Comscore Tracker

Kisah Pay Jemput Bola dengan Kopi Motor Keliling

Menyajikan kopi di pinggir jalan dengan cita rasa kafe

Makassar, IDN Times - Aroma wangi kopi menyeruak dari sepeda motor yang terparkir di tepi Jalan Raya Pendidikan, tepat di samping kanan kampus Universitas Negeri Makassar, Jumat (10/9/2021). Semakin didekati, wanginya kian membangkitkan selera.

Suara mesin kopi terdengar beradu dengan bisingnya suara kendaraan yang melintas. Di sana, tampak seorang laki-laki yang tengah sibuk membuat beberapa gelas kopi. Dia menyajikannya untuk pelanggan yang sudah menunggu.

Dia tak sekedar menyeduh kopi. Dia meracik kopi sesuai takaran yang pas. Biji-biji kopi itu dia masukkan ke dalam mesin penghancur kopi yang disebut grinder. Meski dibuat di pinggir jalan, rasa kopi yang dibuatnya tidak kalah dengan yang disajikan di kafe-kafe.

Inilah Sulfaedar Pay, warga Makassar, Sulawesi Selatan, yang memilih menjual kopi dengan cara berkeliling.

Usaha itu belum lama. baru seminggu yang lalu dia berkeliling di sudut-sudut Kota Daeng menawarkan kopi jualannya. Namun dia sudah punya sejumlah pelanggan. Di tempat dia singgah itu, banyak sopir-sopir daerah yang telah menikmati kopi buatannya. 

Saat ditemui IDN Times di sela-sela kesibukannya, Pay pun bercerita awal mula dia membuat usaha kopi keliling. Rupanya ini bukan kali pertama dia bergelut dengan usaha berjualan keliling.

"Konsep keliling itu sebenarnya bukan pertama kali saya lakukan. Sebelumnya saya juga pernah jualan keliling. Tapi waktu itu bukan jualan kopi tapi jualan sarabba dan gorengan," kata Pay.

Baca Juga: Kisah Lukman Hakim, Resign Kerja lalu Sukses Jadi Pedagang Ikan Cupang

1. Tampil beda di tengah menjamurnya warkop dan kafe

Kisah Pay Jemput Bola dengan Kopi Motor KelilingZulfaidar Pai saat menjual kopi di pinggir Jalan Raya Pendidikan samping Kampus UNM Makassar,Jumat (10/9/2021). IDN Times/Asrhawi Muin

Warga Kota Makassar mungkin belum familier dengan konsep penjualan kopi keliling seperti yang dijalankan Pay. Sebab umumnya warga lebih akrab dengan sajian kopi di warkop, kedai kopi, maupun kafe. 

Mengusung konsep penjualan keliling rupanya telah menjadi pilihan Pay meski warkop hingga kedai kopi menjamur di sudut-sudut kota. Dia tentu punya alasan sendiri mengapa tak memilih mengikuti pasar pada umumnya.

"Karena saya punya prinsip dengan pengalaman waktu saya masih kerja, saya punya prinsip menjemput bola lebih bagus daripada menunggu bola," kata Pay yang merupakan mantan wartawan ini.

Pay mengakui fenomena warkop dan kafe memang begitu menjamur beberapa tahun terakhir. Selain itu, banyak juga orang-orang yang memilih menjual kopi di depan minimarket yang tentu saja memakan biaya sewa.

Namun dia merasa tak terlalu cocok dengan konsep penjualan semacam itu. Baginya, menjual kopi keliling lebih asyik dibanding diam di tempat sambil menunggu pelanggan datang. Lagipula, dia tak mau terbebani dengan biaya sewa besar.

"Dengan mobile begini kan saya tidak ada keluar uang sewa tempat. Saya juga lebih leluasa, bisa ke mana-mana. Dari segi investasi juga relatif lebih murah. Hanya menggunakan motor dan dirancang khusus dibuatkan boks," katanya.

Pay memang baru sebentar berjualan kopi keliling. Namun dia terlihat luwes saat membuat kopi. Rupanya, harus melalui proses belajar dulu sebelum akhirnya membuka usaha ini.

"Karena meskipun saya penikmat kopi tapi waktu itu saya belum punya pengalaman bagaimana sih cara membuat kopi yang enak," kata dia.

Walau berjualan keliling, Pay tak ingin kopi jualannya dibuat asal-asalan. Dia tetap ingin menyajikan rasa kopi terbaik kepada pelanggan. Dari pengalamannya saat singgah di warkop, dia sering melihat mereka meracik kopi secara manual di mana kopi disaring menggunakan kain. Sari-sari kopi itulah yang kemudian disajikan ke pelanggan.

"Tapi saya ingin lebih modern dengan menggunakan alat-alat yang khusus dibuat untuk menciptakan seduhan kopi yang berbeda dengan warkop-warkop," katanya.

Bisa dikatakan kopi yang disajikan Pay dibuat ala barista. Hal itu karena dia memang belajar dari seorang teman yang dulunya berprofesi sebagai barista. 

"Dia ajarkan saya bagaimana membuat kopi yang enak. Setelah itu saya baru tahu bahwa ternyata untuk membuat kopi yang enak tidak semudah itu. Kalau di warung kopi kan mereka tidak pakai takaran bahwa satu gelas sekian gram. Yang penting seduh, kasih ke orangnya. Kalau di barista ada aturannya," katanya.

Namun sebelum itu, Pay juga belajar secara online yang berbayar. Setelah itu, barulah dia memaksimalkan kemampuannya di bidang kopi dengan belajar ke teman baristanya tanpa membayar.

"Itu proses belajarnya kurang lebih satu bulan sebelum saya yakin untuk turun lapangan," kata Pay.

2. Kopi keliling dengan cita rasa ala kafe

Kisah Pay Jemput Bola dengan Kopi Motor KelilingZulfaidar Pai, pemilik usaha kopi keliling di Makassar. IDN Times/Asrhawi Muin

Sebelum memulai usahanya, Pay pun menyulap motornya dengan menambahkan boks kayu. Motor inilah yang dipakai berjualan.

Namun membuat boks di motor itu tidak mudah. Pay beberapa kali mengganti ukuran boks karena tak sesuai dengan ukuran jok motonya.

"Dulunya besar sekali akhirnya ada dua kali perubahan ukuran sampai ditemukanlah ukuran yang ideal untuk kendaraan saya," katanya.

Setiap pagi, Pay mulai keluar rumah untuk berjualan sejak pukul 08.00 WITA. Dia akan menyusuri jalanan Kota Makassar untuk mencari spot mana yang berpeluang banyak pelanggan.

"Mungkin di tempat lain dulu saya dapat satu dua gelas. Satu jam saya pindah lagi. Kan lumayan kalau satu spot bisa dapat lima. Kalau warkop itu dia harus menunggu orang datang. Kalau kita datangi keramaian," katanya.

Jalan Raya Pendidikan samping Kampus UNM adalah salah satu tempatnya di singgah. Di sini, Pay mengaku telah memiliki pelanggan tetap.

"Kebetulan daerah sini kebanyakan sopir-sopir daerah yang tidak masuk terminal. Rata-rata mereka jurusan ke Barru. Kebetulan mereka suka kopi saya akhirnya dia sering panggil saya ke sini," kata Pay.

Kopi yang ditawarkan Pay tak hanya satu menu. Dia menawarkan kopi espresso, kopi susu, dan americano. Harganya juga dibanderol cukup terjangkau yakni hanya Rp10 ribu per gelas.

"Rencananya ke depan ini saya akan bikin lagi ice coffee karena targetnya para kaum hawa. Ternyata banyak kaum hawa yang suka," ujarnya.

Dalam usahanya ini, Pay menggunakan kopi jenis robusta dan arabica yang sudah dicampur dengan perbandingan tertentu. Dalam sehari, Pay mampu menjual kopi sebanyak 15 gelas. Namun di menargetkan ke depannya harus mampu menjual 50 cup kopi sehari. 

"Cuma saat ini saya pelan-pelan dulu sambil menjajaki lokasi karena spot-spot itu tidak harus satu, harus ada dua sampai tiga," katanya.

3. Berangkat dari menaklukkan diri sendiri

Kisah Pay Jemput Bola dengan Kopi Motor KelilingZulfaidar Pai, pemilik usaha kopi keliling di Makassar. IDN Times/Asrhawi Muin

Layaknya orang membangun usaha pada umumnya, Pay juga merasakan ada banyak tantangan. Apalagi dia dulunya bekerja di industri media. Meskipun dia sudah terbiasa bekerja di lapangan, namun sensasinya kini berbeda.

Dulu, dia dengan mudah menentukan tempat tujuan. Kali ini berbeda karena dia harus menentukan dulu lokasi yang akan didatangi.

"Bedanya kita sudah punya konsep ke mana kita mau pergi meskipun kita di lapangan. Tapi ini konsepnya beda. Kita kan di lapangan. Tetapi ini repotnya karena kita harus cari pembelinya," kata Pay.

Pay pun berbagi tips dalam menjalankan usahanya. Menurutnya, menjalankan usaha seperti ini harus dibarengi dengan sikap ramah ke semua orang. 

"Sebab kuncinya di situ kalau kita ramah sama orang, pelanggan suka sama kita. Tapi kalau kita melayani pelanggan dengan muka cemberut, dia tidak akan singgah kedua kalinya meskipun dia rasa makanan atau minuman kita enak," katanya.

Kalaupun ada pelanggan yang berbicara kasar, maka penjual seharusnya tetap melayani dengan senyum dan bukan balik melawan.

Namun sebenarnya tantangan paling berat bagi Pay adalah dirinya sendiri. Dia merasa harus harus menaklukkan diri sendiri jika tetap ingin eksis dengan usahanya yang sekarang.

"Karena saya harus membuang egoisme saya. Saya harus buang rasa malu. Tapi alhamdulilah saya sudah terbiasa. Yang penting harus enjoy dan mencintai pekerjaan," kata Pay.

Baca Juga: Kisah Pengawal Ambulans di Makassar Berpacu dengan Waktu 

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya