Sosok Florencia: 14 Tahun Jadi Pramugari, Baru Dua Bulan di IAT

Makassar, IDN Times – Tim Disaster Victim Identification (DVI) gabungan Polri memastikan identitas salah satu jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Jenazah perempuan tersebut merupakan Florencia Lolita Wibisono, pramugari Indonesia Air Transport (IAT).
Kepala Bidang Dokter dan Kesehatan Polda Sulsel Kombes Muhammad Haris mengatakan, jenazah dengan nomor postmortem 62B.01 dinyatakan cocok dengan data antemortem yang diperoleh dari pihak keluarga korban.
“Teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono, jenis kelamin perempuan, umur 33 tahun,” kata Haris saat konferensi pers di Kantor Biddokkes Polda Sulsel, Makassar, Rabu (21/1/2026).
Haris menjelaskan, identifikasi dilakukan menggunakan metode forensik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, melibatkan berbagai unsur dalam tim DVI gabungan. “(Teridentifikasi) melalui sidik jari, data gigi, properti, dan ciri medis,” dia menambahkan.
Menurut profilnya di laman Linkedin, Florencia berpengalaman sebagai pramugari selama sekitar 14 tahun. Lulusan Universitas Pelita Harapan ini berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara.
1. Baru sekitar dua bulan bekerja di Indonesia Air Transport

Tante Florencia, Suly Mandang, sempat menceritakan tentang sosok keponakannya. Florencia diketahui baru sekitar dua bulan bergabung sebagai pramugari Indonesia Air Transport sebelum pesawat nomor penerbangan PK-THT mengalami kecelakaan.
Meski tergolong baru di IAT, Florencia bukan sosok pemula di dunia penerbangan. Sebelum pindah ke Indonesia Air Transport, Florencia telah bekerja sebagai pramugari Wings Air selama 13 tahun lebih. Pengalaman panjang tersebut membuat keluarga menilai Florencia sebagai awak kabin yang profesional dan disiplin dalam menjalankan tugas.
Kepindahannya ke IAT disebut sebagai bagian dari perjalanan kariernya di industri penerbangan. Dalam setiap penugasan, Florencia dikenal sebagai sosok yang hangat, dekat dengan orang tua, dan selalu menjaga komunikasi meski kerap bertugas terbang ke berbagai daerah.
“Sebelumnya dia pamit katanya mau terbang dari Yogyakarta ke Makassar, dan dia minta supaya didoakan,” ujar Suly, saat diwawancarai di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, pada Minggu (18/1/2026). Saat itu dia mengantarkan ibu Florencia yang berangkat menuju Makassar untuk tes DNA sebagai keluarga korban.
2. Berencana menikah tahun ini

Selain fokus pada pekerjaannya sebagai pramugari, Florencia juga tengah menyiapkan rencana besar dalam kehidupan pribadinya. Keluarga menyebut, perempuan berusia 33 tahun itu berencana menikah pada tahun ini dengan seorang pilot.
Rencana pernikahan tersebut sempat dibicarakan di lingkungan keluarga, meskipun belum ada tanggal pasti yang ditentukan. Kabar duka yang datang secara tiba-tiba membuat rencana tersebut tak pernah terwujud. "Kami sudah siap kemungkinan terburuknya," kata Suly.
3. Keluarga kaget saat nama Florencia ada di manifes

Kabar bahwa Florencia berada dalam pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar awalnya sulit diterima oleh pihak keluarga. Mereka mengaku kaget dan sempat tidak percaya ketika mengetahui nama Florencia tercantum dalam manifes atau daftar penumpang dan kru pesawat.
“Kami dapat kabar kemarin dari kakaknya di Jakarta. Awalnya kami tidak langsung percaya,” kata Suly.
Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat sewaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu mengangkut 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.
Jenazah Florencia ditemukan di jurang sedalam sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung pada Senin (19/1/2026). Proses evakuasi berlangsung sulit karena medan ekstrem, hingga akhirnya jenazah berhasil dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk diidentifikasi oleh tim DVI. Hingga kini, dua korban telah ditemukan dan teridentifikasi.

















