Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gini Ratio Sulsel Naik Jadi 0,355, Ketimpangan Perdesaan Meningkat

Kota Makassar
Gini Ratio Sulsel Naik Jadi 0,355, Ketimpangan Perdesaan Meningkat
Ilustrasi pertanian (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
Intinya Sih
  • Gini Ratio Sulawesi Selatan pada Maret 2026 naik menjadi 0,355 dari 0,350 pada September 2025, tetapi masih di bawah rata-rata nasional 0,368.
  • Kenaikan ketimpangan provinsi dipicu perdesaan, dengan Gini Ratio naik dari 0,315 menjadi 0,332; sementara perkotaan turun dari 0,363 menjadi 0,360.
  • Dalam tren sejak Maret 2022, ketimpangan Sulsel cenderung membaik; kelompok 40 persen terbawah menerima 19,29 persen pengeluaran, kategori ketimpangan rendah menurut Bank Dunia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk yang diukur menggunakan Gini Ratio pada Maret 2026 sebesar 0,355. Angka tersebut naik dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,350, meski masih lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 0,363.

Kenaikan ketimpangan di tingkat provinsi terutama dipengaruhi meningkatnya ketimpangan di wilayah perdesaan. Sebaliknya, ketimpangan pengeluaran di wilayah perkotaan justru menunjukkan perbaikan dibandingkan enam bulan sebelumnya.

Secara nasional, Gini Ratio Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,368. Dengan nilai 0,355, tingkat ketimpangan di Sulawesi Selatan masih berada di bawah rata-rata nasional.

BPS juga mencatat terdapat tujuh provinsi dengan Gini Ratio lebih tinggi dibandingkan angka nasional, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Selatan, Papua, Gorontalo, dan Papua Barat. Sementara itu, Gini Ratio tertinggi tercatat di DKI Jakarta sebesar 0,435 dan yang terendah di Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,214.

1. Ketimpangan di desa menjadi penyebab kenaikan Gini Ratio

Gini ratio di Sulsel. (Dok. BPS Sulsel)
Gini ratio di Sulsel. (Dok. BPS Sulsel)

BPS mencatat Gini Ratio di wilayah perkotaan pada Maret 2026 sebesar 0,360. Angka tersebut turun dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,363 dan juga lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 0,373.

Berbeda dengan kondisi di perkotaan, ketimpangan pengeluaran di wilayah perdesaan justru meningkat. Gini Ratio perdesaan naik dari 0,315 pada September 2025 menjadi 0,332 pada Maret 2026, sehingga menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan ketimpangan di tingkat provinsi.

2. Dalam jangka panjang, ketimpangan Sulsel masih membaik

kemiskinan
ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Austin Garcia)

Jika melihat perkembangan sejak Maret 2022, ketimpangan pengeluaran di Sulawesi Selatan sebenarnya menunjukkan tren yang cenderung menurun meskipun mengalami fluktuasi. Gini Ratio tercatat sebesar 0,377 pada Maret 2022 dan sempat menyentuh titik terendah 0,350 pada September 2025.

Pada Maret 2026, Gini Ratio memang kembali naik menjadi 0,355. Namun, nilainya masih lebih rendah dibandingkan awal periode pengamatan sehingga secara umum pemerataan pengeluaran masyarakat dinilai lebih baik dibandingkan empat tahun lalu.

3. Menurut Bank Dunia, ketimpangan Sulsel masih tergolong rendah

Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan (unsplash.com/Khairul Akbar)
Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan (unsplash.com/Khairul Akbar)

Selain Gini Ratio, BPS juga menggunakan indikator distribusi pengeluaran kelompok 40 persen penduduk terbawah berdasarkan ukuran Bank Dunia. Pada Maret 2026, kelompok tersebut menikmati 19,29 persen dari total pengeluaran, sedikit lebih tinggi dibandingkan Maret maupun September 2025 yang sama-sama sebesar 19,24 persen.

Berdasarkan kriteria Bank Dunia, angka di atas 17 persen menunjukkan kategori ketimpangan rendah. Di wilayah perkotaan, distribusi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah mencapai 19,11 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 20,35 persen sehingga keduanya juga masuk kategori ketimpangan rendah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More