Melemahnya Rupiah terhadap Dolar Mulai Tekan Dunia Usaha di Sulsel

- Pelemahan rupiah membuat biaya produksi di Sulsel naik, terutama bagi sektor yang bergantung pada bahan baku impor seperti industri pengolahan, otomotif, dan UMKM.
- Kenaikan harga barang akibat kurs dolar tinggi menekan daya beli masyarakat serta memperlambat konsumsi, berdampak pada sektor pariwisata dan perhotelan.
- Pelaku usaha menahan ekspansi sambil menunggu stabilitas ekonomi, sementara Kadin Sulsel mendorong penguatan produk lokal untuk kurangi ketergantungan terhadap dolar.
Makassar, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan terhadap dunia usaha di Sulawesi Selatan. Pelaku usaha menghadapi kenaikan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku impor, mesin, logistik, hingga kebutuhan energi.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan, Satriya Madjid, mengatakan kondisi tersebut mulai dirasakan sejumlah sektor usaha di daerah. "Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai dirasakan pelaku usaha di Sulawesi Selatan, terutama sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor, mesin, hingga kebutuhan logistik dan energi," kata Satriya, Rabu (20/5/2026).
1. Industri hingga UMKM terdampak kenaikan kurs dolar

Menurut Satriya, kenaikan kurs dolar AS membuat biaya produksi meningkat dan menekan margin usaha. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, dampaknya dinilai cukup serius terhadap dunia usaha.
"Sektor industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, otomotif, elektronik, hingga UMKM yang menggunakan bahan impor paling terdampak," katanya.
Selain itu, proyek-proyek yang menggunakan komponen luar negeri juga berpotensi mengalami penyesuaian biaya akibat lonjakan kurs dolar AS.
2. Pelemahan rupiah pengaruhi daya beli masyarakat

Satriya menilai pelemahan rupiah turut memengaruhi daya beli masyarakat. Kenaikan harga barang membuat konsumsi rumah tangga melambat dan berdampak pada perputaran usaha secara umum.
"Ketika harga barang naik, konsumsi ikut melambat, dan ini berdampak pada perputaran usaha secara umum," ucapnya.
Sektor pariwisata dan perhotelan juga ikut terkena imbas. Kenaikan biaya transportasi udara akibat mahalnya komponen bahan bakar dinilai memberi tekanan terhadap aktivitas perjalanan dan okupansi hotel.
"Sektor pariwisata, perhotelan yang tergantung dari perjalanan menggunakan teansportasi udara ini juga sangat terdampak karena komponen bahan bakar," katanya.
3. Pelaku usaha mulai menahan ekspansi

Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha mulai menahan ekspansi sambil menunggu stabilitas ekonomi. Dunia usaha cenderung lebih berhati-hati membuka investasi baru karena masih memantau pergerakan kurs, suku bunga, dan kondisi ekonomi global.
Terkait ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), Satriya berharap kondisi itu tidak terjadi. Namun tekanan berkepanjangan disertai penurunan permintaan pasar dapat memicu langkah efisiensi perusahaan.
"Jika tekanan kurs berlangsung lama disertai penurunan permintaan pasar, maka efisiensi perusahaan bisa saja mengarah pada pengurangan tenaga kerja, terutama di sektor yang paling terpukul oleh kenaikan biaya operasional," tuturnya.
4. Kadin Sulsel dorong penguatan produk lokal

Kadin Sulsel berharap pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar melalui penguatan sektor riil. Pemerintah juga diharapkan menjaga pasokan dan harga energi serta memberi kemudahan bagi industri dan UMKM.
"Dukungan terhadap produk lokal dan substitusi impor juga penting agar ketergantungan terhadap dolar bisa dikurangi secara bertahap," kata Satriya.
Pada perdagangan pasar spot Rabu (20/5/2026), rupiah ditutup di level Rp17.654 per dolar AS. Nilai itu menguat 52 poin dibanding penutupan sebelumnya.
Meski mulai menguat, posisi rupiah masih berada di area terlemah sepanjang sejarah. Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah terus tertekan akibat penguatan dolar global dan tingginya suku bunga Amerika Serikat.
















![[BREAKING] 4 Pria Melompat ke Kanal Pampang Usai Pesta Miras, 1 Hilang](https://image.idntimes.com/post/20260519/upload_462a9a3fd8baceae34d7fa679066ea46_3cd83aad-a36f-4aa0-b2c2-d6dbd343a434_watermarked_idntimes-2.jpg)


