Sosiolog Universitas Sawerigading (Unsa) Makassar, Adi Sumandiyar. (Dok. Istimewa)
Adi menjelaskan, tawuran antarkelompok tidak bisa dilepaskan dari solidaritas kelompok, pencarian pengakuan, dan upaya mempertahankan harga diri di kalangan anak muda. Dalam situasi tertentu, keterlibatan seseorang dalam konflik dapat menjadi cara untuk menunjukkan keberpihakan kepada kelompoknya sekaligus mempertahankan identitas bersama.
Fenomena tersebut, menurutnya, dapat dijelaskan melalui teori solidaritas sosial yang dikembangkan sosiolog Emile Durkheim. Ia menyoroti konsep anomi, yakni kondisi ketika norma sosial melemah atau tidak lagi efektif mengatur perilaku individu maupun kelompok.
"Bahwa melemahnya norma pada masyarakat modern atau kelompok dengan solidaritas organik (berbasis spesialisasi dan ketergantungan), kekerasan sering muncul akibat anomi, suatu kondisi ketika norma sosial melemah, hilang, atau gagal mengatur perilaku individu," ujarnya.
Menurut Adi, kelompok yang mengalami keterasingan sosial dapat membentuk solidaritas yang bertumpu pada kekerasan. Dalam kondisi tersebut, bentrokan tidak hanya menjadi cara melampiaskan amarah, tetapi juga sarana membangun identitas dan memperoleh pengakuan dari anggota kelompok.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa arena duel berpotensi memperkuat identitas kelompok yang selama ini terbentuk melalui kekerasan. Jika pertarungan difasilitasi sebagai jalan penyelesaian konflik, masyarakat dikhawatirkan menangkap pesan bahwa kekerasan merupakan tindakan yang sah.
"Alih-alih meredam amarah, arena duel justru menanamkan pola pikir bahwa kekerasan adalah solusi yang sah dan diakui oleh lingkungan sekitar. Ini yang disebut sebagai melegitimasi budaya kekerasan (subculture of violence)," jelasnya.
Adi juga menekankan pentingnya keterlibatan lembaga pendidikan dan keluarga dalam mencegah tawuran. Edukasi mengenai dampak kekerasan jalanan perlu diperkuat, termasuk dengan memperhatikan peredaran konten kekerasan di ruang digital yang dapat memengaruhi perilaku anak muda.