Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tradisi Haji 'Bling-Bling' di Sulsel, Kemenhaj Ingatkan soal Aurat
Jemaah haji saat tiba di Asrama Haji Sudiang Makassar. (Dok. PPIH Debarkasi Makassar)
  • Tradisi busana 'bling-bling' jemaah perempuan Sulsel dianggap bagian budaya, namun PPIH mengingatkan agar tetap menutup aurat sesuai syariat Islam.
  • PPIH Embarkasi Makassar memastikan kesiapan penyambutan kloter pertama yang tiba 1 Juni 2026 malam, dengan total 16.728 jemaah diberangkatkan tahun ini.
  • Tahun ini jemaah haji pertama kali turun lewat garbarata di Bandara Sultan Hasanuddin, disertai pengaturan ketat penjemputan untuk mencegah penumpukan massa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times – Menjelang kedatangan kloter pertama jemaah haji Embarkasi Makassar pada Senin (1/6/2026) malam, tradisi jemaah perempuan mengenakan busana mencolok atau yang dikenal sebagai pakaian "bling-bling" kembali menjadi sorotan. Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar, Ikbal Ismail, menegaskan tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Sulawesi Selatan yang sudah berlangsung lama.

Ikbal mengungkapkan sekitar 65 persen jemaah yang berangkat melalui Embarkasi Makassar merupakan perempuan. Mereka secara tradisi mengenakan pakaian berwarna mencolok saat pulang dari Tanah Suci setiap musim haji.

"Berdasarkan data yang ada pada kami, sekitar 65 persen jemaah haji Embarkasi Makassar adalah perempuan. Budaya masyarakat kita, khususnya Bugis-Makassar, ketika pulang dari haji dan tiba di asrama haji, sebagian jemaah perempuan menggunakan pakaian bling-bling atau yang biasa disebut pakaian Batman," kata Ikbal.

1. Jemaah diingatkan berpakaian sesuai syariat

Jemaah haji Kloter 23 Debarkasi Makassar tiba di Tanah Air, Jumat malam (21/7/2023). (Dok. PPIH Debarkasi Makassar)

Menurut Ikbal busana tersebut bukan sekadar gaya berpakaian, melainkan bentuk ekspresi budaya yang telah mengakar di tengah masyarakat. Karena itu, pihak penyelenggara tidak pernah melarang jemaah menampilkan ciri khas daerah saat tiba kembali di Tanah Air.

"Kami tidak melarang. Silakan menampilkan diri dengan ciri khasnya. Itu bagian dari budaya masyarakat Sulawesi Selatan," ujarnya.

Meski demikian, Ikbal mengingatkan agar jemaah tetap memperhatikan ketentuan berpakaian sesuai syariat Islam. Kebebasan berekspresi melalui budaya, kata dia, harus tetap berjalan beriringan dengan kewajiban menjaga aurat.

"Boleh menggunakan pakaian bling-bling atau pakaian Batman, tetapi leher dan bagian-bagian yang termasuk aurat harus tetap ditutup. Karena itu adalah aurat yang wajib dijaga," tegasnya.

2. Kloter pertama tiba malam ini di Makassar

Ketua PPIH Embarkasi Makassar Ikbal Ismail. (Dok. Kemenhaj Sulsel)

Sementara itu, PPIH Embarkasi Makassar memastikan seluruh persiapan penyambutan jemaah haji telah dimatangkan. Kloter pertama dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Senin (1/6/2026) pukul 22.30 WITA.

Sebagai langkah antisipasi, PPIH telah menggelar rapat koordinasi bersama seluruh unsur terkait guna memastikan proses kedatangan dan pemulangan jemaah berjalan lancar. Hingga berakhirnya fase pemberangkatan, Embarkasi Makassar telah memberangkatkan sebanyak 16.728 jemaah haji. Dari jumlah tersebut, tercatat 13 jemaah meninggal dunia di Arab Saudi dan satu orang wafat setelah kembali ke Tanah Air.

3. Tahun ini jemaah pertama kali turun lewat garbarata

Pemberangkatan jemaah haji dengan pesawat Garuda Indonesia melalui Embarkasi Makassar. (Dok. Istimewa)

Ikbal menjelaskan terdapat sejumlah perubahan pada proses kedatangan jemaah tahun ini. Salah satunya adalah penggunaan garbarata yang untuk pertama kalinya diterapkan bagi jemaah haji yang tiba di Bandara Sultan Hasanuddin.

"Ini pertama kalinya kita menggunakan garbarata untuk kedatangan jemaah haji. Jemaah yang sehat langsung menuju terminal, sedangkan jemaah lansia dan kursi roda akan menggunakan lift sehingga lebih aman dan nyaman," katanya.

Selain itu, PPIH juga mengatur ketat mekanisme penjemputan untuk menghindari penumpukan massa di Asrama Haji Sudiang. Keluarga jemaah dari sebagian besar daerah diminta menunggu di kabupaten atau kota masing-masing, sementara penjemputan langsung hanya diperbolehkan bagi keluarga jemaah asal Makassar, Gowa, Takalar, dan Maros.

Setelah proses serah terima dengan pemerintah daerah, jemaah akan diarahkan menuju area pengambilan koper sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah asal masing-masing.

Editorial Team

Related Article