Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengenal Songkok Recca, Peci Tradisional dan Warisan Budaya Sulsel

Mengenal Songkok Recca, Peci Tradisional dan Warisan Budaya Sulsel
Songkok recca atau songkok to Bone, peci tradisional khas Sulawesi Selatan. (The Bangsawan, Songkok Recca, CC BY-SA 4.0)
Intinya Sih
  • Songkok recca, penutup kepala khas Bugis-Makassar dari serat lontar, diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dan memiliki nilai sejarah serta sosial tinggi.
  • Asal-usulnya bermula pada masa Raja Bone Arung Palakka abad ke-17, digunakan prajurit sebagai identitas tempur agar mudah dibedakan dari musuh.
  • Hiasan emas pada songkok menandakan status sosial pemakainya, kini bebas digunakan masyarakat; harganya bervariasi hingga Rp3 juta tergantung bahan dan tingkat kerumitan anyaman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Makassar, IDN Times - Songkok bermotif anyaman emas khas Bugis-Makassar pasti sudah tidak asing lagi. Penutup kepala tradisional ini bernama songkok recca atau songkok to bone. Peci ini bukan sekadar pelengkap pakaian adat, tapi sarat nilai sejarah dan status sosial.

Songkok Recca resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh Kemendikbudristek dengan nomor objek AA000759. Berbeda dengan peci nasional berbahan beludru, songkok recca menggunakan bahan alami. Peci ini terbuat dari serat pelepah daun pohon lontar.

1. Lahir dari situasi perang di mana pasukan Kerajaan Bone susah dibedakan dengan prajurit lawan

Bola Soba' (Rumah Persahabatan) yang menjadi kediaman Raja Bugis pada tahun 1910.
Bola Soba' (Rumah Persahabatan) yang menjadi kediaman Raja Bugis pada tahun 1910. (Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures)

Proses pembuatannya membutuhkan kesabaran. Kata "urecca" dalam bahasa Bugis berarti "dipukul-pukul." Nama ini berasal dari proses pengolahan pelepah lontar yang dipukul dengan kayu atau batu hingga seratnya terurai. Serat inilah yang kemudian dianyam secara manual oleh para perajin.

Songkok recca sendiri memiliki latar belakang sejarah militer. Dalam artikel ilmiah "Songkok Recca To Bone; Identitas Lokal yang Menasional" (Prosiding Seminar Nasional Dies Natalis ke-62, UNM, 2023), peci ini pertama kali lahir pada abad ke-17 atau tepatnya di masa pemerintahan Raja Bone Arung Palakka.

Saat perang melawan kerajaan tetangga, prajurit kesulitan membedakan kawan dan lawan karena pakaian yang mirip. Raja Bone kemudian memerintahkan prajuritnya memakai anyaman serat lontar ini sebagai identitas tempur. Sejak taktik itu berhasil, songkok recca menjadi pakaian resmi kerajaan.

2. Tinggi garis emas di tepian songkok menjadi penanda kasta dan status sosial

Para pejabat di Distrik Bone antara tahun 1910 hingga 1930.
Para pejabat di Distrik Bone, Sulawesi Selatan, antara tahun 1910 hingga 1930. (Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures)

Bagian kuning keemasan pada songkok recca memiliki makna tersendiri. Dahulu, hiasan emas atau perak pada peci ini menjadi simbol strata sosial masyarakat Bugis. Pinggiran emas (pammiring ulaweng) penuh berarti penanda bahwa orang yang mengenakannya adalah Raja (Arung) atau bangsawan Bone dengan kasta tertinggi. Lapisannya pun terbuat dari emas murni (ulaweng bubbu).

Dalam buku "Meniti Siri' dan Harga Diri" (Khasanah Manusia Nusantara, 2014), dijelaskan bahwa jika hiasan emasnya hanta 3/5 atau 3/5 dari permukaan peci, maka pemiliknya adalah bangsawan tingkat menengah atau pejabat kerajaan. Sedangkan golongan ata (budak) tidak diizinkan menggunakan songkok recca.

Saat ini, aturan kasta tersebut sudah tidak sekaku dahulu. Siapa saja boleh memakainya untuk acara pernikahan adat, hari raya, atau acara formal.

3. Harganya bervariasi, dengan yang tertinggi mencapai Rp3 juta sebab memakai pinggiran emas murni

Para bangsawan Bone, Sulawesi Selatan, antara 1910-an hingga 1930-an.
Para bangsawan Bone, Sulawesi Selatan, antara 1910-an hingga 1930-an. (Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures)

Meski menjadi identitas budaya Sulawesi Selatan, pusat pembuatan aslinya berada di Kabupaten Bone. Sentra kerajinan anyaman ini berpusat di Dusun Sawangnge, Deca Paccing, Kecamatan Awangpone. Keahlian menganyam serat lontar ini bahkan sudah diwariskan secara turun-temurun.

Proses pembuatan satu buah songkok recca bisa memakan waktu hari hingga minggu, tergantung tingkat kehalusan dan kerumitan anyaman. Karena 100 persen buatan tangan (hand-made) songkok recca tergolong produk premium. Harganya pun sangat bervariasi, tergantung bahan baku.

Songkok standar dengan benang kuning biasa dijual mulai Rp50 ribu hingga Rp600 ribu. Tetapi, songkok recca kualitas premium yang menggunakan sepuhan emas murni asli harganya bisa menembus Rp3 juta. Peci premium pun menjadi simbol prestise bagi pemiliknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata

Latest News Sulawesi Selatan

See More