669 Ribu Penduduk Sulsel Miskin, Pengeluaran Terbesarnya Rokok

- BPS mencatat 669,63 ribu warga Sulawesi Selatan miskin pada Maret 2026, setara 7,24 persen penduduk; jumlahnya turun 28,50 ribu orang dibanding Maret 2025.
- Kemiskinan perkotaan turun menjadi 210,43 ribu orang, sementara perdesaan naik menjadi 459,20 ribu orang; garis kemiskinan mencapai Rp542.095 per kapita per bulan.
- Beras menjadi penyumbang utama garis kemiskinan, disusul rokok kretek filter; indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan membaik, tetapi kondisi perdesaan tetap lebih berat.
Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan pada Maret 2026 mencapai 669,63 ribu orang atau 7,24 persen dari total penduduk. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam enam tahun terakhir sekaligus melanjutkan tren penurunan kemiskinan yang berlangsung secara konsisten sejak Maret 2024.
Dibandingkan September 2025, jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 15,51 ribu orang. Sementara jika dibandingkan Maret 2025, jumlah penduduk miskin turun lebih besar, yakni 28,50 ribu orang dengan persentase kemiskinan turun dari 7,60 persen menjadi 7,24 persen.
1. Kemiskinan terus menurun sejak 2024

Perjalanan angka kemiskinan di Sulawesi Selatan menunjukkan tren yang membaik dalam beberapa tahun terakhir. Setelah sempat meningkat pada masa pandemi COVID-19 menjadi 800,24 ribu orang atau 8,99 persen pada September 2020, angka kemiskinan terus bergerak turun hingga mencapai 669,63 ribu orang pada Maret 2026.
Jika dibandingkan dengan Maret 2020, jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan telah berkurang sekitar 107,20 ribu orang. Persentase penduduk miskin juga turun 1,48 poin persentase, dari 8,72 persen menjadi 7,24 persen, yang menunjukkan perbaikan kondisi kemiskinan secara berkelanjutan terutama dalam tiga tahun terakhir.
Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sulawesi, Sulawesi Selatan masih menjadi daerah dengan jumlah penduduk miskin terbesar. BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan mencapai 669,63 ribu orang, lebih tinggi dibandingkan provinsi lain di kawasan tersebut.
Meski demikian, dari sisi persentase, Sulawesi Selatan bukan menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi. Persentase kemiskinan tertinggi berada di Provinsi Gorontalo sebesar 12,16 persen, sedangkan yang terendah berada di Sulawesi Utara sebesar 6,32 persen.
2. Kemiskinan di perkotaan turun, tetapi perdesaan justru meningkat

BPS mencatat garis kemiskinan di Sulawesi Selatan pada Maret 2026 mencapai Rp542.095 per kapita per bulan. Nilai tersebut meningkat 5,27 persen dibandingkan September 2025, terutama dipicu kenaikan komponen makanan yang tumbuh lebih cepat dibandingkan komponen bukan makanan.
Komponen makanan masih menjadi penyumbang terbesar dalam pembentukan garis kemiskinan. Di perkotaan, kontribusinya mencapai 73,07 persen terhadap garis kemiskinan, sedangkan di perdesaan mencapai 77,79 persen, sehingga perubahan harga pangan dinilai lebih berpengaruh terhadap pengeluaran minimum masyarakat miskin, terutama di wilayah desa.
Penurunan angka kemiskinan di tingkat provinsi ternyata tidak terjadi secara merata. Selama periode September 2025 hingga Maret 2026, jumlah penduduk miskin di wilayah perkotaan turun sebanyak 21,58 ribu orang menjadi 210,43 ribu orang.
Sebaliknya, jumlah penduduk miskin di wilayah perdesaan justru bertambah sebanyak 6,07 ribu orang sehingga mencapai 459,20 ribu orang. Persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 5,17 persen menjadi 4,65 persen, sedangkan di perdesaan naik dari 9,56 persen menjadi 9,72 persen.
3. Beras dan rokok menjadi pengeluaran terbesar penduduk miskin

Di antara berbagai komoditas makanan, beras masih menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan. Kontribusinya mencapai 23,02 persen di perkotaan dan 26,34 persen di perdesaan.
Setelah beras, rokok kretek filter menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar kedua, yakni 11,17 persen di perkotaan dan 12,23 persen di perdesaan. Nilai tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk sumber protein seperti telur ayam ras, ikan bandeng, maupun daging ayam.
Selain jumlah penduduk miskin yang menurun, BPS juga mencatat perbaikan pada indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 1,395 pada Maret 2025 menjadi 1,169 pada Maret 2026, sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun dari 0,347 menjadi 0,265.
Meski demikian, kondisi di wilayah perdesaan masih lebih berat dibandingkan perkotaan. Nilai P1 di perdesaan mencapai 1,628 dan P2 sebesar 0,374, lebih tinggi dibandingkan perkotaan yang masing-masing sebesar 0,690 dan 0,151. BPS juga mencatat bahwa selama September 2025 hingga Maret 2026, perbaikan kedua indeks lebih kuat terjadi di perkotaan, sementara di perdesaan justru masih menunjukkan peningkatan sehingga memerlukan perhatian lebih besar.



















