coffee Roaster. Petani dilatih untuk mengembangkan metode pengolahan pascapanen seperti Washed, Honey, dan Natural yang secara signifikan mempengaruhi profil rasa, tingkat keasaman (acidity), dan kekentalan (body) kopi. Perbedaan utamanya terletak pada seberapa banyak daging buah dan lendir (mucilage) yang menempel pada biji saat proses pengeringan.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan mutu produk hingga kapasitas pengolahan kopi hingga 3-5 ton per petani sehingga dapat memperluas jangkauan pasar serta mampu mendorong penguatan kapasitas manajemen kelompok yang adaptif iklim dengan mendorong upaya rutin oleh setiap petani dalam kelompok untuk melakukan pengukuran kadar air biji kopi, dokumentasi praktik pascapanen di lapangan, serta catatan evaluasi kelompok tani.

Penguatan Kelembagaan sebagai Bagian dari Solusi

Teknologi pengeringan bagi Kelompok Tani Kopi Benteng Senggang di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, sebagai respons terhadap tantangan pascapanen akibat curah hujan tinggi/Dok. Tim dosen dan mahasiswa Universitas Bosowa Makassar

Program ini tidak terbatas pada penyediaan teknologi, tetapi turut mencakup pendampingan penguatan kelembagaan kelompok tani. Tim pengabdian memfasilitasi penyusunan kesepakatan internal serta prosedur operasional sederhana terkait pengelolaan alat produksi berbasis komunal, mencakup jadwal pemakaian, pembagian peran, dan mekanisme evaluasi praktik secara berkala.

Pendekatan yang diterapkan disebut sebagai edukasi iklim reflektif, yaitu metode pembelajaran yang mendorong petani memahami keterkaitan antara perubahan pola curah hujan, praktik pascapanen, dan mutu hasil kopi yang dihasilkan, alih-alih sekadar mengoperasikan teknologi secara teknis dengan tetap berbasis pada modal sosial komunal yang dimiliki oleh masyarakat. Pendekatan ini merujuk pada hasil penelitian ketua tim pelaksana mengenai pembelajaran berbasis pengalaman dan kesadaran ekologis, yang kemudian diadaptasi dalam konteks pendampingan lapangan di Benteng Senggang.

Kelompok Tani Kopi Benteng Senggang, yang diketuai oleh Ala, beranggotakan 20 orang petani aktif, sebagai penerima manfaat langsung dari teknologi ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran bersama warga untuk menghadapi tantangan produktivitas petani kopi Benteng Senggang.

Adaptasi Iklim dari Kampung Terpencil di Kaki Gunung Lompobattang

Enal, Petani Kopi Muda Benteng Senggang/Dok. Tim dosen dan mahasiswa Universitas Bosowa Makassar

Program ini merupakan salah satu bentuk upaya adaptasi perubahan iklim di tingkat masyarakat, khususnya bagi kelompok petani kopi skala kecil yang secara umum diketahui memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Pendekatan yang diterapkan menekankan pada penggunaan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan skala usaha dan kapasitas mitra sasaran.

Selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan, program ini turut menyasar sejumlah target SDGs: pengentasan kemiskinan, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan produksi bertanggung jawab, hingga penanganan perubahan iklim. Dalam kerangka besar itu, sebuah kubah plastik sederhana di lereng Gunung Lompobattang menjelma jadi simbol kecil harapan, bahwa petani kopi di kampung paling terpencil sekalipun dapat terus bersiasat menghadapi ketidakpastian cuaca yang kian sulit ditebak.

Program ini dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas Bosowa Makassar bekerja sama dengan Kelompok Tani Kopi Benteng Senggang, dengan dukungan pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2025–2026.

Tim dosen dan mahasiswa Universitas Bosowa Makassar

Curated For You

Editorial Team

Related Article