Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Refleksi Tutup Tahun: Uskup Timika Soroti “Memoria Pahit” Orang Papua

Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A. membawakan homili pada Perayaan Ekaristi Tutup Tahun 2025 di Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (31/12/2025) malam. (IDN Times/Tangkapan layar siaran langsung YouTube Multimedia Tiga Raja Timika)
Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A. membawakan homili pada Perayaan Ekaristi Tutup Tahun 2025 di Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (31/12/2025) malam. (IDN Times/Tangkapan layar siaran langsung YouTube Multimedia Tiga Raja Timika)
Intinya sih...
  • Uskup Timika soroti "Memoria Pahit" orang Papua
  • Perjalanan waktu bagi orang Papua tak lepas dari penderitaan, kekerasan, dan luka sejarah
  • Memoria pahit masih hidup hingga hari ini, membentuk sikap, emosi, dan respons sosial orang Papua
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Timika, IDN TimesUskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., menegaskan bahwa perjalanan waktu bagi orang Papua tidak dapat dilepaskan dari ingatan kolektif akan penderitaan, kekerasan, dan luka sejarah yang belum sembuh.

Hal itu disampaikannya dalam homili pada Perayaan Ekaristi Tutup Tahun 2025 di Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (31/12/2025) malam.

Dalam refleksinya, Uskup Bernardus mengajak umat melihat waktu bukan sekadar hitungan kalender, melainkan ruang batin tempat manusia menyimpan kenangan, harapan, dan luka.

Ia merujuk pemikiran Santo Agustinus yang memandang waktu sebagai bagian dari jiwa manusia, tempat sejarah hidup dihidupi dan dimaknai.

Salah satu bagian homili yang paling kuat adalah ketika Uskup Timika mengangkat konsep Memoria Passionis, memori penderitaan orang Papua yang diwariskan lintas generasi akibat kekerasan dan konflik bersenjata.

“Memoria Passionis adalah memori kenangan pahit, penderitaan, kejahatan, kekerasan oleh militer terhadap orang Papua selama berintegrasi dengan NKRI ini,” kata Uskup Bernardus.

Ia menegaskan bahwa memori pahit tersebut masih hidup dan membekas hingga hari ini, membentuk sikap, emosi, dan respons sosial orang Papua.

“Karena itu sangatlah wajar kalau orang Papua mudah sekali emosi, mudah sekali tersinggung, mudah sekali marah kalau melihat saudara-saudara kita pegang senjata, pakaian loreng, dan seterusnya,” ujarnya.

Menurut Uskup Bernardus, penderitaan itu tidak berhenti pada masa lalu, tetapi masih berlangsung dalam bentuk pengungsian dan krisis kemanusiaan di berbagai wilayah Papua.

“Apalagi saudara-saudara kita hari ini yang ada di pegunungan, dari Nduga sampai Intan Jaya yang masih dalam pengungsian dan Maybrat, Bintuni,” ungkapnya.

Dalam homili tersebut, Uskup Timika mengajukan pertanyaan reflektif yang menggugah nurani umat dan para pemangku kebijakan.

“Pertanyaannya apakah memoria pahit seperti ini kapan berakhir, kapan diakhiri supaya ada memoria kasih, memoria manis, memoria yang adalah indah,” katanya.

Ia menekankan bahwa Ekaristi dan refleksi akhir tahun bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menghadirkan kembali sejarah untuk diberi makna baru, agar tidak terjebak dalam lingkaran dendam dan kekerasan.

Uskup Bernardus juga mengaitkan penderitaan Papua dengan panggilan iman Kristiani, yakni solidaritas dan keberpihakan pada mereka yang menderita.

Menurutnya, Natal adalah peristiwa Allah yang masuk ke dalam ruang dan waktu manusia, termasuk ruang penderitaan orang Papua.

“Dia di luar ruang dan waktu, memasuki ruang dan waktu dan sejarah manusia. Agar dia mengalami apa yang kita alami, agar dia merasakan apa yang kita rasakan,” tuturnya.

Menutup refleksi, Uskup Timika mengajak umat menjadikan tahun 2026 sebagai momentum pembaruan, dengan mengisi waktu dengan karya-karya kasih, keadilan, dan kemanusiaan, agar memoria pahit dapat perlahan disembuhkan oleh memoria harapan.

“Apa yang tidak baik diperbaharui, diperbaiki. Semoga dengan demikian, kita sungguh-sungguh menjadi terang bagi sesama lain dalam tugas perutusan yang Tuhan percayakan kita masing-masing,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Mahasiswa di Tomohon Bunuh Diri Usai Diduga Dilecehkan Dosen

02 Jan 2026, 01:22 WIBNews