DVI Polda Sulsel Terima Dua Jenazah Diduga Korban KM Nurul Salsa

- Tim DVI Polda Sulsel menerima dua kantong jenazah diduga korban KM Nurul Salsa yang tiba di Makassar dan kini menjalani proses identifikasi di RS Bhayangkara.
- DVI telah mengumpulkan data antemortem dari 15 dari total 17 penumpang yang masih hilang, dengan dua data lainnya masih dalam proses pelengkapan.
- Proses identifikasi dilakukan sesuai kondisi jenazah, bisa lewat sidik jari, gigi, atau DNA, dan diperkirakan memakan waktu hingga tiga minggu.
DVI PoMakassar, IDN Times - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan menerima dua kantong jenazah yang diduga merupakan korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Nurul Salsa di perairan Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar. Kedua jenazah tersebut tiba di Makassar pada Rabu (22/7/2026) sekitar pukul 06.30 WITA.
Meski demikian, identitas kedua jenazah tersebut belum dapat dipastikan. Tim DVI masih melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan apakah keduanya merupakan penumpang KM Nurul Salsa atau korban dari insiden lain yang ditemukan mengapung di laut.
1. Dua jenazah masih menunggu proses identifikasi

Kepala Biddokkes Polda Sulsel, Kombes Muhammad Haris, mengatakan dua kantong jenazah yang diterima dari Basarnas Makassar masing-masing diberi label PM B01 dan PM B02. Selanjutnya, kedua jenazah dibawa ke Instalasi Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk menjalani proses identifikasi.
Haris menegaskan, pihaknya belum dapat memastikan identitas kedua korban tersebut. "Selanjutnya dua kantong jenazah ini kami bawa ke Instalasi Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk dilakukan identifikasi. Jadi masih menunggu proses identifikasi," ucap Muhammad Haris saat jumpa pers di Biddokkes Polda Sulsel, Rabu (22/7/2026).
2. DVI telah mengumpulkan data antemortem 15 korban hilang

Selain menangani dua jenazah tersebut, Tim DVI juga telah mengumpulkan data antemortem dari keluarga korban yang dilaporkan hilang dalam insiden tenggelamnya KM Nurul Salsa. Pengambilan data dilakukan di Kabupaten Kepulauan Selayar.
Menurut Haris, dari 17 penumpang yang masih dinyatakan hilang, data antemortem 15 orang telah berhasil dikumpulkan. "Data 17 data penumpang yang belum ditemukan, kita sudah mengambil data antemortem di Selayar itu ada 15. Jadi masih kurang 2. Kami sementara mengusahakan dari 2 orang ini hari ini bisa kelar," kata Haris.
3. Identifikasi bisa memakan waktu hingga tiga pekan

Haris menjelaskan, metode identifikasi akan disesuaikan dengan kondisi jenazah. Apabila kondisi fisik masih memungkinkan, identifikasi dapat dilakukan melalui sidik jari sehingga hasilnya bisa diketahui lebih cepat.
Namun, jika kondisi jenazah sudah mengalami kerusakan berat, proses identifikasi akan dilakukan melalui pemeriksaan gigi dan DNA. Proses tersebut melibatkan Tim DVI Pusdokkes Polri, Fakultas Kedokteran Forensik Universitas Hasanuddin (Unhas), serta Tim Identifikasi Ditreskrimum Polda Sulsel.
"Pemeriksaan DNA ini memerlukan waktu yang lumayan, 2–3 minggu lah, karena sudah 7 hari sudah sangat rusak," ungkapnya.
















