Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemkot Makassar Kaji Penetapan Status Siaga Bencana Kekeringan
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin diwawancarai usai memimpin Apel Kesiapsiagaan terhadap Bencana di Anjungan MNEK, CPI, Makassar, Selasa (14/7/2026). (Dok. Pemkot Makassar)
  • Pemerintah Kota Makassar masih mengkaji penetapan status siaga bencana kekeringan sambil menunggu hasil kajian teknis dari BPBD dan instansi terkait.
  • BPBD Makassar telah menyelesaikan asesmen awal dan akan menggelar rapat koordinasi dengan berbagai pihak untuk menentukan status kebencanaan serta rencana operasi penanganan.
  • Sekitar 50 ribu warga di enam kecamatan berpotensi terdampak kekeringan, terutama yang bergantung pada air tanah sebagai sumber utama air bersih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Pemerintah Kota Makassar masih mengkaji penetapan status siaga bencana kekeringan menyusul potensi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang. Keputusan tersebut akan ditentukan setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah pemangku kepentingan.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan pemerintah tidak ingin terburu-buru menetapkan status kebencanaan. Keputusan tersebut akan diambil setelah hasil kajian teknis dari BPBD dan instansi terkait rampung.

1. Status siaga menunggu hasil kajian BPBD

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memberi sambutan dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana di Anjungan MNEK, CPI, Makassar, Selasa (14/7/2026). (Dok. Pemkot Makassar)

Munafri mengatakan BPBD bersama instansi terkait masih menyusun asesmen untuk menentukan kondisi terkini. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar untuk menilai apakah kondisi yang ada sudah memenuhi syarat penetapan status siaga bencana kekeringan.

"Lagi dikaji oleh teman-teman BPBD bersama dengan semua pihak yang yang yang terlibat di dalamnya untuk memastikan apakah kita menaikkan ini ke dalam status siaga bencana," kata Munafri usai Apel Kesiapsiagaan terhadap Bencana di Anjungan MNEK, Center Point of Indonesia (CPI), Makassar, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, pihaknya akan segera menyiapkan seluruh kebutuhan penanganan apabila hasil kajian merekomendasikan peningkatan status. Tujuannya agar masyarakat tetap memperoleh layanan dasar, terutama akses terhadap air bersih.

"Kalau hasil kajiannya harus naik, ya kita harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk memastikan bahwa ini ini ini merupakan tanggung jawab yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pada saat terjadi bencana kekeringan itu," katanya.

2. BPBD segera tentukan langkah penanganan

Kepala BPBD Kota Makassar, Fadli Tahar. (Dok. BPBD Makassar)

Kepala Pelaksana BPBD Makassar Muhammad Fadli Tahar mengatakan seluruh tahapan awal telah rampung. Tahapan tersebut meliputi asesmen hingga pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.

Selanjutnya, BPBD akan menggelar rapat koordinasi bersama BMKG, PDAM, Basarnas, Damkar, dan instansi terkait. Rapat tersebut bertujuan menentukan status kebencanaan sekaligus menyusun rencana operasi penanganan.

"Semua tahap-tahap sudah kita lalui mulai daripada asesmen. Nanti ada rapat rakor untuk semua stakeholder. Di situ nanti akan ditetapkan, diputuskan status apa yang akan kita ambil untuk mengantisipasi semua kekeringan sepanjang tahun ini," kata Fadli.

Dia menjelaskan BPBD akan memiliki dasar untuk mengoptimalkan berbagai intervensi apabila status tanggap darurat ditetapkan. Intervensi tersebut meliputi distribusi air bersih, penambahan tandon air, penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT), hingga dukungan dari pemerintah pusat dan lembaga kemanusiaan.

3. Sekitar 50 ribu warga berpotensi terdampak

Ilustrasi krisis air bersih di Makassar karena kekeringan. IDN Times/Asrhawi Muin

BPBD sebelumnya memetakan sekitar 50.342 warga di enam kecamatan berpotensi terdampak kekeringan. Penanganan akan diprioritaskan kepada masyarakat yang masih mengandalkan air tanah sebagai sumber utama air bersih.

Fadli menegaskan angka tersebut masih berupa potensi karena pelayanan PDAM saat ini terus ditingkatkan. Namun, apabila musim kemarau berkepanjangan menyebabkan debit air baku terus menurun, dampak kekeringan diperkirakan akan semakin meluas.

"Tetapi ini kita garis bawahi ini adalah potensi artinya potensi ini saat ini kan PDAM lagi intensif untuk melakukan pelayanan-pelayanan penggunaan air untuk pelanggan mereka dan ini sekarang sangat besar sekali efeknya," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article