Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Gunung Bulusaraung, Lokasi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500

Tim SAR gabungan mencari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (dok. Basarnas Makassar)
Tim SAR gabungan mencari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (dok. Basarnas Makassar)

Makassar, IDN Times - Pesawat ATR 42-500 yang dinyatakan hilang saat terbang, Sabtu (17/1/2026), ditemukan jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menyatakan pesawat dipastikan menabrak lereng gunung sehingga meledak dan hancur.

Soerjanto mengatakan insiden ini dikatergorikan sebagai controlled flight into terrain (CFIT). "Jadi memang pesawat menabrak bukit atau lereng gunung, sehingga terjadi beberapa pecahan atau serpihan pesawat akibat terjadinya benturan," katanya saat konferensi pers di media center area kedatangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Minggu (18/1/2026).

Gunung Bulusaraung, lokasi kecelakaan pesawat, berdiri tepat di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Gunung tersebut bukan sekadar objek wisata pendakian, tapi juga adalah pilar penting bagi keseimbangan ekologi di Sulawesi Selatan.

Bulusaraung sendiri berasal dari dua suku kata bahasa Bugis, yakni "bulu" dan "saraung." "Bulu" berarti gunung dan "saraung" bermakna topi caping yang sering dipakai oleh petani untuk melindunginya dari panas terik ketika melakukan aktivitas di sawah.

Berikut ini IDN Times menyusun beberapa fakta menarik tentang Gunung Bulusaraung. Mulai dari kekayaan flora-faunanya hingga statusnya sebagai salah satu tujuan pendakian populer.

1. Bagian dari kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung

Taman Prasejarah Leang-Leang di Kabupaten Maros.
Taman Prasejarah Leang-Leang yang berada di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros. (Nurulrahayu09, Taman Prasejarah Leang-leang view 1, CC BY-SA 4.0)

Secara administratif, Gunung Bulusaraung menjadi bagian dari kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN BaBul) yang dikelola oleh Pemkab Maros dan Pemkab Pangkep. Statusnya sebagai kawasan lindung membuat gunung ini memegang peranan penting dalam menjaga siklus hidrologi dan iklim mikro di wilayah Maros-Pangkep.

Secara geologis, kawasan ini adalah bagian dari bentang alam karst Maros-Pangkep yang diakui sebagai salah satu yang terbesar dan terpenting di dunia. Bulusaraung sendiri menyimpan sejarah panjang pembentukan daratan Sulawesi jutaan tahun silam, termasuk jejak manusia pra-sejarah di dalam beberapa guanya.

Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.353 mdpl. Memang tidak setinggi Bawakaraeng, tapi keberadaannya tetap vital. Bulusaraung memastikan bahwa ekosistem hutan hujan tropis pegunungan tetap terjaga, di tengah ancaman perubahan iklim dan aktivitas manusia.

2. Menjadi rumah untuk beragal flora dan fauna endemik

Kera hitam Sulawesi atau Macaca maura.
Kera hitam Sulawesi atau Macaca maura, salah satu satwa endemik di Gunung Bulusaraung. (Fachreza25, Macaca Maura Satwa Endemik Sulawesi Selatan 03, CC BY-SA 4.0)

Dilansir oleh situs resmi TN BaBul, Bulusaraung menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati Sulsel. Kawasan hutan di lereng menjadi habitat alami bagi satwa endemik yang terancam punah. Sebut saja Kera Hitam Sulawesi (Macaca maura), Musang Sulawesi (Macrogolidia mussenbraecki), Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) hingga Enggang Sulawesi (Ryticeros cassidix).

Tak cuma fauna, terdapat puluhan jenis flora yang tumbuh di gunung tersebut. Umumnya mereka adalah vetegasi karst dan hutan daratan rendah. Mulai dari Calophilum sp, Sapotaceae, Aleurites moluccana, Pterocarpus indicus, serta Dracontomelon dao. Tak pelak, kelestarian hutan jadi syarat mutlak keberlangsungan hidup mereka, sekaligus menjaga flora dan fauna tersebut dari ancaman kepunahan.

3. Mengumpulkan dan menampung air untuk digunakan ratusan ribu warga

Sawah milik petani di Desa Kallabbiring, Kabupaten Maros.
Sawah milik petani di Desa Kallabbiring, Kabupaten Maros, yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. (Chafidwahyu, Sawah di Desa Kalabbirang, Taman Nasional Bantumurung-Bulusaraung, CC BY-SA 4.0)

Dalam buku Cerita dari Timur: Catatan Perjalanan Ekspedisi Taman Nasional (Gadjah Mada Universitu Press, 2016), dijelaskan bahwa Bulusaraung turut berfungsi sebagai daerah tangkapan air untuk warga yang mendiami kawasan tersebut. Hutan di lerengnya menyerap air hujan, lalu menyimpannya dalam sungai-sungai bawah tanah dan gua-gua karst. Air tersebut kemudian keluar melalui mata air di kawasan desa sekelilingnya.

Limpahan air tersebut kemudian digunakan warga Pangkep dan Maros untuk berbagai kebutuhan sepanjang tahun. Mulai dari irigasi, air baku PDAM hingga penunjang pariwisata. Dan hal tersebut sudah berlangsung lintas generasi. Tanpa hutan di Bulusaraung, masyarakat akan menghadapi krisis air parah di musim kemarau.

Lebih jauh, hutan lebatnya berfungsi untuk menahan laju erosi dan mencegah terjadinya tanah longsor. Tak pelak, kelestarian Bulusaraung tak cuma berbicara tentang kehidupan flora-fauna endemik, tapi juga hidup ratusan ribu penduduk dua kabupaten di sekelilingnya.

4 Salah satu tujuan pendakian populer di Sulawesi Selatan

Ilustrasi pendaki di Gunung Bulusaraung.
Ilustrasi pendaki di Gunung Bulusaraung. (Raflimujahid, Jokes with friend in bulusaraung, CC BY-SA 4.0)

Sama seperti Bawakaraeng, Bulusaraung juga menjadi favorit pada pendaki meski medannya didominasi bukit karst nan terjal. Jalur pendakian yang dimulai dari Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, menawarkan tantangan teknis sehingga perlu kesiapan fisik mumpuni. Terlebih bagian puncaknya kerap diselimuti awan dan berangin kencang.

Menariknya, jalur pendakian Bulusaraung sudah tertata rapi dengan adanya pembagian "pos" yang menjadi tempat persinggahan untuk beristirahat. Total ada 10 pos yang harus dilalui sebelum mencapai puncak. Lokasinya yang relatif dekat dari Kota Makassar (sekitar 2-3 jam perjalanan) membuat Bulusaraung ini jadi salah satu tujuan favorit mahasiswa dan komunitas pecinta alam menghabiskan masa akhir pekan.

Demikian penjelasan singkat tentang Gunung Bulusaraung, serta makna pentingnya bagi masyarakat Sulsel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More

6 Fakta Terbaru Operasi SAR Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung

19 Jan 2026, 06:01 WIBNews