Comscore Tracker

Sebutan Sanggalea dan Jejak Awal Tionghoa di Makassar

Pedagang dari Fujian sudah berdatangan sejak abad ke-13

Makassar, IDN Times - Seperti masyarakat Tionghoa di belahan dunia lainnya, warga keturunan merayakan tahun baru Imlek 2571, yang jatuh pada Sabtu (25/1). Kemeriahannya mulai terasa sejak beberapa hari terakhir, seiring bersoleknya rumah-rumah ibadah, baik klenteng maupun vihara.

Imlek bukan perayaan baru di Makassar. Hari besar tahunan itu sudah diperingati sejak lampau, seiring masuknya masyarakat Tionghoa ke kota ini, ratusan tahun yang lalu.

Jejak awal keberadaan masyarakat Tionghoa di Makassar direkam Yerri Irawan dalam bukunya berjudul Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar. Dia mengumpulkan hasil penelitian seputar masyarakat Tionghoa pada masa VOC, Abad ke-19, hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Seperti apa perkembangan sejarah masyarakat Tionghoa Makassar di awal kedatangannya? Berikut sejumlah poin yang dirangkum IDN Times dari buku di atas.

Baca Juga: Melipir ke Chinatown Makassar, Serasa Berada di Tiongkok

1. Pedagang sudah datang bertahap sejak abad ke-13

Sebutan Sanggalea dan Jejak Awal Tionghoa di MakassarGerbang Chinatown yang berada di Jalan Ahmad Yani Makassar. IDN Times/Asrhawi Muin

Tempat bernama Makassar atau Mangkasar dengan transkripsi Meng-jia-shi dalam sumber Tionghoa sudah tercatat dalam suatu monogragi kota Kanton pada masa Dade. Tepatnya di era dinasti Yuan, antara tahun 1297-1301. 

Nama Makassar muncul dalam sebuah lampiran berjudul “Barang-barang yang dibawa oleh kapal-kapal asing”. Namun tidak ada keterangan tentang kehadiran orang Tionghoa yang pertama kali di Sulawesi Selatan.

Di pedalaman Sulsel ditemukan keramik-keramik Tionghoa tertua, yang umumnya berasal dari Dinasti Song. Namun itu bukan bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa orang Tionghoa telah datang sebelum abad ke-16. Keramik itu kemungkinan dibawa para pedagang asing yang sedang menuju Maukuku atau melalui perdagangan antara Makassar dan Filipina.

2. Sebutan Sanggalea berasal dari abad ke-16

Sebutan Sanggalea dan Jejak Awal Tionghoa di MakassarSuasana di dalam Klenteng Xian Ma. IDN Times/Asrhawi Muin

Penduduk Sulsel menyebut orang-rang Tionghoa dengan panggilan Sanggalea. Sebutan itu ada kaitannya dengan nama “Sangley,” yang digunakan orang-orang di Filipina sejak abad ke-16.

Tidak jelas etimologi kata ini. Namun, sebuah naskah Sino Filipina abad ke-16 pernah mencatatnya. Digambarkan, sepasang orang Tionghoa menggunakan nama “Sangley,” dilengkapi dua buah huruf Tionghoa, “Changlai,” yang berarti ‘sering datang’.

Terminologi Sanggalea juga digunakan dalam kaitannya dengan sejenis tembakau yang diimpor dari Fujian, dan disebut Tambako Sanggaleya.

3. Para pedagang pertama datang dari provinsi Fujian

Sebutan Sanggalea dan Jejak Awal Tionghoa di Makassarinstagram.com/king_stu

Soehongjie, dalam artikelnya yang dimuat koran Pemberita Makassar pada 15 Agustus 1932 menulis bahwa para pedagang Tionghoa pertama yang tiba di Makassar datang dari provinsi Fujian. Saat itu, Pelabuhan Makassar belum ramai dan belum ada pedagang dari Eropa.

Disebutkan, pada waktu itu orang Tionghoa tiba dengan kapal (oewangkang) yang datang satu kali setahun. Kapal itu membawa sekitar 200 penumpang orang Hokkian. Namun saat berangkat pulang ke Tiongkok, sebagian besar penumpang tidak ikut.

4. Orang Tionghoa menjual arak di era Kerajaan Gowa-Tallo

Sebutan Sanggalea dan Jejak Awal Tionghoa di MakassarWikipedia.org/Collectie Tropenmuseum

Pada 16 Juli 1615, George Cockayne yang mengepalai loji Inggris di Makassar mengirim surat kepada Sir John Smith, Gubernur East India Company (EIC). Di masa Kerajaan Gowa-Tallo, Cockayne melaporkan bahwa dia menjual beras pada seorang Tionghoa di Makassar yang memiliki penyulingan arak. Penduduk Makassar saat itu telah menjadi Muslim, sehingga diperkirakan produksi arak menyasar konsumen orang Eropa dan Tionghoa. 

Pada tahun 1619, sebuah peta Tionghoa memperlihatkan jaringan laut antara Tiongkok serta Asia Tenggara. Diperlihatkan Pelabuhan Makassar yang ditulis Bang-jia-shi.

5. Perkampungan Tionghoa sudah tercatat di tahun 1667

Sebutan Sanggalea dan Jejak Awal Tionghoa di MakassarIDN Times / Aan Pranata

Peta tertua Kota Makassar kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Austria. Peta itu berasal dari sebuah atlas rahasia milik VOC bertanggal sekitar tahun 1670, yang dilukis sekitar tahun 1638.

Namun peta ini tidak menunjukkan perkampungan Melayu atau Tionghoa. Hanya ada perkampungan orang Portugis dan orang Gujarat serta loji milik orang Denmark dan Inggris. Demikian juga pada lukisan panorama Makassar yang dibuat oleh Fred Woldemar tahun 1660 dan tersimpan di Societe de geographie di Paris, Prancis.

Perkampungan Tionghoa baru tercatat sejak ibu kota Makassar terletak di Somba Opu. Keterangan ini dibenarkan oleh pengarang Sj’air Perang Makassar, yang mencatat bahwa saat Belanda menyerang kota itu di tahun 1667, mereka menembakkan meriam ke arah penyerang dari Kampung Tjina.

Di Kampung Tjina meriam jang tebal

serta ditembakkan kenalah kapal

terus-menurus tampal-menampal

sangatlah duka hati Admiral

Baca Juga: Polda Sulsel Jamin Keamanan Jelang Imlek 2020 di Makassar  

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya