Diskusi Publik, The Society of Indonesian Enviromental Journalists (SIEJ) Simpul Sulawesi Selatan di Balai Rehabilitasi Wirajaya Makassar, Minggu (2/6/2024)/Istimewa
Diskusi tersebut menindaklanjuti program diseminasi liputan investigasi kolaborasi SIEJ-Depati Project dengan enam media berkaitan pengrusakan hutan di Pulau Borneo, Kalimantan. Jika ditarik ke Sulsel, maka tema yang diangkat yaitu 'Deforestasi Hutan Tanah Luwu dan Ancaman Bencana Ekologis Rutin.
Ilham Alimuddin yang juga seorang ahli geologi mengemukakan, kondisi tanah Luwu memang seringkali mengalami bencana ekologis. Pada awal Mei 2024, Luwu kembali dihantam banjir disusul tanah longsor di beberapa titik.
Kejadian tersebut, kata dia, sedikit banyak dipengaruhi oleh karakteristik tanah di daerah itu. Karakteristik tersebut diantaranya, material yang mengalami longsor adalah tanah di dekat permukaan, bergerak secara cepat.
Sebagian besar bahkan termasuk jenis tanah longsor translasi (debris slide), dan terjadi pada tanah tebal yang merupakan pelapukan dari batuan metamorf. Ini termasuk bidang gelincir berupa batas antara tanah dan batuan ditambah curah hujan tinggi.
Sementara kondisi geologi wilayah tanah Luwu khususnya di Kecamatan Latimojong yang mengalami longsor itu, berada pada formasi batuan filit atau batuan keras yang berlapis tipis sudah lapuk di atas. Namun sebagian di bawahnya tidak mengalami lapuk hingga menyebabkan lapisan tidak lapuk ini menjadi licin sehingga mendorong tanah lapuknya ke bawah lalu menjadi longsor.
Bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Luwu, mengakibatkan sebanyak 14 warga meninggal dunia serta menimbulkan kerugian materil dan nonmateril tidak sedikit hingga mencapai puluhan miliar. Selain itu, tercatat 13 titik desa teriosilir di wilayah pegunungan Latimojong, dengan sebaran 16 titik longsor di wilayah Luwu. Bahkan bantuan maupun evakuasi disalurkan harus melalui jalur udara menggunakan helikopter.
"Dari peta zona kerentanan gerakan tanah dan peta bahaya longsor tanah Luwu berada pada zona merah," katanya.