Sulut Masuk Puncak Musim Kemarau, Sejumlah Daerah Terancam Kekeringan

Sulawesi Utara memasuki puncak kemarau pada Agustus 2026, diperparah El Nino sangat kuat. Seluruh wilayah diprediksi tanpa hujan hingga September, dengan hujan diperkirakan kembali akhir Oktober.
Dumoga dan Motoling telah mengalami lebih dari 35 hari tanpa hujan. Sebagian besar wilayah Sulut berstatus siaga kekeringan meteorologi dan berpotensi meningkat menjadi awas pada Agustus.
Kekeringan mengurangi debit irigasi serta mengancam panen, termasuk lahan di Bolsel, Bitung, dan Minsel. Dinas mendorong pengajuan pompa air dan menunda distribusi bibit perkebunan.
Manado, IDNTimes - Awal Agustus 2026, Sulawesi Utara mulai memasuki puncak musim kemarau dan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Hal ini diungkapkan Kepala Stasiun Klimatologi Minahasa Utara, Aris Yunatas, Rabu (5/8/2026).
Aris menyebut bahwa bulan ini merupakan awal puncak musim kemarau bagi wilayah Sulut yang berlangsung sejak Mei 2026. Musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya karena ada fenomena El Nino.
"Saat ini E Nino memasuki fase sangat kuat pada Agustus-Oktober 2026," jelas Aris.
1. Tak ada hujan hingga September 2026

Akibat fenomena tersebut, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan akan menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah di Sulut. Pasalnya, hari tanpa hujan akan semakin panjang.
"Semua wilayah Sulut diprediksi tidak akan mengalami hujan pada Agustus-September 2026," tambah Aris.
Hujan baru akan terjadi pada Oktober akhir seiring beralihnya ke musim hujan. Meski begitu, Aris memperingatkan prediksi tersebut masih bisa bergeser lantaran masih ada El Nino.
2. Lebih dari sebulan tak hujan di sejumlah wilayah

Meski baru memasuki puncak musim kemarau, rupanya di sejumlah wilayah sudah tidak mengalami hujan selama lebih dari 35 hari. Hal itu terjadi di Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow dan Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan.
Di sisi lain, masih ada juga wilayah yang mengalami hujan. "Hanya di sebagian Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, tapi rentangnya sangat pendek dan curah hujannya rendah," tutur Aris.
Berdasarkan peringatan dini kekeringan meteorologi, sebagian besar wilayah Sulut berada dalam status Siaga. Namun, kemungkinan besar status tersebut akan naik ke awas di Agustus ini.
3. Indikasi gagal panen di sejumlah wilayah

Kepala Balai Perlindungan dan Pengujian Hortikultura, Nova Sumolang, mengatakan sejumlah wilayah dilaporkan mulai mengalami kekeringan. Misalnya saja Kecamatan Kaidipang dan Bolangitang Timur di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang debit air irigasinya sudah berkurang jauh.
Karena debit irigasi berkurang, petani juga terancam gagal panen. Hingga saat ini setidaknya 84 hektare lahan di Bolsel masuk kategori kekeringan ringan.
Di Bitung, 2 hektare tanaman jagung dipastikan gagal panen. "Di Minsel juga, 14,5 hektare tanaman jagung kekeringan," jelas Nova.
4. Usul bantuan pompa air

Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut telah mengeluarkan edaran agar kelompok tani di kabupaten/kota mengusulkan permintaan bantuan pompa air. Permohonan ini nantinya akan diteruskan ke pemerintah pusat agar bisa dimasukkan dalam bantuan cepat tanggap.
Selain itu, Dinas Perkebunan Sulut juga menunda penyaluran bibit kelapa, pala, kakao, dan sagu. "Bagi yang sudah dapat, ami imbau bibit disiram pagi dan sore. Tanamannya dirawat supaya tidak mati," terang Kepala UPTD BPTP Dinas Perkebunan Daerah Sulut, Jouke Kumendong.



















