Dampak Gempa M 7,7 di Sulut: 45 Rumah Rusak, 1.160 Orang Mengungsi

Gempa berkekuatan M 7,7 mengguncang Sulawesi Utara dan memicu tsunami.
Sebanyak 45 rumah rusak di beberapa wilayah, termasuk Kepulauan Sangihe dan Talaud.
BPBD Sulut mencatat 1.160 warga mengungsi ke rumah kerabat maupun kantor pemerintahan.
Manado, IDN Times - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 berdampak ke sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, salah satunya tsunami. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut, ketinggian gelombang tsunami bervariasi.
"Yang tertinggi di Talengen, Kabupaten Kepulauan Sitaro, dengan ketinggian 0,75 meter sekitar pukul 09.20 WITA," jelas Kepala BPBD Sulut, Adolf Tamengkel, Senin (8/6/2026).
Gelombang tsunami setinggi 0,32 meter juga sempat terlihat di Melogguane, Kabupaten Kepulauan Talaud; 0,3 meter di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe; 0,29 meter di Kota Bitung; dan 0,18 meter di Sitaro.
1. Sebanyak 45 rumah warga rusak

Kerusakan terparah terjadi di Kepulauan Sangihe. Total ada 34 unit rumah warga, 2 gereja, 1 masjid, 1 sekolah, dan 1 rumah dinas yang rusak.
Wilayah yang terdampak adalah Kampung Kawio, Matutuang, Marore, Bira, Batu Wingkung, Tambung, Santiago, Kolongan Beha, hingga Kecamatan Kendahe. Selain di Sangihe, 11 rumah warga di Kepulauan Talaud juga rusak.
"Selain itu 1 unit rumah sakit di Desa Mala, Kecamatan Melonguane, dan 1 gudang Pelabuhan Perintis di Kecamatan Essang juga mengalami kerusakan," tambah Adolf.
2. 1.160 orang mengungsi

Selain kerusakan, BPBD Sulut mencatat 1.160 orang terpaksa mengungsi. Rinciannya, 480 jiwa dari Kampung Kawio dan 680 jiw dari Kampung Marore, Kepulauan Sangihe.
Rata-rata mereka mengungsi ke rumah saudara, namun ada juga yang ke kantor pemerintahan seperti Kantor Bupati Sangihe. Hingga saat ini masih belum ada laporan korban jiwa.
"Namun kami masih terus mendata dan akan memperbaharui data tersebut dengan berkoordinasi dengan BPBD kabupate/kota terdampak," tambah Adolf.
3. Cerita warga Sangihe mengungsi

Seorang warga Kampung Towo bernama Lan Masye Ponto mengaku panik saat gempa terjadi. Apalagi anaknya yang masih kecil sedang tertidur di kamar.
"Waktu gempa saya langsung lari ke kamar dan menggendong anak saya ke luar rumah. Di situ orang sudah berlarian dan panik juga," tuturnya.
Setelah guncangan mereda, ia diajak tetangganya mengungsi ke Kantor Bupati Sangihe. Namun sebelum meninggalkan rumah ia sempat mengambil sejumlah barang penting. Setibanya di Kantor Bupati Sangihe, warga juga mendapatkan makanan dari petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).


















