Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sulsel Incar Investor Australia untuk Dorong Hilirisasi Rumput Laut
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Selatan, Asrul Sani. IDN Times/Asrhawi Muin
  • Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menjajaki kerja sama dengan investor Australia, Selandia Baru, dan negara Pasifik untuk memperkuat hilirisasi rumput laut melalui fasilitasi Indonesian Promotion Center di Sydney.
  • Asrul Sani menyoroti tantangan utama berupa metode budidaya rumput laut yang masih tradisional sehingga kualitas hasil panen belum memenuhi standar pasar internasional meski produksi mencapai jutaan ton per tahun.
  • Pemprov Sulsel menargetkan investasi dari hulu hingga hilir agar industri pengolahan berkembang, nilai tambah meningkat, dan posisi daerah sebagai produsen produk turunan rumput laut makin kuat di pasar global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membidik investor dari Australia, Selandia Baru, dan negara-negara Pasifik untuk memperkuat hilirisasi rumput laut. Hal ini untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah yang selama ini masih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Selatan, Asrul Sani, mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan Indonesian Promotion Center (IPC) di Sydney untuk menjajaki peluang kerja sama investasi di sektor rumput laut.

"Minggu lalu kami sudah rapat dengan IPC (Indonesian Promotion Center) yang ada di Sydney, Australia. Mereka akan memfasilitasi kita dengan calon-calon investor yang ada di Australia, yang ada di Selandia Baru, dengan beberapa negara di Pasifik sana," kata Asrul Sani, Jumat (12/6/2026).

1. Bidik investasi dari hulu hingga hilir

Ilustrasi Investasi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Asrul menjelaskan investasi yang dicari tidak hanya berfokus pada pembangunan industri pengolahan rumput laut. Pemprov juga ingin mendorong pengembangan sektor budidaya agar kualitas hasil produksi mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Menurutnya, Sulsel memiliki potensi besar sebagai produsen rumput laut terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai sekitar 4 juta ton per tahun. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah maksimal karena sebagian besar produk masih dijual dalam bentuk bahan baku.

"Kita berharap sebenarnya bukan hanya membangun industri ini, tapi kita juga ingin mendorong budidayanya. Bagaimana budidaya yang modern," katanya.

2. Budidaya masih tradisional

Ilustrasi budidaya rumput laut (IDN Times/Wayan Antara)

Asrul menilai salah satu tantangan utama pengembangan rumput laut di Sulsel terletak pada pola budidaya yang masih didominasi metode tradisional. Kondisi tersebut membuat kualitas hasil panen belum selalu sesuai dengan standar yang dibutuhkan pasar global.

Menurutnya, tingginya volume produksi belum otomatis meningkatkan daya saing produk rumput laut Sulsel. Kualitas hasil budidaya dinilai masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan spesifikasi dan standar yang diminta pasar internasional.

"Hampir semua budidaya sekarang itu masih tradisional. Jadi mungkin saja dari sisi kuantitasnya banyak, tapi dari sisi kualitasnya tidak sesuai dengan permintaan internasional," katanya.

Karena itu, Sulsel membutuhkan investasi yang mencakup seluruh rantai usaha, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran produk. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk rumput laut bernilai tinggi dan memperkuat posisi Sulsel dalam rantai pasok global.

3. Dorong nilai tambah di daerah

ilustrasi rumput laut (freepik.com/Kireyonok_Yuliya)

Pemprov Sulsel berharap masuknya investor baru dapat mempercepat pengembangan industri rumput laut dari sektor hulu hingga hilir. Selain meningkatkan kualitas produksi, hilirisasi juga diharapkan dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi daerah.

Asrul mengatakan pengembangan industri pengolahan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah komoditas rumput laut di Sulsel. Dengan demikian, Sulsel tidak hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga sebagai daerah penghasil produk turunan rumput laut yang mampu bersaing di pasar internasional.

"Jadi kita berharap ada hulu ke hilirnya," kata Asrul.

Editorial Team

Related Article