Pendataan kerusakan bangunan juga mengalami peningkatan seiring bertambahnya laporan dari daerah terdampak. Hingga saat ini, sedikitnya 67 unit rumah dilaporkan terdampak akibat gempa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 unit rumah mengalami rusak ringan, enam unit rusak sedang, dan 12 unit rusak berat. Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, serta satu ruas jalan provinsi penghubung Palu–Sigi–Poso yang mengalami amblas.
PSGS: Karakter Gempa M6,7 Sulteng Berbeda dengan Peristiwa 2018

- Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 berasal dari sistem sesar berbeda dengan peristiwa Palu 2018, menunjukkan kompleksitas deformasi tektonik di kawasan tersebut.
- Analisis PSGS mengaitkan gempa dengan aktivitas sesar Palolo-Sausu di timur Lembah Palu, berkarakter pergerakan turun dan tidak berpotensi tsunami, namun masih perlu kajian lanjutan.
- Satu warga meninggal dan ratusan terdampak akibat guncangan kuat yang memicu kerusakan bangunan serta potensi bahaya sekunder seperti longsor dan gempa susulan di wilayah terdampak.
Makassar, IDN Times – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) bukan sekadar mengingatkan publik pada bencana Palu 2018. Analisis awal Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) justru menunjukkan sumber gempa kali ini kemungkinan berasal dari sistem sesar berbeda, yakni koridor Palolo-Sausu di bagian timur Lembah Palu.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa deformasi tektonik di Sulawesi Tengah jauh lebih kompleks dari yang selama ini dipahami. Jika gempa Palu 2018 dipicu oleh pergerakan mendatar Sesar Palu-Koro, gempa terbaru ini diduga melibatkan mekanisme pergerakan turun dengan komponen ekstensional pada sesar aktif lain di kawasan tersebut.
1. Deformasi tektonik di Sulteng diakomodir sesar aktif lain

Direktur Pusat Studi Gempa Sulawesi, Ardy Arsyad, menjelaskan bahwa gempa terjadi pada pukul 11.27 WITA. Berdasarkan data USGS, episenter berada pada koordinat 1,117 derajat Lintang Selatan dan 120,199 derajat Bujur Timur dengan kedalaman hiposenter sekitar 10 kilometer atau sekitar 43 kilometer timur-tenggara Kota Palu.
Menurut PSGS, gempa ini tergolong gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang terjadi pada sistem sesar aktif di Sulawesi Tengah bagian utara. Solusi moment tensor USGS menunjukkan magnitudo Mww 6,69 dengan momen seismik sebesar 1,343 × 10¹⁹ Newton meter. Parameter bidang nodal menunjukkan orientasi sesar dengan strike sekitar 284°, dip 55°, dan rake -91°.
"Yang mengindikasikan dominasi mekanisme dip-slip dengan komponen ekstensional," kata Ardy dalam analisis awal PSGS yang dikutip, Rabu (17/6/2026) .
Temuan tersebut berbeda dengan Gempa Palu 28 September 2018 berkekuatan Mw 7,5 yang dipicu oleh pergerakan mendatar (strike-slip) pada Sistem Sesar Palu-Koro. PSGS menilai kondisi ini menjadi indikasi bahwa deformasi tektonik di Sulawesi Tengah tidak hanya diakomodasi oleh Palu-Koro, tetapi juga oleh sesar-sesar aktif lain dengan karakter ekstensional maupun transtensional.
2. Diduga berkaitan dengan koridor sesar Palolo-Sausu

PSGS mencatat distribusi gempa susulan yang muncul beberapa jam setelah gempa utama membentuk pola klaster memanjang dengan orientasi barat laut–tenggara (WNW-ESE). Pola tersebut relatif konsisten dengan salah satu bidang nodal hasil analisis mekanisme fokus.
Berdasarkan pola tersebut, panjang zona rupture diperkirakan mencapai 40–60 kilometer. Dimensi itu dinilai sesuai dengan hubungan empiris antara magnitudo gempa dan panjang patahan untuk gempa berkekuatan M6,7.
"Berdasarkan lokasi episenter, pola sebaran gempa susulan, serta orientasi bidang sesar yang diperoleh dari analisis mekanisme sumber, gempa ini diduga berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif pada koridor Palolo-Sausu yang terletak di bagian timur Lembah Palu," demikian keterangan PSGS.
Meski demikian, PSGS menegaskan identifikasi segmen sesar yang benar-benar mengalami rupture masih memerlukan kajian lanjutan. Analisis tersebut meliputi relokasi gempa susulan, pemodelan sumber gempa, deformasi ko-seismik berbasis InSAR, hingga survei geologi lapangan.
Sebelumnya, BMKG juga menyatakan gempa ini dipicu aktivitas sesar aktif dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault) dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
3. Longsor hingga gempa susulan masih perlu diwaspadai

Peta intensitas guncangan PSGS menunjukkan wilayah di sekitar episenter berpotensi mengalami intensitas MMI VII hingga VIII. Pada tingkat tersebut, bangunan non-rekayasa maupun konstruksi berkualitas rendah berisiko mengalami kerusakan ringan sampai sedang.
Laporan awal yang beredar melalui media sosial juga mengindikasikan adanya kerusakan bangunan, gangguan infrastruktur jalan, serta dugaan longsor di sejumlah lereng curam di wilayah Palolo dan sekitarnya. Namun, PSGS menekankan seluruh laporan tersebut masih memerlukan verifikasi lapangan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan satu warga meninggal dunia akibat gempa pada Selasa. Jumlah warga terdampak dan kerusakan bangunan masih terus bertambah seiring proses pendataan di lapangan. Hingga Selasa malam, tercatat 110 kepala keluarga (KK) atau 312 jiwa terdampak akibat bencana tersebut. Sebanyak 25 warga mengalami luka ringan dan 13 warga mengalami luka berat. Satu korban meninggal dunia dilaporkan berasal dari Kabupaten Sigi, wilayah dengan dampak paling besar.
Dari sudut pandang geoteknik dan kebencanaan, PSGS mengingatkan sejumlah potensi bahaya sekunder pascagempa yang perlu diwaspadai masyarakat. Ancaman tersebut meliputi longsor pada lereng curam, rockfall atau runtuhan batuan di tebing jalan, retakan permukaan pada zona sesar aktif, kerusakan infrastruktur transportasi dan utilitas, serta gempa susulan yang masih mungkin terjadi dalam beberapa hari hingga beberapa pekan ke depan.
PSGS merekomendasikan investigasi lapangan segera untuk mengidentifikasi kemungkinan deformasi permukaan, retakan tanah, longsoran terpicu gempa, serta kerusakan struktural bangunan dan infrastruktur. Data tersebut dinilai penting untuk memahami mekanisme sumber gempa sekaligus memperkuat strategi mitigasi bencana di Sulawesi Tengah.
"Saat ini tim Pusat Studi Gempa Sulawesi terus melakukan pemantauan perkembangan gempa susulan dan akan menyampaikan pembaruan analisis setelah tersedia data yang lebih lengkap dari BMKG, USGS, PUSGEN, dan hasil observasi lapangan," kata Ardy.
![[BREAKING] Kejati Sulsel Geledah Kantor Disdik soal Dugaan Korupsi Smart Library](https://image.idntimes.com/post/20260617/upload_a5b83f58efba52215d7944f6d280377c_ac56fa83-c2f2-4d90-90c1-8afb48df5f26_watermarked_idntimes-1.jpeg)
















